DARI UDARA TURUN KE DARAT

by 3senyuman

ADA  sebuah  luka di tangan  Baskara,  sekitar  15  senti  dari bahu sebelah kanan. Luka itu agak  menyerong,  masih basah, dan pinggirnya kehitam-hitaman. Bekas  baco­kan sebuah golok.

Ceritanya,  kira-kira seminggu lalu, Baskara  nge­brik. Waktu itu, mendadak muncul seseorang di  frekuensi.  Ia  menyuruh Baskara pindah, tapi Baskara  tidak  menggu­bris.  Terjadilah  pertengkaran di  udara  yang  kemudian berlanjut  ke  darat. Subuh itu juga,  Baskara  didatangi sejumlah  orang tak dikenal. Mereka bertengkar  sebentar.  Tidak disangka, mendadak Baskara dibacok.

Lain  lagi  cerita Matnur. Jika  Baskara  dibacok, pemuda  Betawi  ini  hampir dibacok. Itu  pun  karena  ia  cepat-cepat  mohon maaf, mengaku bersalah.  Kalau  tidak,  entah apa yang bakal terjadi.

Ceritanya,  sudah  bermalam-malam  Matnur  ngebrik dengan Maslina. Di udara, entah kapan, ia mengumbar  kata yang seronok bercampur rayuan. Rupanya, perkataan  Matnur terdengar  oleh kakak Maslina yang langsung  naik  pitam. Matnur pun diburu.

Kakak Maslina mengamuk di rumah Matnur. Ruang tamu diporakporandakan.  Alasannya Maslina masih  kecil,  baru  kelas  dua SLTP. Sebab itu, menurut kakaknya yang  menda­tangi Matnur, Maslina tidak pantas diajak bicara seronok. Tapi,  namanya  juga di udara. Menurut Matnur,  ia  tidak tahu  bahwa Maslina masih kecil. Karena mengetahui  besar  kecil seseorang saat di udara memang sungguh mustahil.

Meski begitu, bukan berarti Matnur boleh seenaknya berbicara  seronok dengan gadis-gadis yang  sudah  besar. Karena sopan santun  di udara memang patut dijaga. Jangan  sampai karena mulut badan binasa.

Masih  untung  kalau  binasa  dengan  alasan  yang  jelas.  Kalau tidak, perasaan mungkin  penasaran  seperti Acong. Suatu sore, anak Kebayoran ini mendadak  didatangi  empat  orang  tak dikenal. Tanpa  banyak  cincong,  Acong dihujani pukulan.

Alasan mereka tidak jelas. Hanya, sehari sebelumn­ya,  Acong  dituduh mengganggu frekuensi.  Padahal  sudah  tiga bulan ia tak pernah ngebrik karena berdagang  keluar  kota.  Tak heran Acong menjadi geregetan.  Apalagi  gara- gara  pukulan itu matanya bengkak dan  punggungnya  memar  kena injak. Seluruh tubuhnya terasa ngilu.

Semua  peristiwa  itu,  tentu,  dengan  sendirinya memberi  pelajaran  bahwa setiap  saat,  orang-orang  tak  dikenal  dapat  muncul. Malah, tanpa alasan  yang  jelas,  dapat datang mendadak, main pukul dan main bacok.

Hal  itu  bukan mustahil.  Lokasi  setiap  pemilik pemancar  memang mudah dilacak dengan Detection  Finder,1 semacam  radio  detektor. Namun, selain  perangkat  yang mahal  ini, jika orang-orang tak di kenal itu mengincar seseorang, dengan mudah mereka dapat pula bertanya kepada  siapa  saja  yang  sedang mangkal  di  frekuensi,  tempat  sasaran selalu bergabung dan berkomunikasi.

Setiap  pemilik pemancar, umumnya,  memang  selalu  bergabung dalam sebuah kelompok yang menguasai  frekuensi  tertentu,  tempat  ia  mangkal, bercanda,  dan  bertukar informasi. Eghes, umpama, menguasai 594, Paguyuban Warung Tegal  memblokir 592 dan 590, dan Stone mangkal  di  599. Setiap anggota kelompok frekuensi itu saling  kenal  dan  berkumpul pada waktu-waktu tertentu.

Cara  menanyakan sasaran, tentu,  tidak  langsung. Agar tidak mencurigakan, biasanya mereka mengawali pembi­caraan  dengan  ngalor-ngidul ke sana-sini,  baru  mulai  melacak  lokasi  sasaran. Apalagi, jika  orang-orang  tak dikenal  tersebut menggunakan jasa para Young Lady  untuk   bertanya. Semua urusan bisa jadi kian lancar.

Teknik lain, dengan mudah orang-orang tak  dikenal itu  mengikuti sasaran dari satu frekuensi  ke  frekuensi lain,  memonitor  pembicaraan sasarannya dengan pemilik pemancar lain, sampai mereka mendapatkan informasi  ten­tang  lokasi sasaran. Karena sasaran yang diincar  memang   tak menyadari bahwa dirinya sedang diamat-amati. Maka  ia  pun tinggal menunggu waktu untuk didatangi.

Dua  cara terakhir, selain  menggunakan  Detection Finder,  adalah teknik yang biasa dipakai para  penggemar pemancar  untuk melacak sesama mereka dan  lebih  populer  digunakan  untuk  melacak lokasi para Young  Lady.  Jadi, tidak aneh kalau orang-orang tak dikenal dapat muncul  di rumah  seseorang pemilik pemancar. Tidak aneh  pula  jika  pertengkaran  di udara dapat berlanjut ke darat,  bahkan, mirip  cerita-cerita silat almarhum Kho Phing Hoo,  pakai main bacok segala.

Sepintas lalu, tindak kekerasan ini, bagi pelaku,  tentu  tampak  rasional. Namun, dalam  kehidupan,  banyak  sekali  pikiran rasional.yang sama sekali berada di  luar apa yang umumnya dinilai normal. Tindak kekerasan, bagai­ manapun bentuknya, tidak dapat dilindungi, apalagi  dibe­narkan.  Jalan terbaik untuk menghindarkan perilaku  yang        agresif  tersebut adalah dengan menjaga  mulut,  menjauhi pertengkaran.

Frekuensi-frekuensi  di  udara kini  memang  telah dipergunakan  berbagai  kalangan.  Mulai  dari  anak-anak  sampai  orang tua, pembantu rumah tangga sampai  petinggi  negara,  dan mulai dari yang tidak  berpendidikan  sampai  yang  bergelar  doktor sekalipun,  telah  ikut  kecanduan ngebrik.  Mereka amat heterogen, bahkan  tersebar  hingga kepelosok-pelosok  terpencil.2  Hampir seluruh  frekuensi ‘dua meteran’ menjadi penuh dan ramai.

Dampak  booming  penggemar pemancar  yang  terjadi   sejak  pertengahan  1979 ini tentu saja  membuka  peluang berbagai  kerusuhan.  Seorang sosiolog, Le  Play,  pernah   berkata,  tiap-tiap generasi baru dapat disamakan  dengan  suatu  penyerbuan  dari orang-orang  biadab  kecil.  Jika  mereka lalai dilatih dan diberi pendidikan, maka keruntu­ han akan mengancam.3

Kemungkinan ini dapat saja terjadi. Sebagian besar pemilik pemancar yang menggunakan frekuensi ‘dua meteran’ adalah orang-orang tak berpendidikan di bidang komunikasi  radio. Mereka tak memiliki izin. Tak menguasai tata cara        berkomunikasi dengan perangkat yang juga mereka  dapatkan  secara gelap. Betapa kisruhnya mereka di udara.

Yang  paling  sering menjadi  sumber  pertengkaran  mereka  adalah  ganguan-ganguan  sinyal  sesama  di  saat berkomunikasi.  Karena  pemilik  pemancar  sudah   begitu   ramai,  sedang  tata  cara  menggunakannya  tidak  mereka  kuasai,  sering  terjadi perebutan  frekuensi.  Frekuensi  crowded. Masing-masing berlomba memperbesar daya  pancar.   Mereka berupaya mengalahkan daya pancar perangkat sesama.  Jika tidak, jangan harap dapat berkomunikasi dengan keras dan  jelas.  Terjadi perang sinyal.  Timbul  protes  yang kemudian berkembang menjadi pertengkaran.

Tidak  ada yang mau berusaha dan  berani  melerai.  Ikut mendamaikan pertengkaran agaknya telah dianggap sama dengan  mencari  urusan atau  malah  menambah  kericuhan,  terlebih  lagi  jika yang  bertengkar  telah  melancarkan perkataan-perkataan kotor. Kata akhir, perang dilanjutkan  ke  darat. Mengandalkan kekuatan otot, senjata, dan  ker­oyokan. Baskara didatangi sejumlah orang, Matnur disatro­ni, dan Acong dipukul tanpa banyak cincong. Bukti pengge­mar pemancar radio sudah kian sulit berkompromi dan  main hakim sendiri. Perilaku tak terpuji ini selayaknya segera  dihen­tikan.  Siapa  tahu, kini menjadi pelaku,  besok  menjadi  korban!

  1. “Disita,  65  Pemancar Radio Gelap”,  Kompas, 1 Juni 1992.
  2. “Orari  Masih Kurang Bereksperimen”, Kompas,  1 April 1991.
  3. Lysen,  Indivindu dan Masyarakat,  Sumur  Bandung,  Bandung, 1967, h. 11.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: