<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>TIGA SENYUMAN</title>
	<atom:link href="http://3senyuman.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://3senyuman.wordpress.com</link>
	<description>Komunikator, Komunikan, Komunikasi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Mar 2011 19:36:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='3senyuman.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/7866136eb2aa41e1b05a802981401869?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>TIGA SENYUMAN</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://3senyuman.wordpress.com/osd.xml" title="TIGA SENYUMAN" />
	<atom:link rel='hub' href='http://3senyuman.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>INTERLUDE BUAT DINAR</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com/2010/08/22/interlude-buat-dinar/</link>
		<comments>http://3senyuman.wordpress.com/2010/08/22/interlude-buat-dinar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 05:58:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Radio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://3senyuman.wordpress.com/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[NAMA  saya  George. Kalau kamu  lupa,  saya  ingin  mengingatkan. Waktu itu, kamu sedang menghidupkan pesawat pemancar.  Meniup-niup mikrofon. Saya langsung  masuk  ke  frekuensimu.  Kamu saya panggil-panggil dan saya ingat, kamu tidak menggubris kedatangan saya. Masih saja meniup-niup mikrofon. Saya  jengkel,  untung baru selesai  sholat.  Saya geregetan. Ya, Tuhan, gadis macam apa pula ini? Saya  panggil-panggil  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=367&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">NAMA  saya  George. Kalau kamu  lupa,  saya  ingin  mengingatkan. Waktu itu, kamu sedang menghidupkan pesawat pemancar.  Meniup-niup mikrofon. Saya langsung  masuk  ke  frekuensimu.  Kamu saya panggil-panggil dan saya ingat, kamu tidak menggubris kedatangan saya. Masih saja meniup-niup mikrofon.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya  jengkel,  untung baru selesai  sholat.  Saya geregetan. Ya, Tuhan, gadis macam apa pula ini?</p>
<p><span id="more-367"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Saya  panggil-panggil  lagi kamu. Lagi  dan  lagi. Sampai  entah  mengapa, tiba-tiba  saja  kamu  menanggapi  panggilan saya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hai,” sapamu singkat, “Siapa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“George, ini George. Roger,” cepat saya  menjawab, “di situ siapa?”</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu juga menyebutkan nama. Dinar. Namamu  Dinar. Dan,  kita  lantas semakin asyik berbicara.  Senang  hati   saya. Pam di dam di dam.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekitar seperempat jam kemudian, kamu mohon diri, “George, kita  berhenti dulu, ya. Aku  belum  mandi  dan  perut lagi keroncongan. Habis makan, ketemu di sini lagi, ya?. Roger&#8230;.”</p>
<p style="text-align:justify;">Saya, walau masih belum puas mengobrol dengan kamu, hanya bisa bilang, “Ya. Saya tunggu kamu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Saya  betul-betul menunggu. Lama betul.  menjelang dua jam, akhirnya, kamu muncul. Kita contact lagi. mengo­brol lagi. Senang lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya  sungguh  senang mendengar suara  kamu.  Saya senang  tutur katamu. Pelahan-lahan bercerita, tertawa-tawa mengolok, dan setengah mendesah ketika ngedumel.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita bercerita ke sana-sini. Ada perasaan aneh yang tidak saya mengerti ketika saya mendengar penuturan­ mu. Apalagi, ketika kamu mengatakan telah memiliki  seor­ang pacar. Dada saya menjadi deg deg.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun,  saya tidak peduli. Apakah  ceritamu  benar atau  bohong, yang jelas saya terpesona ketika  mendengar kamu masih kuliah dan sambil bekerja. Kamu mengaku  kerja di  Pasar Raya. Terus terang saya suka. Saya suka caramu berterus terang. Meski hanya sebagai  penjaga  pakaian  anak-anak di sana, kamu katakan juga !</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan  heran.  Sungguh, itu  perasaan  saya  yang  sesungguhnya. Saya suka dengan seorang gadis yang percaya diri.  Lebih  suka lagi kalau kamu sedang  mempermainkan  kukumu.  Tik. Tik. Tik. Dan, mungkin tanpa  kamu  sadari, saya  kadang kala, menjadi terdiam bila  mendengar  suara   itu. Suara yang mengundang saya untuk melamunkan jemarimu yang lentik.</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu hampir dini hari, ketika kamu mulai  kehabi­san cerita, tentu kamu masih ingat ketika saya  bertanya,  “Dinar,  kamu  cewek, kan? Kalau saya boleh  nanya,  kamu ‘kan punya cowok. Kalau dia tahu kamu lagi ngebrik  begi­ni, apa dia nggak cemburu?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Cemburu? Wah, jangan coba-coba. Kalau nggak suka, berarti dia nggak percaya sama saya. Karena, kalau  habis  ngebrik  dan kenal sama cowok lain, termasuk kenal  kamu,   saya selalu cerita, kok sama dia. Jadi saya sudah  bilang  duluan.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jadi  dia  tahu saya ngebrik dengan  kamu  setiap malam?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Roger, gitu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lagi  dan lagi saya jadi suka dengan caramu.  Saya suka dengan caramu berterus-terang kepada pacarmu. Meski ada perasaan perih dan iri dengan keterusteranganmu  itu. Alangkah bahagianya pria yang mendapatkan dirimu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, saya tidak peduli. Pokoknya, sampai pagi pun  saya  mau mojok sama gadis macam kamu. Sekali lagi  perlu  saya katakan, saya suka dengan cara kamu berterus terang. Akhirnya,  kita benar-benar mojok. Akhirnya, saya  tambah berani.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita semakin akrab. Saya berukur dapat  bertemu gadis sepeÐerti kamu. Tapi, saya juga kecewa, mengapa  saya  hanya  mengenal  suaramu? Kita hanya  dapat  saling  mem­bayangkan,  rambutmu  lurus, rambutku  keriting.  Kulitmu putih, Kulitku coklat. Tinggimu sekitar 160 Cm,  tinggiku sekitar 170 Cm. Tubuhmu kurus, tubuhku sangat kurus.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu, saya jadi ingin ketemu kamu. Tapi, jawabmu selalu mengecewakan, “Aku jelek, George. Nanti, kamu menyesal kalau tahu yang  sebenarnya.”  Dan,  kamu  selalu bilang, “Jangan. Nanti saja. Belum waktunya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, saya hanya dapat membayangkan. Hanya dapat  membayangkan. Saya jadi mengarang-ngarang  tentang  dirimu menurut khayalan saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dinar,  minggu  lalu, hari Valentine.  Hari  kasih  sayang. Saya ingin merayakannya bersama kamu. Saya  telah  menyiapkan  kado untukmu. Tapi, semuanya  tidak  mungkin.  Dan sampai kini, rasa-rasanya tetap tidak mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu  masih ingat, di saat kita  saling  bercanda,  ketika  mulai coba-coba merayu. Jam empat dini hari  saat  itu,  ketika  kamu  tidak mau  berpisah,  tiba-tiba saja  pesawat pemancarmu mati. Saya kebingungan. Apa yang telah  terjadi?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya memanggil-manggil namamu. Saya tunggu kamu. Saya  memanggil-manggil lagi. Tidak on the air. Sampai seperempat jam kemudian, sebuah sinyal hadir di  frekuen­si. Saya senang sekali. Saya pikir kamu. Ternyata tidak. Malah, yang  terdengar sebuah  suara  keras,  membentak-bentak, menyebut namamu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh,  jangan macam-macam lagi, ya!  Jangan  ganggu pembantu  kami. Setiap malam diajak  ngebrik. Sama-sama tidak  tahu diri. Dia namanya Jajah saja  mengaku  Dinar.  Kamu mengaku George. Aslinya siapa?</p>
<p style="text-align:justify;">Dengar, nggak?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya majikannya! Jangan macam-macam!</p>
<p style="text-align:justify;">Pemancar saya bukan untuk pacaran&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">Saya  terpana. Saya biarkan orang itu  menggerutu. Sesuka  hatinya. Saya tidak percaya. Sungguh, saya  tidak   percaya pada apa yang dikatakannya. Sejuta tanya berputar  di benak saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi,  saya diam saja. Mendengarkan  tidak,  tidak mendengarkan  juga  tidak.  Saya  tetap  terpana.  Sampai  akhirnya ia berhenti sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh,  Dinar. Terus-terang,  saya  tidak  peduli  dengan  omongan orang itu. Tapi, mengapa sejak  itu  saya tidak pernah mendengar suaramu lagi? Kamu kemana? Mengapa perpisahan kita harus seperti itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau  kamu memang bukan pembantu, hadirlah.  Saya ingin  kamu  membantah fitnah itu. Namun, kalaupun kamu seorang  pembantu,  apa salahnya? Saya siap menerimamu. Tidak  apa-apa. Yang penting, kamu  muncul. Perdengarkan suaramu, Dinar.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya kangen. Saya sudah mencari-cari kamu di semua frekuensi,  tapi  kamu tidak pernah  aya  temui.  Kenapa harus begini? Kamu seharusnya tidak perlu begini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi,  sudahlah.  Yang perlu  kamu  ketahui,  saya   sangat mengerti dengan keadaan dan perasaanmu. Bagi saya,    kamu tetap Dinar sebagai mana yang saya bayangkan.  Dinar  yang  kurus, berambut lurus, berkulit putih,  dan  tinggi 160  Cm.  Kamu tetap Dinar yang bekerja  di  Pasar  Raya, Dinar yang masih kuliah. Dinar yang tetap saya sukai. Ya, saya tetap suka dengan caramu berterus terang, Dinar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/3senyuman.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/3senyuman.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/3senyuman.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/3senyuman.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/3senyuman.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/3senyuman.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/3senyuman.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/3senyuman.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/3senyuman.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/3senyuman.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/3senyuman.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/3senyuman.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/3senyuman.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/3senyuman.wordpress.com/367/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=367&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://3senyuman.wordpress.com/2010/08/22/interlude-buat-dinar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c458077a6deb4cc9fb50d6e7fd7319e0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">3senyuman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MADONNA</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com/2010/05/26/madonna/</link>
