E N I

by 3senyuman

Nestor EDitTak ada yang mustahil bagi yang berani mencoba.

(Iskandar Zulkarnain, Raja Macedonia)

Pukul 03. 00 dini hari, di bulan Agustus 2006.  Di salah satu kawasan di Hongkong, Eni Yuniarti, seorang pembantu rumah tangga asal Ponorogo, Jawa Timur, masih sibuk menyetrika. Terlalu banyak pekerjaan? Bukan! Itu karena tiga jam kemudian ia harus mengejar pesawat ke Amerika Serikat. Di sana ia akan bertemu dengan anggota Komite Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Perempuan (CEDAW) di Markas PBB, di New York.

Cerita dongeng? Bukan. Eni, sebagai Sekjen Indonesian Migrant Worker Union (IMWU), diminta berbicara mewakili buruh migran Hong Kong. Ini bukan bicara omong kosong. Di pertemuan itu, Eni melobi Komite CEDAW agar mendesak pemerintah Hong Kong menghapus aturan imigrasi soal two-week rule dan new condition of stay (NCS).

Two-week rule adalah ketentuan pembatasan masa tinggal dua pekan bagi PRT  asing yang dipecat atau habis kontrak. Putus kontrak sekaligus mengakibatkan habisnya visa. Waktu dua minggu tidak cukup untuk mendapatkan majikan baru. Sedang NCS adalah larangan bagi PRT asing berganti pekerjaan selain pembantu, meski ia sudah bekerja puluhan tahun. Kedua peraturan ini dianggap sangat diskriminatif.

Hebat sekali. Siapa sebenarnya Eni Yuniarti? Ia lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 7 Juni 1980. Selepas dari SMAN 3 Ponorogo, tahun 1999, Eni ingin kuliah, tapi orangtuanya tidak punya uang. Ia lantas mendaftar menjadi TKW. Niatnya hanya satu: mendapat duit dengan cepat, mencari uang untuk biaya kuliah, kemudian menjadi guru di daerah terpencil. Tapi, perjalanan  kemudian mengantar dia  menjadi aktifis buruh migran wanita berkelas internasional.

Dari mana datangnya semua itu? Ceritanya, enam bulan setelah bekerja di Hongkong, Eni bergabung dengan IMWU, untuk mengikuti kursus bahasa Inggris. IMWU adalah gabungan beberapa organisasi dari belasan organisasi buruh migran asal Indonesia yang tumbuh menjamur di Hongkong. Tapi Eni malah terpilih jadi Sekretaris IMWU (2000 -2001), lalu jadi Ketua Komite Pendidikan (2001 – 2002), kemudian jadi Sekjen (2005 – 2007).

Jabatan itu membuat kepak sayap Eni melambung tinggi. Selain pertemuan di Markas PBB tadi, November 2006, ia bahkan mengikuti dua pertemuan internasional dalam satu bulan, yaitu Konferensi Regional Buruh Migran di Singapura dan Pertemuan CEDAW di Bangkok, Thailand.

Akibat aktivitasnya, tahun 2004, Eni pernah dipecat majikannya karena ngotot  mengikuti Konferensi Regional Buruh Migran di Korea Selatan. Beruntung, ia kembali mendapat majikan yang lebih pengertian. Lebih dari itu, ia  makin sadar, ia dan rekan-rekannya harus memperjuangkan martabat. Beberapa kali mereka menggelar unjuk rasa, untuk memprotes diskriminasi tadi.

Lewat IMWU, Eni dan teman-teman  memperjuangkan hak-hak mereka yang ditindas, seperti kasus-kasus underpayment (gaji dibawah standar). Ketentuan upah minimum yang berlaku di Hongkong untuk PRT asing pada tahun 2004 semestinya 3.270 dolar Hongkong.  Tapi  tercatat, 42 persen BMI menerima gaji rata-rata 500 -2.000 dolar. Peraturan di Hongkong,  majikan yang terbukti memberi gaji tidak sesuai ketentuan upah, diancam hukuman penjara 1,5 tahun dan denda 350.000 dolar. Tapi kenyataannya tidak pernah ada satu pun majikan yang kena hukum.

Paktik underpayment ini terjadi akibat ulah perusahaan tenaga kerja Indonesia (PJTKI) sejak di Tanah Air, serta sikap tidak tegas pemerintah Indonesia dan Hongkong Pemerintah Hongkong dan Indonesia telah bekerja sama dalam penempatan buruh migran sejak tahun 1980-an. Jumlah buruh migran itu terus meningkat setiap tahun. September 2006, BMI di Hong Kong telah mencapai 102.100 orang. Sekarang tentu jumlah itu jauh lebih besar.

Kisah para anak gadis, atau wanita Indonesia, yang pergi jadi TKW ke negara jiran di Asia, atau Timur Tengah, mungkin sudah menjadi cerita klise. Banyak dari mereka yang pulang membawa sukses. Tapi tak sedikit pula yang bernasib malang, disiksa majikan, diperkosa, tidak digaji, bahkan ada yang pulang nama atau jenasah. Tapi, kisah Eni tentu lebih dari sekedar sukses, karena membuat bangga dan kagum.

Dari hasil memeras keringat di negeri orang, Eni berhasil membiayai dua adiknya kuliah hingga lulus. Ia juga membangun sebuah rumah permanen dan sebuah  warung untuk ibunya di kampungnya. Adakah ia tetap ingin meneruskan kuliah dan menjadi guru di daerah terpencil?

Rasanya Eni sudah melakukan sesuatu yang tak kalah hebat dan bernilai dari itu. Seperti dikatakan Iskandar Zulkarnain, ia telah membuktikan tak ada yang mustahil bagi yang berani mencoba. Maka, mari kita renungkan Eni Yuniarti.

Nestor Rico Tambunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: