KARTINI sering sepi sendiri. Dalam usia yang kedua belas, gadis kelahiran Mayong itu terpaksa mendekam di rumah. Ia dipingit, tak boleh berhubungan dengan manusia lain. Maka, ia pun menghabiskan masa remajanya di balik keheningan tembok rumah Bupati Jepara.
Kasihan Kartini. Komunikasi dengan luar terputus, kegiatannya dibatasi. Pagi hari, mungkin ia hanya dapat merenung-renungkan nasibnya yang hendak dijadikan raden ayu, akan dinikahkan dengan seorang lelaki tak dikenal. Di malam hari, mungkin pula Kartini harus segera cuci kaki dan langsung tidur. Tidak ada istilah begadang bagi cucu Pangeran Ario Tjondronegoro itu, apalagi istilah bermalam minggu. Duh, Gusti, jagat rasanya gonjang-ganjing, tiada lagi terdengar kumandang Ginonjing.
Berbeda dengan kartini-kartini muda masa kini, jagat terasa lebih indah dan sumringah. Ginonjing di mana-mana, riuh rendah musik punk rock, hentak menghentak gaya Rap. Bahkan Tari Kejang pun sudah dicoba. Duh, Gusti benar-benar abracadabra. Mereka sudah jauh lebih bebas, termasuk dalam memilih pasangan, sudah boleh sekehendak sendiri. Karena jaman memang sudah berubah. Tak ada lagi tembok-tembok seperti milik sang Bupati. Malah, untuk berkomunikasi dengan seorang lelaki, mereka cukup dengan menekan tombol saja, “Brik, di sini saya, di situ siapa, ya?”
Pemancar radio telah memperlancar para kartini muda itu berhubungan dengan lelaki idamannya dan malah dengan siapa saja yang berkenan di hati. Mereka bergunjing, bercumbu, dan tiada sungkan begadang sepanjang malam. Mereka lupa waktu, lupa makan, lupa sekolah, dan sembahyang. Untuk sang lelaki idaman, tiada segan-segan mereka meninggalkan segala-galanya, termasuk kekasih yang telah ada!
Diana Runtu, umpama, sejak memiliki pemancar, selalu getol di udara. Suatu malam, gadis manis ini berkenalan dengan seorang pemuda bernama Inu. Dan, “Entah mengapa,” kata Diana, “dari pertama kali mendengar suaranya perasaan saya sudah selangit ‘wah’, udah terbayang kalau pojokan (teman bercumbu, pen.) saya pasti ganteng, apalagi dia bilang kalau masih sawahan (sekolah, pen.)…walah…walah.”1
Diana benar-benar terpesona. Akibatnya, meski saat itu ia telah memiliki seorang kekasih, acara perkenalan dengan Inu dilanjutkannya juga menjadi jalur asmara. Setiap malam, seusai TVRI, Diana bersama si Inu selalu saling menyapa “Yang”.
Kartini mungkin keheran-heranan melihat gejala alam ini. Apalagi, jika makhluk yang dicintai di udara adalah seorang lelaki tak dikenal, keheran-heranannya tentu semakin mendalam. “Cinta, apakah yang kami ketahui tentang perkara cinta itu? Betapa kami akan mungkin sayang akan seorang laki-laki dan seorang laki-laki kasih akan kami, kalau kami tiada berkenalan …,” tulisnya kepada nona Zeehandelaar, Jepara, 25 Mei 1899.
Kartini agaknya benar. Namun, apalah artinya keluhan itu? Sekali lagi, jaman memang sudah berubah. Pertemuan, cinta, dan perpisahan dapat saja berlangsung di udara walau tanpa bertatap muka. Interaksi dengan dunia luar menjelang akhir abad 20 ini telah dipermudah dengan pemancar radio.
Marshall McLuhan dalam Understanding Media, The Extension of Man, mengingatkan, setiap medium dapat menjadi perpanjangan indera manusia.2 Televisi adalah perpanjangan mata dan telinga. Dan, sudah tentu, kini, pemancar radio telah menjadi perpanjangan telinga, sekaligus mulut kita.
Karena itu, ide-ide Kartini sekarang menghadapi tantangan yang berat. Konsekuensi sosial dan personal pemancar radio, tanpa sadar, mengakibatkan para Kartini muda itu telah memingit diri sendiri di kamar masing-masing. Pemancar radio telah mengubah jadual dan pola kehidupan mereka. Malam menjadi siang dan siang menjadi malam.