		<comments>http://3senyuman.wordpress.com/2010/05/26/madonna/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 23:44:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Radio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://3senyuman.wordpress.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[DARI Lokal Orari Kemayoran, ia melangkah perlahan. Lalu, dengan gerak yang seolah hendak memamerkan kejenjangan lehernya, ia berdiri di depan saya. Sejenak saya terpesona. Ada sesuatu yang terasa bergeletar di dada. Ada sesuatu yang terasa bergelora di sana. Sesuatu yang indah. Indah. Ya, Sejak pertama kali saya mengenal geraknya itu, dulu, ia memang telah menitipkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=343&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">DARI Lokal Orari Kemayoran, ia melangkah perlahan.  Lalu,  dengan gerak yang seolah hendak memamerkan  kejenjangan lehernya, ia berdiri di depan saya. Sejenak  saya terpesona. Ada sesuatu  yang  terasa  bergeletar di dada. Ada sesuatu yang terasa bergelora  di  sana. Sesuatu yang indah. Indah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, Sejak pertama kali saya mengenal geraknya itu, dulu, ia memang telah menitipkan suatu perasaan  tersen¬diri di batin saya. Suatu perasaan  yang  selalu  saya  biarkan sebagai mana harusnya. Perasaan yang mungkin  ada  dan mungkin juga tiada.</p>
<p><span id="more-343"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“Mau ngapain ke sini?” sapanya mengejutkan, “mau mengedaftar ikut ujian?”</p>
<p style="text-align:justify;">Saya menggeleng.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lantas?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ng,  cuma mau ketemu sama pak  Tumenggung,  ketua lokal.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh, kayaknya lagi nggak ada, tuh,” jelasnya, “dan  kamu,  ng&#8230;.,  kok,  udah lama nggak  ke  kibek?   Lagi  krodit,  ya?  Kenapa  nggak kirim  QSL aja? Benar-benar terlalu, deh. Padahal, papi nanyain kamu terus, lho. Eh, kok manteng kayak sinyal?”<br />
Saya tersenyum, hanya sesaat. Lalu, dengan  segera saya melangkah tanpa mengucap sepatah kata pun.</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh, kenapa?”</p>
<p style="text-align:justify;">Saya terus melangkah. Maaf, batin saya. Apa  boleh  buat.  Ini  bukan untuk pertama kali. Sejak dulu. Sejak dulu. Jika ia bertutur seperti itu, saya memang segera akan pergi meninggalkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak dulu. Sejak dulu. Tutur katanya yang  selalu disertai  dengan  aneka ragam istilah yang digunakan di udara itu sungguh menjengkelkan. Ada sesuatu yang menje¬mukan  di  sana. Sesuatu yang mencemaskan. Sesuatu yang sejak dulu telah melahirkan perasaan tersendiri di  batin saya  : dia adalah penggemar pemancar yang melihat  dunia  hanya dari satu sudut.</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis  itu— sebut saja Madonna —— memang  satu dari  sekian  ribu pemilik pemancar  yang  alamnya  lekat    hanya  pada  satu perspektif.  Dalam  persepsinya,  dunia  bagaikan  sebuah  organisasi pemancar radio raksasa dan setiap  penghuni  adalah anggota. Tak  aneh kalau semua manusia dianggapnya memahami istilah kibek, krodit, QSL, sinyal, dan sebagainya dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu, tak aneh pula kalau berbincang-bincang  dengan  keluarga  atau  tetangga atau  para  sahabat  dan  sebagainya  dan  sebagainya, istilah-istilah tersebut digunakan Madonna tanpa merasa jengah. Ia tidak  memahami  sama  sekali  bahwa istilah-istilah itu  sebaiknya  hanya  untuk di udara.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, yang agak parah, jika dunia dan penghuninya sudah pula dipersamakan dengan hal-hal yang berhubungan dengan teknis  penggunaan pemancar radio. Orang  sedang marah,  umpama, sering dianalogikan dengan  kata SWR-nya  lagi  tinggi.  Orang  kurus,  kadang  kala, dipersamakan dengan  jenis  antena Yagi. Dan, saya  yang diam  ketika mendengar Madonna berceloteh tadi, yah lumrah saja kalau  disebutnya  manteng  kayak sinyal. Bahkan, dulu,  ketika pertama  kali  ia menyalami saya, dengan  serius  Madonna  berkata, “Lho, tanganmu, kok bergetar kayak power?”</p>
<p style="text-align:justify;">Saya ingat itu. Saya ingat itu. Sekali, dua kali, ucapan semacam itu memang tak apa-apa. Seorang, dua orang  ataupun sepuluh Madonna berucap seperti itu, masih dapat dianggap lumrah. Namun, kalau hampir setiap kali, di mana-mana, dan hampir setiap pemilik  pemancar  bertutur begitu, hal ini tentu melahirkan masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangkan, andai Anda seorang penggemar  pemancar radio, bersua dengan seorang ahli kimia lantas ia mengko¬munikasikan  pikiran dan perasaan dengan istilah-istilah dari dunianya, hal ini tentu menjemukan. Apalagi sean¬dainya Anda diandai-andaikannya  seperti  CO2NH3  atau   barang  kali  sejenis sisa  asam  atau  senyawa-senyawaan  lain, Anda akan tiba pada suatu titik ambang kesabaran  : diam, frustasi atau segera pergi meninggalkannya. Kecewa.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga yang terjadi bila Anda sebagai pengge¬mar pemancar radio mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan menggunakan istilah-istilah di udara, orang  lain dapat frustasi atau segera pergi  meninggalkan Anda. Apalagi,  bila setiap orang pun, lalu  dianggap  memiliki perasaan yang sama dengan perasaan Anda. Pada titik ini,  meminjam istilah ahli jiwa Sigmund Freud, terjadi proyeksi.1</p>
<p style="text-align:justify;">Kerap  kali,  penggemar  pemancar  radio  bertutur  terus  dan  bertutur terus tentang suka dukanya selama  beravonturir  di udara, menceritakan dunia di atas sana. Kalau  cerita  tentang dirinya sedih, ia berpikir  bahwa orang lain pun akan sedih. Kalau ceritanya gembira,  ia  berpikir orang lain pun akan gembira. Padahal, menyedih¬kan, orang lain yang mendengarkan ceritanya tahu pun belum tentu mengenai pemancar radio.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu, penggemar pemancar yang melihat dunia hanya dari sudutnya boleh disebut picik. Ia tidak memili¬ki  pandangan  luas.  Mata batinnya tak dilayangkan  ke segala  arah  menjelajah cakrawala. Ia  kurang mempunyai  pengalaman. Ia tak dapat bertutur tentang dunia  lukisan, dunia sastera, alam tari, dan dunia-dunia lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab itu, dunianya tak bervariasi. Segala sesuatu  hanya  diungkapkan  dari sudut pandang  sendiri.  Ia  tak  dapat  membeda-bedakan  situasi.  Tidak dapat menangkap detail.  Dunianya  tanpa diferensiasi. Semua  sama mirip ikan berenang di air : di mana-mana hanya melihat air dan air. Alamnya sangatlah epilepticus .Coraknya  terbatas,  tak  mampu mengabstraksi isi dari hal-hal yang lahiriah dan kurang sanggup  memberi bentuk  kepada  hidup  yang  membutuhkan  ekspresi. Tidak ada intuisi dan ia  tak mu¬ngkin ikut merasakan serta tak mungkin ikut mengalami apa yang dirasakan dan dialami orang lain.2</p>
<p style="text-align:justify;">Persis  Madonna.  Ia tak memiliki empati.  Ia  tak mengerti  perasaan  saya. Meski telah  berulangkali  saya  tunjukan  sikap  tak senang kepada  dirinya  setiap  kali menggunakan  “satu sudut” dalam setiap bertutur kata,  ia masih tetap dengan gaya dunianya.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena  itu  perlu saya tegaskan,  alam  kehidupan  Madonna memang sungguh dangkal, kasar, binal, dan  primi¬tif. Kulit jiwanya sangat tebal, statis, tidak bergerak, tidak sensitif, visceus, dan hanya melekat pada  lingkun¬gan sendiri.3 Nah, itu saja. Terus-terang, saya  tiada sanggup melanjutkan kata-kata. Bagaimanapun, sebelum meninggalkan  Lokal Orari Kemayoran malam itu, masih sempat ia melang¬kah perlahan. Lalu, masih dengan gerak yang seolah hendak memamerkan kejenjangan  lehernya, ia  berdiri  di  depan saya.Sejenak saya terpesona. Mamma Mia. Mamma Mia.  Ada sesuatu yang terasa bergeletar di dada. Ada sesuatu yang terasa bergelora  di sana. Sesuatu  yang  indah. Indah. Tapi,&#8230;“Kamu,  ng&#8230;,  kapan ke kibek? Lagi  krodit,  ya?  Kalau gitu kirim QSL aja. Benar-benar terlalu, deh. Papi  nanyain kamu terus, lho. Eh, kok manteng kayak sinyal?”</p>
<ol>
<li>Calvin  S.  Hall, Sigmund Freud,  Suatu  Pengantar  ke  Dalam  Ilmu Jiwa, Sigmund Freud, terj., S.  Tasrif,  PT Pembangunan, Jakarta, 1980, h. 121-123.</li>
<li>M.A.W. Brouwer, Psikologi Fenomenologis, PT  Gramedia, Jakarta, 1983, h. 		17-18.</li>
<li>Ibid.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/3senyuman.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/3senyuman.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/3senyuman.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/3senyuman.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/3senyuman.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/3senyuman.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/3senyuman.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/3senyuman.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/3senyuman.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/3senyuman.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/3senyuman.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/3senyuman.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/3senyuman.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/3senyuman.wordpress.com/343/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=343&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://3senyuman.wordpress.com/2010/05/26/madonna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.347014 106.825871</georss:point>
