RIANA HELMI

by 3senyuman

Nestor Cara terbaik untuk meramal masa depan, yaitu menciptakannya.

(Peter F. Drucker, konsultan manajemen AS)

Luar biasa! Hanya kata itu yang tepat diucapkan untuk dr. Riana Helmi. Dalam usianya yang belum genap 18 tahun, tepatnya 17 tahun 11 bulan, remaja kelahiran Banda Aceh, 22 Maret 1991, itu diwisuda sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta,  19 Mei 2009 lalu.

Riana, demikian gadis berperawakan mungil itu akrab disapa, menyelesaikan kuliah dalam waktu 3 tahun 6 bulan dengan indeks prestasi kumulatif (IP) sangat memuaskan, yaitu 3,67. Karena prestasinya itu, Riana mendapat penghormatan khusus. Saat acara wisuda yang diselenggarakan di Gedung Pertemuan UGM Graha Sabha Pramana, Rektor UGM Soedjarwadi memintanya untuk berdiri. Dan hadirin yang hadir  memberikan tepuk tangan untuknya. Standing applause!

“Ya, alhamdulillah, saya bisa jadi wisudawan termuda,” ujar Riana, seusai acara wisuda itu. Nadanya terkesan biasa. Padahal, hei, ia bukan sekedar wisudawan termuda saat itu. Bukankah ia juga dokter termuda di Indonesia? Dan ia menyelesaikan pendidikan itu relatif lebih cepat dari mahasiswa kedokteran umumnya, yang usianya rata-rata 4 tahun lebih tua darinya. Dan dengan nilai yang tinggi pula.

Sungguh, itu bukan prestasi yang main-main. Bayangkan, ia masuk ke Fakultas Kedokteran UGM melalui jalur Penelusuran Bakat Skolastik (PBS) pada September 2005. Usia Riana saat itu masih 14 tahun lewat 3 bulan, atau setara dengan pelajar kelas II SMP umumnya. Coba bayangkan, saat teman-teman seusianya lagi centil-centilnya main, jalan-jalan di mal, jajan-jajan sambil nge-gosip, Riana sibuk bergelut dengan ilmu kedokteran yang rumit, anatomi, pathologi, farmakologi, dan lain-lain. Saat teman-teman seumurnya asyik cekakak-cekikik, SMS atau telepon-teleponan, Riana sibuk dengan buku-buku kedokteran yang umumnya tebal-tebal dan berbahasa asing.

“Kesulitan karena tugas sangat banyak sih ada, tapi syukurlah, semua bisa saya atasi,” katanya. Sebenarnya bukan sekedar sangat banyak tugas. Tapi juga sulit dan rumit. Lebih-lebih lagi, ia lebih muda 4 tahun, terkesan seperti anak-anak di tengah-tengah teman-temannya seangkatan. Tidakkah ia kesulitan? Riana mengaku suka gelisah, tapi akhirnya bisa melalui dengan selamat. Mental Riana sungguh tangguh.

Riana lahir dari pasangan Helmi dan Rofiah. Sang ayah seorang polisi berpangkat Ajun Komisaris, yang kini jadi perwira pendidik di Sekolah Polisi Lido, Sukabumi, Jawa Barat. Riana, yang menghabiskan masa kecil di Garut dan Sukabumi, memang dikenal cerdas sejak kanak-kanak. Usia 3 tahun ia sudah lancar membaca. Ia masuk SD pada usia sangat dini, 4 tahun. Toh begitu, selama di bangku SMP dan SMA, di Sukabumi, Riana selalu duduk di kelas akselerasi (percepatan).

Menurut sang ayah, sejak kecil, rasa ingin tahu Riana sangat besar. Dia tidak suka bermain boneka. Ia lebih gemar belajar daripada bermain. Meskipun tidak ada yang menyuruh, sebagian besar waktu luangnya dia isi dengan membaca. Hasilnya, yaitu tadi, ia lulus SMA dan diterima masuk fakultas kedokteran dalam usia 14 tahun.

Saat wisuda, dengan toga wisuda yang berwibawa. dan kacamata menghias wajah, Riana tetap tampak masih sangat muda, terkesan masih kekanakan, layaknya remaja yang seharusnya baru lulus SMA. Ya, kenyataannya ia sudah menyelesaikan pendidikan dokter dengan topik skiripsi mengenai kanker payudara.

Melihat sosoknya, terbayang  jalan yang terbuka lebar, nun jauh menuju  masa depan. Selain menjalani profesi sebagai dokter, Riana sudah memasang ancang-ancang, ingin memperdalam ilmu. Ia ingin mengambil pendidikan spesialis untuk meraih cita-citanya sebagai dokter spesialis kandungan.

Dalam usia amat belia, Riana telah berhasil memperjuangan hal yang sangat penting dan berguna dengan terang akal dan usahanya. Ia membuktikan, remaja  berprestasi hebat kalau mau kerja keras. Seperti dikatakakan Peter Drucker, memang cara terbaik untuk meramal masa depan, yaitu dengan menciptakannya. Dan Riana sudah melakukan. Proficiat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: