NAMA saya George. Kalau kamu lupa, saya ingin mengingatkan. Waktu itu, kamu sedang menghidupkan pesawat pemancar. Meniup-niup mikrofon. Saya langsung masuk ke frekuensimu. Kamu saya panggil-panggil dan saya ingat, kamu tidak menggubris kedatangan saya. Masih saja meniup-niup mikrofon.
Saya jengkel, untung baru selesai sholat. Saya geregetan. Ya, Tuhan, gadis macam apa pula ini?
Saya panggil-panggil lagi kamu. Lagi dan lagi. Sampai entah mengapa, tiba-tiba saja kamu menanggapi panggilan saya.
“Hai,” sapamu singkat, “Siapa?”
“George, ini George. Roger,” cepat saya menjawab, “di situ siapa?”
Kamu juga menyebutkan nama. Dinar. Namamu Dinar. Dan, kita lantas semakin asyik berbicara. Senang hati saya. Pam di dam di dam.
Sekitar seperempat jam kemudian, kamu mohon diri, “George, kita berhenti dulu, ya. Aku belum mandi dan perut lagi keroncongan. Habis makan, ketemu di sini lagi, ya?. Roger….”
Saya, walau masih belum puas mengobrol dengan kamu, hanya bisa bilang, “Ya. Saya tunggu kamu.”
Saya betul-betul menunggu. Lama betul. menjelang dua jam, akhirnya, kamu muncul. Kita contact lagi. mengobrol lagi. Senang lagi.
Saya sungguh senang mendengar suara kamu. Saya senang tutur katamu. Pelahan-lahan bercerita, tertawa-tawa mengolok, dan setengah mendesah ketika ngedumel.
Kita bercerita ke sana-sini. Ada perasaan aneh yang tidak saya mengerti ketika saya mendengar penuturan mu. Apalagi, ketika kamu mengatakan telah memiliki seorang pacar. Dada saya menjadi deg deg.
Namun, saya tidak peduli. Apakah ceritamu benar atau bohong, yang jelas saya terpesona ketika mendengar kamu masih kuliah dan sambil bekerja. Kamu mengaku kerja di Pasar Raya. Terus terang saya suka. Saya suka caramu berterus terang. Meski hanya sebagai penjaga pakaian anak-anak di sana, kamu katakan juga !
Jangan heran. Sungguh, itu perasaan saya yang sesungguhnya. Saya suka dengan seorang gadis yang percaya diri. Lebih suka lagi kalau kamu sedang mempermainkan kukumu. Tik. Tik. Tik. Dan, mungkin tanpa kamu sadari, saya kadang kala, menjadi terdiam bila mendengar suara itu. Suara yang mengundang saya untuk melamunkan jemarimu yang lentik.
Waktu hampir dini hari, ketika kamu mulai kehabisan cerita, tentu kamu masih ingat ketika saya bertanya, “Dinar, kamu cewek, kan? Kalau saya boleh nanya, kamu ‘kan punya cowok. Kalau dia tahu kamu lagi ngebrik begini, apa dia nggak cemburu?”
“Cemburu? Wah, jangan coba-coba. Kalau nggak suka, berarti dia nggak percaya sama saya. Karena, kalau habis ngebrik dan kenal sama cowok lain, termasuk kenal kamu, saya selalu cerita, kok sama dia. Jadi saya sudah bilang duluan.”
“Jadi dia tahu saya ngebrik dengan kamu setiap malam?”
“Roger, gitu.”
Lagi dan lagi saya jadi suka dengan caramu. Saya suka dengan caramu berterus-terang kepada pacarmu. Meski ada perasaan perih dan iri dengan keterusteranganmu itu. Alangkah bahagianya pria yang mendapatkan dirimu.
Tapi, saya tidak peduli. Pokoknya, sampai pagi pun saya mau mojok sama gadis macam kamu. Sekali lagi perlu saya katakan, saya suka dengan cara kamu berterus terang. Akhirnya, kita benar-benar mojok. Akhirnya, saya tambah berani.
Kita semakin akrab. Saya berukur dapat bertemu gadis sepeÐerti kamu. Tapi, saya juga kecewa, mengapa saya hanya mengenal suaramu? Kita hanya dapat saling membayangkan, rambutmu lurus, rambutku keriting. Kulitmu putih, Kulitku coklat. Tinggimu sekitar 160 Cm, tinggiku sekitar 170 Cm. Tubuhmu kurus, tubuhku sangat kurus.
Karena itu, saya jadi ingin ketemu kamu. Tapi, jawabmu selalu mengecewakan, “Aku jelek, George. Nanti, kamu menyesal kalau tahu yang sebenarnya.” Dan, kamu selalu bilang, “Jangan. Nanti saja. Belum waktunya.”
Akhirnya, saya hanya dapat membayangkan. Hanya dapat membayangkan. Saya jadi mengarang-ngarang tentang dirimu menurut khayalan saya.
Dinar, minggu lalu, hari Valentine. Hari kasih sayang. Saya ingin merayakannya bersama kamu. Saya telah menyiapkan kado untukmu. Tapi, semuanya tidak mungkin. Dan sampai kini, rasa-rasanya tetap tidak mungkin.
Kamu masih ingat, di saat kita saling bercanda, ketika mulai coba-coba merayu. Jam empat dini hari saat itu, ketika kamu tidak mau berpisah, tiba-tiba saja pesawat pemancarmu mati. Saya kebingungan. Apa yang telah terjadi?
Saya memanggil-manggil namamu. Saya tunggu kamu. Saya memanggil-manggil lagi. Tidak on the air. Sampai seperempat jam kemudian, sebuah sinyal hadir di frekuensi. Saya senang sekali. Saya pikir kamu. Ternyata tidak. Malah, yang terdengar sebuah suara keras, membentak-bentak, menyebut namamu.
“Eh, jangan macam-macam lagi, ya! Jangan ganggu pembantu kami. Setiap malam diajak ngebrik. Sama-sama tidak tahu diri. Dia namanya Jajah saja mengaku Dinar. Kamu mengaku George. Aslinya siapa?
Dengar, nggak?
Saya majikannya! Jangan macam-macam!
Pemancar saya bukan untuk pacaran…”
Saya terpana. Saya biarkan orang itu menggerutu. Sesuka hatinya. Saya tidak percaya. Sungguh, saya tidak percaya pada apa yang dikatakannya. Sejuta tanya berputar di benak saya.
Tapi, saya diam saja. Mendengarkan tidak, tidak mendengarkan juga tidak. Saya tetap terpana. Sampai akhirnya ia berhenti sendiri.
Sungguh, Dinar. Terus-terang, saya tidak peduli dengan omongan orang itu. Tapi, mengapa sejak itu saya tidak pernah mendengar suaramu lagi? Kamu kemana? Mengapa perpisahan kita harus seperti itu?
Kalau kamu memang bukan pembantu, hadirlah. Saya ingin kamu membantah fitnah itu. Namun, kalaupun kamu seorang pembantu, apa salahnya? Saya siap menerimamu. Tidak apa-apa. Yang penting, kamu muncul. Perdengarkan suaramu, Dinar.
Saya kangen. Saya sudah mencari-cari kamu di semua frekuensi, tapi kamu tidak pernah aya temui. Kenapa harus begini? Kamu seharusnya tidak perlu begini.
Tapi, sudahlah. Yang perlu kamu ketahui, saya sangat mengerti dengan keadaan dan perasaanmu. Bagi saya, kamu tetap Dinar sebagai mana yang saya bayangkan. Dinar yang kurus, berambut lurus, berkulit putih, dan tinggi 160 Cm. Kamu tetap Dinar yang bekerja di Pasar Raya, Dinar yang masih kuliah. Dinar yang tetap saya sukai. Ya, saya tetap suka dengan caramu berterus terang, Dinar.

0 Responses to “INTERLUDE BUAT DINAR”