		<geo:lat>-6.347014</geo:lat>
		<geo:long>106.825871</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c458077a6deb4cc9fb50d6e7fd7319e0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">3senyuman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MARIA HARTININGSIH</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com/2010/03/15/maria-hartiningsih/</link>
		<comments>http://3senyuman.wordpress.com/2010/03/15/maria-hartiningsih/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 06:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beranda]]></category>
		<category><![CDATA[Friedrich Hegel]]></category>
		<category><![CDATA[Gender]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah Tinggi Publistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://3senyuman.wordpress.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah besar dunia tak lain adalah berupa kemajuan dan perkembangan mengenai kesadaran dan kebebasan. (Friedrich Hegel, filsuf Jerman) Di banyak negeri, sering wartawan dinobatkan sebagai pahlawan hak azasi, karena tulisan-tulisannya dinilai memperjuangkan hak-hak azasi manusia, entah di bidang politik, sosial, ekonomi, dan yang lain. Indonesia juga memiliki jurnalis-jurnalis semacam itu. Salah satunya adalah Maria Hartiningsih. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=338&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><em><a href="http://3senyuman.files.wordpress.com/2009/08/nestor-edit.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-21" title="Nestor " src="http://3senyuman.files.wordpress.com/2009/08/nestor-edit.jpg?w=148&#038;h=148" alt="" width="148" height="148" /></a>Sejarah besar dunia tak lain adalah berupa kemajuan dan perkembangan mengenai kesadaran dan kebebasan.</em></p>
<p><em>(<strong>Friedrich Hegel</strong>, filsuf Jerman)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Di banyak negeri, sering wartawan dinobatkan sebagai pahlawan hak azasi, karena tulisan-tulisannya dinilai memperjuangkan hak-hak azasi manusia, entah di bidang politik, sosial, ekonomi, dan yang lain. Indonesia juga memiliki jurnalis-jurnalis semacam itu. Salah satunya adalah Maria Hartiningsih.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengenalnya 30 tahun lalu, awal tahun 80-an, ketika sama-sama kuliah di Sekolah Tinggi Publistik (STP) Jakarta. Saat itu ia sudah bekerja, di Sucofindo kalau tak salah. Orangnya cenderung pendiam, nada bicaranya pelan. Satu hal yang saya ingat, ia terlihat respek terhadap rekan-rekan mahasiswa yang sudah jadi wartawan atau  menulis di media massa, apapun jenis tulisan itu.</p>
<p><span id="more-338"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 1985, Maria bergabung dengan Harian <em>Kompas</em>. Tapi saya baru teringat dia lagi ketika awal tahun 90-an, membaca laporan pengalaman bersama Myrna Ratna, rekannya wartawan <em>Kompas</em>, menjadi sukarelawan di pusat pelayanan kemanusiaan pimpinan Bunda Theresa, di Calcutta, India. Laporan pengalaman itu ditulis bersambung di <em>Kompas</em>.  Bagi saya, sungguh, tulisan itu sangat menggetarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana tidak? Maria dan Myrna menggambarkan tempat pelayanan itu amat kotor dan berbau. Orang-orang telantar yang sudah membusuk dipungut dari pinggir-pinggir jalan, dibersihkan dan dirawat, agar dia layak meninggal sebagai manusia, mungkin untuk terakhir kali, sebelum ajal menjemput. Maria dan Myrna  harus ikut merawat mereka, membersihkan belatung, memandikan, dan menyuapi mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya harus jujur, sampai kini, hingga 30 tahun karir kewartawann saya, tulisan itulah salah satu liputan jurnalistik yang paling menggetarkan dan terus terkenang. Tulisan itu menjadi bagian dari kesadaran saya, betapa realitas kemiskinan itu begitu mengerikan. Tulisan itu juga meletakkan pemaknaan dalam diri saya, siapa sesungguhnya Bunda Theresa. Kenapa dia harus ditempatkan dalam jajaran orang besar (dan suci) dalam sejarah kehidupan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu Maria banyak menulis tema-teman kewanitaan, soal emansipasi, gender, hak azasi, pemberdayaan perempuan, dan yang sejenis. Saya menilai, tulisannya sangat khas dan berkarakter. Ia tidak sekedar membeberkan data atau fakta, tapi juga dengan <em>standing point</em> yang  jelas, berpihak pada kebenaran dan yang lemah. Sehingga, dengan membaca tulisannya, orang memiliki pemahaman dan mungkin juga sikap. <em>Development journalism</em>, jurnalistik yang membangun pengertian.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tulisan-tulisan jurnalistik yang mengandung <em>nature development</em> mengenai tema-tema gender seperti itu, saya beberapa kali terpikir, mestinya kementerian yang mengurusi pemberdayaan wanita pantas memberinya penghargaan. Benar, Maria akhirnya mendapat penghargaan, tapi bukan dari kementerian itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 2003, Maria memperoleh Yap Thiam Hien Award, penghargaan di bidang hak azasi manusia. Maria dinilai sebagai jurnalis yang sangat konsisten memperjuangkan ide-ide kemanusiaan dan <a title="Hak asasi manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_asasi_manusia">hak-hak manusia</a> yang azasi lewat tulisan-tulisannya. Bukan hanya dalam hal yang bersangkut-paut dengan soal jender, tetapi terutama mengenai manusia-manusia yang lemah, terpinggirkan, atau jadi korban kerasnya kehidupan. Maria adalah wartawan Indonesia pertama yang menerima penghargaan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah reformasi jurnalisme di Indonesia mengalami perkembangan luar biasa,  tapi juga sekaligus mengalami degradasi. Sejak SIUPP ditiadakan, siapa saja bisa menerbitkan suratkabar, tabloid, dan majalah. Siapa saja bisa jadi wartawan. Akibatnya, banyak media tanpa visi yang jelas. Seperti juga banyak wartawan tanpa kompetensi yang jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya kira, di situlah letak pentingnya kita memberi catatan kepada wartawan yang berkarakter seperti Maria Hartiningsih. Bahwa jadi jurnalis bukan sekedar menulis berita berdasarkan fakta-fakta, tapi juga mestinya membangun pemaknaan bagi pembaca. Membangun  wawasan atas kebenaran, terutama sikap membela kaum  lemah dan yang terkalahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tontonan dalam televisi memuaskan mata dan telinga sejenak, namun  kemudian menghilang tanpa bekas. Tulisan dalam buku, suratkabar, atau majalah, akan mengisi ruang dan waktu, membekas dalam kepala dan hati yang membaca. Saya percaya, tulisan-tulisan Maria telah membekas, membangun pola pikir, dan mengisi hati banyak orang. Seperti dikatakan Friedrich Hegel, saya percaya, tulisan-tulisan itu telah menyumbang sesuatu untuk kesadaran dan kemerdekaan (kebebasan) manusia,  yang sering menjadi korban kerasnya kehidupan yang diciptakan sesama.</p>
<p style="text-align:right;"><strong><em>Nestor Rico Tambunan</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/3senyuman.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/3senyuman.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/3senyuman.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/3senyuman.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/3senyuman.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/3senyuman.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/3senyuman.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/3senyuman.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/3senyuman.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/3senyuman.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/3senyuman.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/3senyuman.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/3senyuman.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/3senyuman.wordpress.com/338/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=338&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://3senyuman.wordpress.com/2010/03/15/maria-hartiningsih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.347014 106.825871</georss:point>
		<geo:lat>-6.347014</geo:lat>
		<geo:long>106.825871</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c458077a6deb4cc9fb50d6e7fd7319e0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">3senyuman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://3senyuman.files.wordpress.com/2009/08/nestor-edit.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Nestor </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUISI: SAJADAH SELEMBAR BADAN</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com/2010/03/08/puisi-sajadah-selembar-badan/</link>
		<comments>http://3senyuman.wordpress.com/2010/03/08/puisi-sajadah-selembar-badan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 12:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Arwinto Syamsunu Aji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://3senyuman.wordpress.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Arwinto Syamsunu Aji Luka-luka bersembahyang, di atas sajadah selembar badan. Angin mudik berkesiut pelan, tiap kali cakar-cakar gelombang dipantaikan. Jadi buih-buih putih kenangan. Jadi detik-detik yang senja temaram. ”Engkau ingin melipat seluruh pelayaran? Wahai, engkau akan menggulung semua yang belum labuh atau karam?” tanya yang masih bersabung dan bersambung ke halaman demi halaman berpasir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=334&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Oleh Arwinto Syamsunu Aji</strong></h3>
<p>Luka-luka bersembahyang, di atas sajadah selembar<br />
badan. Angin mudik berkesiut pelan, tiap kali cakar-cakar gelombang dipantaikan. Jadi buih-buih putih kenangan.<br />
Jadi detik-detik yang senja temaram. ”Engkau ingin melipat seluruh pelayaran? Wahai, engkau akan menggulung semua yang belum labuh atau karam?” tanya yang masih bersabung dan bersambung ke halaman demi halaman berpasir lembut serta basah penghidupan.</p>
<p>Tetapi bujur hari telah ditekuk rukuk duri nyeri dicabut sujud. Berulang-ulang. Sejak peluit niat itu aku tiup,<br />
dunia kuajari satu kesabaran: menunggu di luar seluruh bisik dan gerak pencitraan.</p>
<p>Luka-luka bersembahyang, di atas sajadah selembar<br />
badan. Sampai dahi bergaram. Batin mengupas kerakap dendam, pori-pori terjauhkan dari rangkak ulat dan guguran mawar berulang-ulang. Berulang-ulang. Menyempurnakan sentuhan sekian sayang: rindu yang mengangkut desir hawa keikhlasan</p>
<p><strong>Kebumen, 2008</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/3senyuman.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/3senyuman.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/3senyuman.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/3senyuman.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/3senyuman.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/3senyuman.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/3senyuman.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/3senyuman.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/3senyuman.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/3senyuman.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/3senyuman.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/3senyuman.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/3senyuman.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/3senyuman.wordpress.com/334/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=334&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://3senyuman.wordpress.com/2010/03/08/puisi-sajadah-selembar-badan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-6.347014 106.825871</georss:point>
		<geo:lat>-6.347014</geo:lat>
		<geo:long>106.825871</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c458077a6deb4cc9fb50d6e7fd7319e0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">3senyuman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MIRA LESMANA</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com/2010/02/12/mira-lesmana/</link>
		<comments>http://3senyuman.wordpress.com/2010/02/12/mira-lesmana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 09:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beranda]]></category>
		<category><![CDATA[Ada Apa dengan Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Laskar Pelangi]]></category>
		<category><![CDATA[Mira Lesmana]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan Sherina]]></category>
		<category><![CDATA[Produser Film Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Rekor Film Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sang Pemimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Film Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://3senyuman.wordpress.com/2010/02/12/mira-lesmana/</guid>
		<description><![CDATA[Satu-satunya senjata ampuh dan meyakinkan untuk melawan gagasan yang buruk adalah dengan gagasan yang baik. (Alfred W. Griswold, Rektor Unibersitas Yale) Bicara film Indonesia dalam era kebangkitan dasawarsa terakhir, tidak boleh tidak, kita harus menyebut nama Mira Lesmana. Karena Mira, begitu panggilan akrabnya, identik dengan kebangkitan itu. Betapa tidak? Tahun 2000, lewat perusahaan filmnya, memproduksi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=326&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://3senyuman.files.wordpress.com/2009/08/nestor-edit.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-21" title="Nestor " src="http://3senyuman.files.wordpress.com/2009/08/nestor-edit.jpg?w=148&#038;h=148" alt="" width="148" height="148" /></a>Satu-satunya senjata ampuh dan meyakinkan untuk melawan gagasan yang buruk adalah dengan gagasan yang baik.</p>
<p>(Alfred W. Griswold, Rektor Unibersitas Yale)</p>
<p style="text-align:justify;">Bicara film Indonesia dalam era kebangkitan dasawarsa terakhir, tidak boleh tidak, kita harus menyebut nama Mira Lesmana. Karena Mira, begitu panggilan akrabnya,  identik dengan kebangkitan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa tidak? Tahun 2000, lewat perusahaan filmnya, memproduksi film Petualangan Sherina, sebuah film anak-anak yang menghibur sekaligus mendidik. Film ini bagai angin segar bagi dunia film nasional yang sudah lama mati suri.</p>
<p><span id="more-326"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 2002, Mira memproduksi Ada Apa Dengan Cinta,  sebuah film remaja yang segar sekaligus menarik. Seperti Petualangan Sherina, film AADC meledak, meraih sekitar 2 juga penonton dan  memberi untung besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Puncaknya, ketika tahun 2008 lalu Mira memproduksi Laskar Pelangi, sebuah film yang diangkat dari dari novel Andrea Hirata, dengan judul sama. Film segala usia ini dinilai bagus dan mencerahkan. LP memecahkan rekor jumlah penonton film nasional, mencapai 4 juta lebih.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini nama Mira dan Miles Productions-nya menjadi label tersendiri bagi dunia film nasional. Ia kini identik dengan film-film layar lebar, yang selain sukses di pasar, juga memiliki kualitas artistik sebagai film.</p>
<p style="text-align:justify;">Kiprah Mira ini terasa bernilai, karena produksi film nasional tahun-tahun terakhir didominasi film bertema hantu, komedi bertema konyol, dan yang menyerempet-nyerempet ke seks. Seperti biasa, kalau satu sukses yang lain ramai-ramai meniru. Apa boleh buat, kreatifitas dunia tontonan kita, memang dunia yang sering latah dan penuh tiru meniru. Dari dulu produsen film Indonesia memang lebih sering menampakkan diri terutama sebagai pedagang impian – merchant of dreams.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi Mira tidak mau ikut dalam arus itu. Putri musisi jazz terkemua Jack Lesmana (almarhum) dan istri aktor Mathias Muchus ini mengambil jalan yang ia pilih sendiri. Sebelum memproduksi Laskar Pelangi, ia juga memproduksi GIE, sebuah film yang juga dinilai bagus, meskipun tidak terlalu sukses dalam pemasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Mira Lesmanawati, lahir di Jakarta, 8 Agustus 1964. Secara formal, Mira mulai mulai menekuni film di Australian Centre for Photography, Sidney, Australia. Tahun 1985, ia meneruskan kuliah di Fakultas Film dan Televisi IKJ, Jakarta, mengambil spesialisasi penyutradaraan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum mendirikan Miles Productions, tahun 1995, Mira sempat bekerja di industri periklanan. Tahun 1996, ia menjadi produser film Anak Seribu Pulau, sebuah serial drama dokumenter tentang kehidupan anak-anak di berbagai di Indonesia. Serial 14 episode ini diputar serentak di lima stasiun televisi. Sampai kemudian ia melahirkan Petualangan Sherina, AADC, dan yang lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Mira dikenal sebagai sutradara dan produser wanita bertangan dingin. Kiatnya, yang paling terasa, ia mempersiapkan segalanya dengan baik, jauh-jauh hari, termasuk promosi. Karena itu, ketika DPR mensahkan UU Perfilman, sebagai revisi UU No. 8 Tahun 1992 tentang Perfilman, 8 September 2009 lalu, ia meneteskan air mata.</p>
<p style="text-align:justify;">Undang-undang yang baru itu hanya mengatur secara rinci sejumlah larangan kepada pembuat film. Mira merasa sedih, karena selama ini insan film berkembang tanpa bantuan pemerintah. Tahu-tahu pemerintah muncul sebagai pengontrol. Ada banyak hak pemerintah, sementara kewajibannya hanya satu, yaitu ”memfasilitasi” insan pers, tanpa ada penjelasan memfasilitasi itu seperti apa, dan untuk apa. &#8220;Kami tidak dipercaya, malah kami dianggap orang yang berpotensi melakukan tindak kriminal,&#8221; ujar Mira dengan sedih.</p>
<p style="text-align:justify;">Mira benar. Pemerintah kita sebenarnya tidak pernah serius memikirkan film sebagai bagian strategis pembinaan budaya bangsa. Hanya sesekali turun tangan, atau numpang beken lewat event perfilman.</p>
<p style="text-align:justify;">Mira Lesmana bukan satu-satunya wanita yang pantas dicatat dalam kebangkitan film Indonesia era dasawarsa terakhir. Masih ada Nia Dinata, Santhy Harmain, Lola Amaria, dan beberapa nama produser atau sutradara yang penuh cinta dan memberi harapan bagi dunia perfilman Indonesia. Tapi Mira pantas dianggap sebagai wakil mereka, karena dia produser sekaligus sutradara yang cerdas dan bersikap. Ia, seperti dikatakan Theodore Taylor dalam  People Who Make Movies, berusaha jadi orang dagang yang kreatif. Membuat tontonan yang digemari (laris) sekaligus bermutu secara teknis, sehingga pantas disebut sebagai produk budaya dan membuat semua pihak bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itulah Mira Lesmana pantas dicatat. Ia mengambil langkah seperti diucapkan Alfred  Griswold, bahwa satu-satunya senjata ampuh dan meyakinkan untuk melawan melawan gagasan yang buruk, adalah dengan gagasan yang baik.</p>
<p style="text-align:right;">Nestor Rico Tambunan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/3senyuman.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/3senyuman.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/3senyuman.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/3senyuman.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/3senyuman.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/3senyuman.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/3senyuman.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/3senyuman.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/3senyuman.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/3senyuman.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/3senyuman.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/3senyuman.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/3senyuman.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/3senyuman.wordpress.com/326/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=326&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://3senyuman.wordpress.com/2010/02/12/mira-lesmana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.347014 106.825871</georss:point>
		<geo:lat>-6.347014</geo:lat>