Dulu, ketika Kartini menjalani pingitan di biliknya yang tiada begitu lapang, hatinya sangat tersayat karena ia merasa dipaksa. Padahal, ia ingin sekali bebas dan sekali lagi bebas dari kungkungan adat itu. Ia ingin menimba ilmu sebanyak-banyak dan sedalam-dalamnya. Ia sadar, masih banyak yang belum diketahui untuk memajukan diri dan seluruh bumi putera, khususnya kaum perempuan.
Untung, untuk melepaskan rasa sepi selama dikarantina orang tuanya, ia menemukan jalan yang baik. Dan, sekali lagi, untung saat itu belum ada pemancar radio. Kartini memilih surat sebagai medium untuk mengungkapkan kegelisahan, cinta, kesunyian, dan jalan pikirannya.
Surat-surat Kartini menunjukkan, ia sangat tegas menentang adat meski mengetahui adat itu tak gampang diubah. Kepada Nona Zeehandelaar, 23 Agustus 1900, ia juga menulis, “Selama ini, hanya satu jalan terbuka bagi gadis bumi putera akan menempuh hidup: kawin.” Dan, hal ini jelas disadarinya betul, namun, ia tidaklah mau pasrah begitu saja.
Sikap ini diperlihatkannya dalam surat terdahulu, 25 Mei 1899, “Ingin benar hati saya berkenalan dengan ‘seorang gadis modern’, gadis yang berani yang sanggup tegak sendiri, gadis yang saya sukai dengan jantung hati saya, anak gadis yang melalui jalan hidupnya dengan langkah yang tangkas, dengan riang suka hati, tetap gembira dan asyik, yang berdaya upaya bukan hanya untuk keselamatan bahagia dirinya sendiri saja, melainkan juga untuk masyarakat yang luas besar itu, yang ikhtiarnya pun akan membawakan bahagia kepada banyak sesamanya manusia.”
Kartini menulis dan mengirimkan surat itu secara pribadi kepada Nona Zeehandelaar di negeri Bunga Tulip, Belanda. Namun, kartini-kartini muda tentu dapat membaca goresan penanya di masa kini dan di masa mendatang. Mereka, mudah-mudahan dapat memahami bagaimana seharusnya seorang perempuan mesti bersikap dan bertindak.
Kalau mereka masih memilih jalan hidup seperti sekarang, kita tentu segera kehilangan gadis-gadis modern yang gesit dan tangkas seperti yang diharapkan Kartini. Bagaimana mungkin ditemukan gadis-gadis seperti itu jika ternyata mereka lebih banyak mengurung diri di kamar, masuk sekolah dengan mata merah, pekerjaan rumah terbeng kalai, kepala pusing penuh soal asmara, bercumbu dengan laki-laki tak dikenal, dan setiap malam begadang, ngebrik di udara ?
Barangkali, sekali lagi, andai saja Raden Ajeng itu tahu ulah gila para kartini muda yang memiliki pemancar radio kini, tentu ia akan kecewa atau malah keheran-heranan. Kok, para gadis modern itu dikuasai teknologi. Mbok, ya mereka dong yang seharusnya menguasai.
Tapi, yah, sebagai mana Kartini dahulu melawan adat, perilaku para kartini muda kini pun adalah suatu perlawanan. Teknologi, secanggih apa pun, hanya sekedar alat. Dan setiap alat di mana pun dan kapan pun akan melahirkan penyimpangan-penyimpangan. Bedanya, dahulu Kartini menggunakan surat, kini anak cucunya menggunakan pemancar radio.
Kasihan Kartini, jaman memang telah berubah.
- Seluruh hal tentang Kartini dan kutipan surat-suratnya berasal dari karya R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, terj., Armijn Pane, Balai Pustaka, Jakarta, 1990. 1.
- Diana Runtu, “Akibat Jalur Asmara,” Idola, 1-15 Oktob¬er 1988. 2.
- Marshall McLuhan, Understanding Media, The Extension of Man, A Mentor Book, New York, USA, 1964, h. 23.

KAMI BANGGA DENGAN JEPARA YANG MELAHIRKAN KARTINI,,, SMG PENERUS DI JEPARA MAKIN BERJAYA ,,, SALAM AHMAD JOGJAKARTA 087860801594