		<geo:long>106.825871</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c458077a6deb4cc9fb50d6e7fd7319e0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">3senyuman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://3senyuman.files.wordpress.com/2009/08/nestor-edit.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Nestor </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GUTENBERG DAN TUKANG KREDIT</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com/2010/01/26/gutenberg-dan-tukang-kredit/</link>
		<comments>http://3senyuman.wordpress.com/2010/01/26/gutenberg-dan-tukang-kredit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 19:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[Johannes Gutenberg]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pelarangan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://3senyuman.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Mohammad Fauzy Sebelum pertengahan abad lima belas, buku di Eropa jarang dan mahal. Orang masih menyalin dan menggambar setiap buku dengan tangan. Cara ini sulit dan lambat. Di  Cina, orang-orang mengukir potongan kayu dengan kata dan gambar. Potongan-potongan itu mereka gosok dengan tinta dan lalu mereka tekan ke atas kertas. Cara ini pun sulit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=318&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh Mohammad Fauzy</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum pertengahan abad lima belas, buku di Eropa jarang dan mahal. Orang masih menyalin dan menggambar setiap buku dengan tangan. Cara ini sulit dan lambat. Di  Cina, orang-orang mengukir potongan kayu dengan kata dan gambar. Potongan-potongan itu mereka gosok dengan tinta dan lalu mereka tekan ke atas kertas. Cara ini pun sulit dan lambat. Lalu, datang Johannes Gutenberg. Pada 1438, ia menemukan mesin cetak menggunakan tip yang dapat dipindah-pindah. Gutenberg membuat tip dari campuran timbel, timah, dan antimonium untuk setiap abjad. Setelah terbentuk, tip-tip itu disusun membentuk kata-kata yang menjadi kalimat-kalimat dan selanjutnya menjadi satu halaman naskah. Menekankan selembar kertas pada tip yang bersaput tinta menghasilkan halaman cetak. Satu tatanan tip dapat digunakan untuk 100 halaman cetak sebelum disusun ulang untuk halaman berikut sampai seluruh buku tercetak. Metode Gutenberg menjadikan buku-buku saat itu dicetak cepat, mudah, dan murah.</p>
<p><span id="more-318"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Gutenberg agaknya tidak pernah mengira kalau penemuannya mengakhiri abad pertengahan yang gelap gulita. Melalui mesin cetak, ilmu pengetahuan dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa, memerangi kebodohan dan mengurangi tekanan gereja. Rakyat mulai mendengar konsep-konsep baru dari para ilmuwan tentang langit dan bumi dan tentang daerah-daerah baru di seberang laut. Pamflet dan selebaran-selebaran pun membangkitkan pemberontakan-pemberontakan terkenal dalam sejarah. Buku-buku, lembaran-lembaran berita, dan suratkabar kemudian menjadi bagian dari hari-hari masyarakat dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai hari ini, lebih dari lima abad sudah usia penemuan mesin Gutenberg.  Selama ini pula, mungkin banyak orang lupa, perjalanan mesin cetak Gutenberg bukan hanya sejarah kisah sebuah mesin, melainkan juga bagian dari sejarah pemikiran manusia. Orang-orang grafika, para ahli mesin cetak, distributor kertas dan tinta, tidak bisa tidak  perlu memahami hal ini. Paling tidak, mereka memahami mesin-mesin, alat-alat, tinta-tinta, dan kertas-kertas mereka sangat menentukan distribusi ilmu pengetahuan. Dan, lebih dari itu, mereka pun sangat erat berurusan dengan politik dan kekuasaan. Para penerbit mungkin lebih menyadari hal ini ketimbang para ahli teknik dan ahli grafika. Di Indonesia, banyak buku yang telah dilarang penguasa. Selama 30-an tahun berkuasa, pemerintah Orde Baru tercatat melarang sekitar 2000 buku atau 67 judul per tahun. Ini melampaui rekor gereja Katolik yang selama empat abad telah membreidel 4000 buku atau 10 judul buku per tahun. Dan, selama itu, tentu belum terdengar larangan terhadap penggunaan mesin cetak bermerek Gutenberg.</p>
<p style="text-align:justify;">Panjangnya tangan penguasa dalam “menekan” laju penyebaran pemikiran manusia telah berlangsung sebelum Gutenberg menemukan mesin cetak. Tercatat, awal abad ketiga, Kaisar Cina Shih Huang Ti yang membangun Tembok Cina telah memerintahkan pembasmian buku-buku untuk melawan oposisi. Karena itu, setelah penemuan mesin cetak,  pemberhangusan terhadap barang cetakan baik buku, majalah, dan suratkabar, bukan hal baru. Para penguasa, antara lain, melalui pemberian lisensi dan wajib lapor sebelum terbit masih saja terus memberhangus pemikiran yang menentang mereka. Dan, masalah kian serius ketika bentuk-bentuk pembatasan itu telah menjadi semakin variatif dan meluas ke bidang ekonomi. Penguasa Inggris, misal, memberlakukan cukai untuk menekan penerbitan suratkabar melalui UU Meterai sampai 1885. Dan, di Indonesia, walau tidak ada lagi Surat Ijin Terbit (SIT) dan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP),  kiranya masih banyak orang yang tidak sanggup (berat) membeli suratkabar. Dan, walau sekarang jumlah judul dan oplah buku berlimpah-limpah, masih banyak juga orang yang tidak sanggup membeli buku. Bentuk-bentuk monopoli dan kapitalisme merupakan tangan-tangan penguasa baru yang menghambat penyebaran ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini, menjelang tahun ajaran baru, masih banyak orang Indonesia yang tidak sanggup membeli buku. Khusus harga buku-buku pelajaran SD, SLTP, dan SLTA sungguh-sungguh mendera ekonomi setiap orangtua yang hendak menyekolahkan anaknya. Lebih dari 500 tahun lampau, Gutenberg merekayasa mesin cetak untuk mempercepat, mempermudah, dan mempermurah biaya buku, namun harga buku sekolah di Indonesia kini terasa mahal sekali. Satu paket harga buku di sebuah sekolah swasta malah ada yang mencapai Rp. 500.000,-</p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan mesin cetak Gutenberg memang bukan hanya sejarah kisah sebuah mesin, bukan juga sekedar bagian dari sejarah pemikiran manusia, bukan juga sejarah penguasa semata, melainkan juga bagian dari sejarah kapitalisme. Kita memang tidak banyak mengetahui sisa-sisa kehidupan Gutenberg. Kita lupa, setelah ia selesai mencetak Kitab Injil setebal 1.282 halaman, pada tahun 1456, ia sudah tidak memiliki uang lagi. Ketika seorang sahabat yang memberinya kredit menagih, tidak ada jalan lagi bagi Gutenberg kecuali meninggalkan rumah dan bengkelnya. Ia meninggalkan semua buku yang telah dicetaknya. Sahabatnya itu, Si Tukang Kredit, mengambil alih posisi Gutenberg dan segeralah percetakan pertama tumbuh dengan subur sebagai jejak cikal bakal kapitalisme di industri penerbitan. Gutenberg adalah korban pertamanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/3senyuman.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/3senyuman.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/3senyuman.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/3senyuman.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/3senyuman.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/3senyuman.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/3senyuman.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/3senyuman.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/3senyuman.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/3senyuman.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/3senyuman.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/3senyuman.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/3senyuman.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/3senyuman.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=318&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://3senyuman.wordpress.com/2010/01/26/gutenberg-dan-tukang-kredit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-6.347014 106.825871</georss:point>
		<geo:lat>-6.347014</geo:lat>
		<geo:long>106.825871</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c458077a6deb4cc9fb50d6e7fd7319e0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">3senyuman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUISI: KAU NAMAKAN AKU LIDAH</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com/2010/01/23/307/</link>
		<comments>http://3senyuman.wordpress.com/2010/01/23/307/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 13:22:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Arwinto Syamsunu Aji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://3senyuman.wordpress.com/2010/01/23/307/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Arwinto Syamsunu Aji Kau namakan aku lidah. Baiklah. Tak seorang perlu memukul-mukul kentong, mengundang tetangga, membagi-bagikan bubur merah. Nama itu cukup indah. Tak cuma mengelendot dalam gendongan – tak cuma semampir sebagai sebutan. Karena memang daging, karena adalah darah akan kupikul dari kosong ke arah dari diam ke langkah. Ingin kubaca riwayat diri dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=307&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Arwinto Syamsunu Aji</strong></p>
<p>Kau namakan aku lidah. Baiklah. Tak seorang perlu memukul-mukul kentong, mengundang tetangga, membagi-bagikan bubur merah. Nama itu cukup indah. Tak cuma mengelendot dalam gendongan – tak cuma semampir sebagai sebutan. Karena memang daging, karena adalah darah akan kupikul dari kosong ke arah dari diam ke langkah.<span id="more-307"></span></p>
<p>Ingin kubaca riwayat diri dalam huruf-huruf terawang dari lidah, kulepas lebah ke bunga-bunga, kuantar bunga ke wajah-wajah. Agar di rongga-rongga telinga atau entah lorong waktu yang menganga, aku bukan cuma udara, aku bukan cuma suara, apalagi ludah yang suka terbuang percuma.</p>
<p>Syukur bila aku energi atau cahaya.</p>
<p>Karena itu ketika lidah lain mulai terjulur ke mana-mana, aku malah sedang berdoa:”Duhai Yang Maha Kuasa, izinkan aku melupa ruang kembara sejenak saja terbaring tanpa kata, tanpa dosa di ranjangku satu-satunya.”</p>
<p>Capek memandangi langit-langit mulut dan deretan gigi, aku pun lirih bicara dalam rongganya yang sepi: ”Di sini. Aku bukan burung Necrophily yang mengembangkan sayap-sayap jadi langit gurun-gurun bahasa. Tapi tak akan kusalahkan ia yang mengenali: aku sepatu musafir yang telah kembali dari benua yang direntangnya seorang diri antara usia, kehadiran, dan sepi.”</p>
<p>Karena itu ketika lidah dan api di luar terus terjulur-julur, saling membelit dan tak punya beda lagi, buru-buru aku kembali mengingat lidah dan api di dalam diri.</p>
<p>”Biarlah aku tetap di sini, kini dan seterusnya di tempat ini  semoga Yang Maha Kuasa meridhoi.”</p>
<p><em>Kebumen, 2002</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/3senyuman.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/3senyuman.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/3senyuman.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/3senyuman.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/3senyuman.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/3senyuman.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/3senyuman.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/3senyuman.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/3senyuman.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/3senyuman.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/3senyuman.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/3senyuman.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/3senyuman.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/3senyuman.wordpress.com/307/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=307&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://3senyuman.wordpress.com/2010/01/23/307/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-6.347014 106.825871</georss:point>
		<geo:lat>-6.347014</geo:lat>
		<geo:long>106.825871</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c458077a6deb4cc9fb50d6e7fd7319e0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">3senyuman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>COPY DARAT</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com/2010/01/08/copy-darat/</link>
		<comments>http://3senyuman.wordpress.com/2010/01/08/copy-darat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 12:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Radio]]></category>
		<category><![CDATA[copy darat]]></category>
		<category><![CDATA[naluri-naluri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://3senyuman.wordpress.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[ADAKAH garis pemisah antara pertemuan di udara dengan pertemuan di darat? Mengapa seseorang hanya ter¬tarik pada suara, sementara yang lain masih berusaha bertemu muka? Seorang isteri pernah berkisah tentang perilaku suaminya di udara yang lebih senang ngebrik dengan sejum¬lah perempuan dari pada dengan sesama jenisnya. Malah, tanpa ijin, suaminya sering mengajak perempuan-perempuan itu makan bersama. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=302&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">ADAKAH  garis  pemisah antara pertemuan  di  udara dengan  pertemuan di darat? Mengapa seseorang hanya  ter¬tarik  pada  suara, sementara yang  lain  masih  berusaha  bertemu muka?</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang  isteri pernah berkisah  tentang  perilaku suaminya di udara yang lebih senang ngebrik dengan sejum¬lah  perempuan dari pada dengan sesama  jenisnya.  Malah, tanpa ijin, suaminya sering mengajak  perempuan-perempuan itu makan  bersama. Terus terang, katanya,  ia  cemburu. Suaminya punya  waktu untuk perempuan lain, tapi tidak    untuk dia. “Saya,” jelasnya, “memang tidak menuduh yang bukan-bukan  kepada suami tapi rasanya janggal apa yang dilakukannya. Saya jadi ingat, betapa dia mengejar-ngejar ketika saya masih kuliah sampai  ditingkat  tiga! Saya bukan menyesal, tetapi sekedar mengingatkan betapa  pen¬gorbanan saya demi cinta&#8230;.”<span id="more-302"></span>Ungkapan nyonya MM itu jelas mengingatkan, ada  sebuah  segi penting dalam hidup yang harus diperhatikan orang. Untuk suami atau isteri yang  kecanduan  ngebrik, inilah dia: kalau seseorang memanjakan diri dengan kegiatan menyenangkan tanpa disiplin pribadi, ia akan mencapai suatu titik ketika kegiatan itu tidak lagi  menyenangkan.  Untuk orang lain ataupun untuk diri sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Menerobos batas udara, melangkah ke darat merupa¬kan awal dari segala ketidakdisiplinan pribadi. Dalam sebuah perkawinan, tidak ada alasan yang paling baik dari seorang isteri untuk gegetun, kecuali bila suaminya mulai terlibat daya asmara dengan perempuan lain. Akibat paling tragis, bercerai.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman nyonya EW mungkin sama dengan yang dikeluhkan  nyonya  MM. Ia sering panas dingin dengan perilaku suaminya yang juga suka ngebrik dengan lawan jenis. Hanya, cuma dengan satu perempuan.  Panggilannya  Lulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka sering copy darat, bertemu muka, makan, dan  nonton bersama. Hubungan mereka, akhirnya, menjadi intim sehingga nyonya  EW  perlu  mengingatkan. Tapi, gagal. Suaminya tidak mengacuhkan. Diam-diam ia terus copy darat dengan Lulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nyonya EW memperingatkan lagi. Tetap gagal. Akhirnya ia minta cerai dan mengikuti jejak suami,  ngebrik dan juga menjalin daya asmara dengan lelaki lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada kondisi-kondisi yang perlu dipertimbangkan ketika ketidakdisiplinan pribadi menjadi sebuah  penyele¬wengan  melalui  pemancar radio. Tidak ada seorang  pun  membeli pemancar bertujuan untuk menceraikan pasangan hidupnya. Ketidakdisiplinan, mudah diduga, justeru muncul setelah mengudara dan mengenal para perempuan bagi suami dan mengenal lelaki bagi para isteri.</p>
<p style="text-align:justify;">Anggapan  selama ini — ketika suami atau  isteri mulai bercengkrama dengan perempuan atau lelaki lain —— semua kejadian itu hanya di udara. Biarkan sajalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata keliru. Keliru. Kalau orang memang hendak menyepelekan  sesuatu, seharusnya ia  tidak  mengurangi  kewaspadaan.  Justeru karena hanya di udara, semua  apat  berlangsung melalui suara. Dan suaralah, ternyata, pemicu utama. Melalui  suara, suami atau isteri bisa terlibat daya asmara seperti layaknya pandangan pertama pada mata.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana interaksi melalui pemancar berawal mula, melalui suara, mereka dapat saling berkomunikasi dan menarik kesimpulan-kesimpulan mengenai lawan bicara. Suara adalah rangsang yang menggetarkan gendang telinga dengan segala efeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejumlah  studi  telah  menunjukkan  beragam  efek suara. Perempuan yang “bersuara nafas” sering dianggap cantik, kecil mungil, feminin, dan  berpikiran  dangkal. Sedangkan lelaki dianggap muda dan artistik. Suara perem¬puan yang  lemah  melahirkan  persepsi  kekanak-kanakan,  humoris, dan lebih sensitif. Yang bervokal keras  mengun¬dang persepsi lebih muda, lebih feminin, lebih emosional, dan kurang intelek. Tapi, pada lelaki, kekerasan vokal melahirkan persepsi lebih tua, kurang mau mengalah, dan menyulitkan.1</p>
<p style="text-align:justify;">Ragam suara perempuan dan lelaki memang dapat melahirkan  beragam  persepsi  pada  lawan  jenisnya.  Ia  mengawali  kebencian atau daya asmara di  antara  mereka. Bercanda,  tertawa,  merayu dan bahkan yang lebih panas dari itu dapat menciptakan daya asmara atau mengusik rasa susila. Berbisik, tersedak, mendesah dapat  menimbulkan rasa  simpatik  atau perasaan  jijik. Selebihnya adalah dorongan  naluri. Bila daya asmara telah datang  menjelma  melalui  suara, naluri akan segera  mendorongnya  menjadi sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Naluri-naluri merupakan pengganti rohaniah dari segala keperluan  jasmaniah. Karena  itu  jumlahnya  ada  sebanyak  keperluan jasmaniah manusia.2 Tubuh yang luka menimbulkan naluri ingin mengetahui obatnya, perut yang lapar menimbulkan naluri ingin makan, leher  yang  haus  menimbulkan  naluri  ingin  minum,  daerah-daerah  erogen  menimbulkan naluri seksual, dan naluri-naluri lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua  naluri  itu dapat disebut naluri  kehidupan  karena  perlu dipuaskan untuk  mempertahankan  hidup  dan berkembang biak. Ingin mengetahui sesuatu, ingin  memakan  sesuatu, dan ingin meminum sesuatu bertujuan mempertahan¬kan  hidup. Ingin melakukan hubungan seksual dengan  seseorang bertujuan memperkembangbiakkan diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu, bila suami atau isteri mulai bercengk¬rama dengan perempuan atau lelaki lain, dorongan  naluri-naluri  ini sangat menguat bila suami atau  isteri  belum  atau  tidak memenuhinya secara  jasmaniah.  Naluri-naluri itu memiliki energi yang selalu mencari penyaluran dengan   segala  cara.  Jika tidak, ia tertekan dan  semakin  kuat  dorongannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di udara, tentu, dorongan naluri-naluri itu  tidak dapat  disalurkan, dijelmakan secara jasmaniah. Ia  tidak dapat  disalurkan dengan kata-kata belaka. Naluri ingin tahu lawan bicara tak mungkin dijelmakan secara  sempurna hanya  dengan  menyebutkan ciri-ciri rambut,  mata,  atau  tinggi  badan. Pemenuhan seutuhnya hanya dapat  dilakukan  dengan copy darat. Begitu  juga  dengan  naluri-naluri seksual, secara sempurna, pemenuhannya hanya dapat  dilakukan dengan  bersetubuh, setelah melalui proses copy darat.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah tujuan akhir dari setiap naluri. Selalu berusaha memenuhi dorongan, mau menyalurkan semua  energi sehingga tak ada lagi rasa tertekan. Ia mencari kesempur¬naan secara jasmaniah. Sebab itu,  pertemuan  di  darat  menjadi  cita-cita utama. Yang lelaki ingin bertemu  yang perempuan, yang perempuan ingin bertemu yang lelaki.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua mengalir begitu  saja. Terperangkap daya  asmara. Lantas, adakah masih garis pemisah antara pertemuan di udara dengan pertemuan di darat? Gadis pemisah itu ada kalau apa yang dulu dirasa menyenangkan, kini berakhir dengan sebuah kegetiran.</p>
<ol>
<li>Judy  Cornelia Pearson, Gender and Communication,  Wm. C. Brown Publisher, Dubuque, Iowa, 1985, h. 257-258.</li>
<li>Calvin  S.  Hall, Sigmund Freud,  Suatu  Pengantar  ke  Dalam  Ilmu Jiwa Sigmund Freud, terj., S.  Tasrif,  PT Pembangunan, Jakarta, 1980, h. 80</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/3senyuman.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/3senyuman.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/3senyuman.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/3senyuman.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/3senyuman.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/3senyuman.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/3senyuman.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/3senyuman.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/3senyuman.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/3senyuman.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/3senyuman.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/3senyuman.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/3senyuman.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/3senyuman.wordpress.com/302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=302&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://3senyuman.wordpress.com/2010/01/08/copy-darat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c458077a6deb4cc9fb50d6e7fd7319e0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">3senyuman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEPTI “JARITMATIKA” PENI</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com/2009/12/16/septi-%e2%80%9cjaritmatika%e2%80%9d-peni/</link>
		<comments>http://3senyuman.wordpress.com/2009/12/16/septi-%e2%80%9cjaritmatika%e2%80%9d-peni/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 23:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beranda]]></category>
		<category><![CDATA[Abacabaca]]></category>
		<category><![CDATA[Ashoka Foundation]]></category>
		<category><![CDATA[Danamon Award]]></category>
		<category><![CDATA[Jaritmatika]]></category>
		<category><![CDATA[Margo Sari]]></category>
		<category><![CDATA[PT Jaritmatika Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Septi Peni]]></category>
		<category><![CDATA[Teknik Berhitung Mudah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://3senyuman.wordpress.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Pengetahuan. Dengan itu sebagai sayap lah kita terbang tinggi membelah angkasa. (William Shakespeare, sastrawan Inggris) Anda harus percaya, wanita-wanita Indonesia tak kalah dengan perempuan dari belahan bumi lain. Peni adalah salah satu buktinya. Peni, lengkapnya Septi Peni Wulandari, pada awalnya merasa bukan siapa-siapa. Ia sarjana gizi lulusan Fak. Kesehatan Masyararkat Univ. Diponegoro. Ia sempat kerja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=292&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://3senyuman.files.wordpress.com/2009/08/nestor-edit.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-21" title="Nestor " src="http://3senyuman.files.wordpress.com/2009/08/nestor-edit.jpg?w=148&#038;h=148" alt="" width="148" height="148" /></a>Pengetahuan. Dengan itu sebagai sayap lah kita terbang tinggi membelah angkasa.<br />
(William Shakespeare, sastrawan Inggris)</p>
<p style="text-align:justify;">Anda harus percaya, wanita-wanita Indonesia tak kalah dengan perempuan dari belahan bumi lain. Peni adalah salah satu buktinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Peni, lengkapnya Septi Peni Wulandari, pada awalnya merasa bukan siapa-siapa. Ia sarjana gizi lulusan Fak. Kesehatan Masyararkat  Univ. Diponegoro. Ia sempat kerja sebagai PNS di Depkes, di Semarang. Tapi kemudian ia melepas status itu  karena harus mengikuti sang suami, Dodik Maryanto, bekerja di Jakarta. Sejak itu, ibu 3 anak, kelahiran Salatiga, 1974, ini hanya menjadi ibu rumah tangga.</p>
<p><span id="more-292"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, tiba-tiba Peni menyentak dunia dengan “Jaritmatika”nya, sebuah metode berhitung matematika dengan menggunakan jari. Imajinasinya tiba-tiba membuat orang  di Asia, Amerika, Timur Tengah, dan Eropah terpana.</p>
<p style="text-align:justify;">Awalnya, Peni tertegun melihat putri pertamanya kesulitan berhitung dengan menggunakan jari-jari. Ia lantas terpikir menciptakan metode yang mudah untuk berhitung. Ia mencoba memadukan permainan jari dengan konsep simpoa, alat berhitung tradisional khas Cina, untuk melakukan penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Selama tiga tahun, dari 2000 sampai 2003, Peni terus mengutak-utik dan mengembangkan  metode itu, hingga mencapai hitungan ratusan dan ribuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata sang putri sangat menyukai dan menjadi pintar karena metode itu. Peni mencoba memperkenalkan metode itu kepada ibu-ibu lain di lingkungannya. Ternyata banyak yang tertarik dan minta diajari. Ia pun membuka kursus Jaritmatika. Ternyata kurus itu berkembang pesat. Sebagai panduan ia menulis dua buku: Jaritmatika, Teknik Berhitung Mudah dan Menyenangkan (2003), dan Jaritmatika, Perkalian dan Pembagian (2004). Seperti kursusnya, kedua buku itu meledak di pasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Beratus ibu dilatihnya belajar berhitung. Sebagian peserta pelatihan kemudian tertarik membuka kursus. Berdirilah PT Jaritmatika Indonesia, sebagai waralaba jaringan kursus Jaritmatika. Akhirnya, Jaritmatika bukan hanya membuat anak-anak tidak takut belajar matematika, tapi juga mengubah jalan hidup banyak wanita. Banyak ibu rumah tangga yang tiba-tiba memiliki penghasilan karena membuka kursus Jaritmatika. Ada manajer perusahaan multinasional dan beberapa perempuan dengan jabatan bagus memutuskan mengundurkan diri dari kantor. Selain bisa mendampingi dan mendidik anak, mereka tetap mandiri secara finansial dari membuka kursus Jaritmatika.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk melengkapi ciptaannya, tahun 2005 ia menerbitkan buku Abacabaca, sebuah metode praktis pelajaran membaca. Dengan metode Abacabaca ini, anak usia 3 tahun bisa  mahir membaca. Buku ini pun mendapat sambutan hangat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 2005, Peni terpaksa pindah ke Solo karena mertuanya sakit. Tapi bukan berarti kiprahnya berhenti. Ia mengendalikan jaringan kursus Jaritmatika-nya dari sana. Kini tak kurang dari 170 kursus waralaba Jarimatika yang tersebar di hampir 100 kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Bahkan, beberapa cabang berada di luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Timur Tengah. Dari semua tempat kursus itu Peni berhak 40 persen dari pendapatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 2007, atas prakarsa Ashoka Foundation, Peni diundang ke beberapa kota di Amerika Serikat untuk mengajarkan Jarimatika kepada ibu rumah tangga di sana. Mereka terpana atas orisionalitas kreasi dan imajinasi Peni. Ia juga kemudian melanglang ke berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan sampai Swedia dan Timur Tengah untuk mendemonstrasikan metode ciptaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena ciptaannya, tahun 2006 Peni menerima penghargaan Danamon Award untuk kriteria pengembangan sumber daya masyarakat. Tapi Penih tidak berhenti sampai di situ. Dari markasnya di Margo Sari, Solo, ia mendirikan Institur Ibu Profesional,   sebuah jaringan para ibu rumah tangga. Ini semacam sekolah untuk menjadi ibu professional. Selain mendidik anak, mereka belajar bersama, merancang seminar, workshop, dan berbagai kegiatan produktif lain. Jaringan sosial para ibu rumah tangga professional ini kini beranggotakan 1.000 orang.</p>
<p style="text-align:justify;">Peni agaknya tak akan pernah berhenti berkreasi, belakangan ia memperkenalkan metode belajar membaca dan memahami Alquran secara praktis. Dan seperti kreasi sebelumnya, metode ini rasanya akan mendapat sambutan antusias. Peni sungguh  menunjukkan, wanita Indonesia tak kalah dengan perempuan dari belahan dunia yang lain. Lebih dari itu ia sudah membuktikan ucapan William Shakespiere, bahwa kita akan bisa terbang tinggi dengan pengetahuan sebagai sayap.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Nestor Rico Tambunan</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/3senyuman.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/3senyuman.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/3senyuman.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/3senyuman.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/3senyuman.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/3senyuman.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/3senyuman.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/3senyuman.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/3senyuman.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/3senyuman.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/3senyuman.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/3senyuman.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/3senyuman.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/3senyuman.wordpress.com/292/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=292&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://3senyuman.wordpress.com/2009/12/16/septi-%e2%80%9cjaritmatika%e2%80%9d-peni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-6.347014 106.825871</georss:point>
		<geo:lat>-6.347014</geo:lat>
		<geo:long>106.825871</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c458077a6deb4cc9fb50d6e7fd7319e0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">3senyuman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://3senyuman.files.wordpress.com/2009/08/nestor-edit.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Nestor </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MIKROELEKTRONIK</title>
		<link>http://3senyuman.wordpress.com/2009/12/07/mikroelektronik/</link>
		<comments>http://3senyuman.wordpress.com/2009/12/07/mikroelektronik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 19:22:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Radio]]></category>
		<category><![CDATA[A. Fessenden]]></category>
		<category><![CDATA[Amplifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Buta Elektronik]]></category>
		<category><![CDATA[David Sarnoff]]></category>
		<category><![CDATA[Deteksi]]></category>
		<category><![CDATA[Elektromagnet]]></category>
		<category><![CDATA[Elektron]]></category>
		<category><![CDATA[Merakit Radio]]></category>
		<category><![CDATA[Radio]]></category>
		<category><![CDATA[Tabung Hampa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://3senyuman.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[EMPAT puluh tahun silam, hampir setiap orang mampu merakit radio dalam beberapa jam. Yang  dibutuhkan  pun  hanya  beberapa komponen sederhana: sebuah  kristal  atau  tabung hampa, batere, dan sebuah kumparan. Bila semua unsur itu dihubungkan dengan sejumlah kawat dibantu sebuah diagram rangkaian, jadilah radio. Tentu saja setelah semua, sebagai satu kesatuan, dipasang pada sebuah kerangka kayu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=278&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">EMPAT puluh tahun silam, hampir setiap orang mampu merakit radio dalam beberapa jam. Yang  dibutuhkan  pun  hanya  beberapa komponen sederhana: sebuah  kristal  atau  tabung hampa, batere, dan sebuah kumparan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-278"></span>Bila semua unsur itu dihubungkan dengan sejumlah kawat dibantu sebuah diagram rangkaian, jadilah radio. Tentu saja setelah semua, sebagai satu kesatuan, dipasang pada sebuah kerangka kayu dengan sekrup.</p>
<p style="text-align:justify;">Sederhana sekali. Kesederhanaan ini melahirkan konsekuensi, siapa pun yang merakit radio, paling  tidak, sudah mengetahui beberapa prinsip penerimaan radio seper­ti deteksi, cuning, dan amplifikasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun lima puluhan itu, memang, tidak seorang  pun  mampu  menyaksikan sejumlah elektron  mengalir  dari  filamen panas tabung hampa. Juga, tidak seorang pun mampu  menangkap gelombang elektromagnet bergerak dan beresonan­si pada sebuah kumparan variabel. Namun, berurusan dengan obyek-obyek  yang  tak dapat dipegang itu, setiap orang yang kurang berorientasi kepada hal-hal teknis pun  masih mampu memahami mekanisme yang terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena  itu, mereparasi radio rusak dapat  disebut  permainan kanak-kanak. Entah karena batere habis,  hubun­gan  antarunsur yang kendur atau mungkin karena  sebagian   komponen  yang rewel. Semua masih berkisar  pada  masalah  mencari  letak kerusakan dan memperbaikinya dengan  lang­sung.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun,  sejak  itu,  teknik  radio  telah  semakin berkembang  pesat.  Bagi David Sarnoff  sekalipun,  orang  pertama  yang “mengkotakkan” radio, sebuah  radio  modern  mungkin  sudah begitu jauh di luar jangkauan idenya  pada  tahun  1916.1  Walau prinsip-prinsip radio  masih  tetap,  perangkat komunikasi itu telah banyak mengalami  peruba­han.  Daya  tangkap, ketepatan  frekuensi,  dan  kualitas        suaranya tidak lagi dapat dibandingkan dengan masa  empat puluh  tahun silam. Sejalan dengan  pertumbuhan  stasiun-stasiun  pemancar  yang lebih modern, penggunaan  FM dan bahkan FM stereo telah  semakin  dikembangkan,  disusul  penggunaan  remote control dalam pencarian dan  pemilihan frekuensi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya,  seiring  dengan kemajuan  itu,  timbul beberapa  pengaruh negatif. Sejarah  telah  menunjukkan, pertumbuhan  dan perkembangan radio telah  didukung  oleh  serangkaian   penemuan.  Setelah  Marconi   mengembangkan  pemancar kumparan latu pada tahun 1897, secara berurutan, Pupin,  Fessenden, Fleming, De Forest, dan Amstrong  men­yumbangkan  temuan mereka: kumparan terbebani,  radiofon, tabung dua elemen, tabung tiga elemen, untaian  regenera­tif,2  sampai akhirnya di tahun 1948,  ketika  transistor mulai diperkenalkan oleh Bardeen, Brattain, dan  Shockley  di Amerika, dimulailah era teknik radio yang lebih rumit dan renik.3</p>
<p style="text-align:justify;">Bila transistor yang kemudian dipasarkan di  tahun limapuluhan menggantikan lampu tabung, penemuan berikutn­ya rangkaian cetak menggantikan transistor. Lalu,  teknik  radio semakin renik setelah muncul rangkaian terpadu yang berwujud sekumpulan komponen dalam sebuah  chip  silikon yang  amat kecil. Akibatnya, sebuah radio modern menjadi kian luarbiasa rumit. Komponennya yang renik dalam chip silikon menjadikannya sulit untuk dipahami. Pelahan-lahan orang  tidak  mampu lagi membuat radio  sendiri,  apalagi harus memperbaiki kerusakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Gejala ini umumnya, terjadi hampir di  segala bidang  kehidupan  yang mengoperasikan alat elektronik. Dulu, pemanggang roti besi yang rusak mudah diperbaiki,  tapi  tidak untuk oven yang menggunakan gelombang  mikro. Choke  mobil biasa dapat diatur dengan mata  dan  tangan, tapi  choke mobil dengan sistem  elektronik  dapat  saja  menjadi  lepas  kontrol. Dulu,  kanak-kanak  masih  dapat menikmati  bandul  jam dinding di rumah nenek  yang ber­goyang-goyang, kini mereka tak akan pernah dapat memahami mekanisme digital Seiko yang menghiasi dinding, termasuk jenis yang setiap hari melilit  di  pergelangan  tangan mereka. Dulu, kanak-kanak masih dapat menatap baling-baling  pesawat terbang Dakota milik Garuda, kini  mereka tak dapat  menangkap mekanisme yang  sama  pada  pesawat  Jumbo Jet.</p>
<p style="text-align:justify;">Jelas sudah, sifat langsung hubungan antara  manu­sia dengan benda pada masa lalu, yang mempercepat pemaha­man mereka mengenai mekanisme suatu benda secara alamiah, pelahan-lahan telah menghilang. Malah, sebagian besar  di  antara  mereka,  dengan  begitu  saja  memasrahkan  diri,  membiarkan   wilayah-wilayah  kehidupan  mereka dijajah  mikroelektronik yang bernama kemajuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal  ini  tampaknya akan terus  berlangsung  tanpa dapat  dicegah.  Penunjang utamanya,  setiap  orang  akan  menghadapi kesulitan dalam mengikuti perubahan dari suatu penemuan  ke  penemuan lain. Hanya dalam  waktu  singkat, sesuatu  yang baru dapat saja segera menjadi  kuno.Usia sesuatu semakin relatif “sementara”.Sejarah  telah  mencatat,  tabung  hampa  udara  dikembangkan  para  ahli  selama  33 tahun, 1882-1951, radio  disempurnakan  mereka selama  15  tahun,  1947-1950, disusul penemuan  batere matahari  dalam  waktu 2 tahun, 1953-1955. Karena itu,  mungkin benar kata para ilmuwan, kalau laju  percepatan itu  berlangsung  terus, pada tahun  2500  nanti, sebuah penemuan dasar dapat diubah menjadi alat siap pakai hanya dalam satu kedipan mata per satu mikrodetik.4</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab  itu, para penggemar, pemilik, dan pengguna pemancar dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa  pemahaman  mereka  terhadap pesawat pemancar akan  terus  digerogoti  oleh  penemuan-penemuan yang tidak tertentukan  batasnya. Dan,  kesulitan  yang  telah dapat  mereka  rasakan  kini  adalah  ketidakberdayaan dalam merakit pemancar  sendiri, apalagi  memperbaiki  kerusakan-kerusakan yang  ada. Di­perkirakan, pada tahun 1985, hanya sekitar sepuluh persen dari  mereka  yang  mampu menguasai  seluk  beluk  teknik radio.  Jika  pemilik pemancar radio resmi saat itu  ada 55.000,  berarti 49.500 di antara mereka  termasuk buta elektronik.5  Kalau pada tahun 1993 ada sekitar 104.527,6berarti  angka buta elektronik itu dari tahun  ke  tahun  kian meningkat menjadi sekitar 94.074 orang. Akibatnya, ketergantungan  diri mereka pada para tangan-tangan pen­guasa elektronik semakin nyata.</p>
<p style="text-align:justify;">Kunci persoalan ini, tentu, hanya dapat  ditemukan pada diri mereka sendiri. Paling tidak,  orientasi-orien­tasi para penggemar, pemilik, dan pengguna  pemancar  sebagian  besar memang bukan pada  penguasaan  teknologi,  tapi hanya sebatas user. Mereka hanya mau menjadi  komsu­men, bukan produsen.</p>
<p style="text-align:justify;">Perilaku semacam ini, tanpa sadar, menenggelamkan kehidupan mereka ke dalam dunia yang semakin tidak terpa­hami. Pemancar yang dekat semakin menjadi  asing. Radio yang berdendang semakin menjadi ajaib. Melalui mikroelek­tronik juga, mereka menjadi semakin tidak mengerti dengan dunia mereka</p>
<ol>
<li>Melvin  L. De Fleur dan Sandra J. Ball-Rokeach,  Theo­ries  of  Mass Communication, Longman Inc., New  York, 1982, h. 79-80.</li>
<li>Henry  Margenau,  et. al., Ilmuwan, terj.,  J.  Drost, Tira  Pustaka Jakarta, Jakarta, (tanpa tahun), h. 146-147.</li>
<li>Egon Larsen, Kisah Penemuan dari Masa ke Masa,  Pener­bit Djambatan, Jakarta, 1979, h. 61.</li>
<li>Margenau, et. all., Op. cit., h. 148.</li>
<li>Mohammad  Fauzy, “Penonjolan Kegiatan Non  Amatir  Tak Perlu  Dirisaukan”,  Sinar Harapan Minggu, 22  Desember 1985.</li>
<li>“Presiden Minta ORARI Tingkatkan Perannya”, Kompas,  9 Juli 1993.</li>
</ol>
<p style="text-align:right;"><em><strong>Mohammad Fauzy</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/3senyuman.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/3senyuman.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/3senyuman.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/3senyuman.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/3senyuman.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/3senyuman.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/3senyuman.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/3senyuman.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/3senyuman.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/3senyuman.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/3senyuman.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/3senyuman.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/3senyuman.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/3senyuman.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=3senyuman.wordpress.com&amp;blog=9260005&amp;post=278&amp;subd=3senyuman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://3senyuman.wordpress.com/2009/12/07/mikroelektronik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c458077a6deb4cc9fb50d6e7fd7319e0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">3senyuman</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
