BRIKER DARI JEPARA

by 3senyuman

KARTINI sering sepi sendiri. Dalam usia yang kedua belas,  gadis kelahiran Mayong itu terpaksa  mendekam  di  rumah. Ia dipingit, tak boleh berhubungan dengan  manusia lain.  Maka, ia pun menghabiskan masa remajanya di balik keheningan tembok rumah Bupati Jepara.

Kasihan Kartini. Komunikasi dengan luar  terputus,  kegiatannya  dibatasi. Pagi hari, mungkin ia hanya  dapat  merenung-renungkan  nasibnya yang hendak dijadikan  raden ayu,  akan dinikahkan dengan seorang lelaki tak  dikenal. Di  malam  hari, mungkin pula Kartini harus  segera  cuci kaki dan langsung tidur. Tidak ada istilah begadang  bagi cucu  Pangeran  Ario Tjondronegoro itu, apalagi  istilah bermalam  minggu. Duh, Gusti, jagat rasanya  gonjang-gan­jing, tiada lagi terdengar kumandang Ginonjing.

Berbeda  dengan  kartini-kartini muda  masa  kini,  jagat  terasa  lebih indah dan  sumringah.  Ginonjing  di mana-mana, riuh rendah musik punk rock, hentak menghentak   gaya  Rap.  Bahkan Tari Kejang pun   sudah  dicoba.  Duh,  Gusti  benar-benar abracadabra. Mereka sudah  jauh  lebih bebas,  termasuk  dalam  memilih  pasangan,  sudah  boleh sekehendak  sendiri. Karena jaman memang  sudah  berubah.  Tak  ada  lagi tembok-tembok seperti milik  sang  Bupati.  Malah, untuk berkomunikasi dengan seorang lelaki,  mereka cukup dengan menekan tombol saja, “Brik, di sini saya, di  situ siapa, ya?”

Pemancar  radio  telah memperlancar  para  kartini  muda  itu berhubungan dengan lelaki idamannya  dan  malah  dengan siapa saja yang berkenan di hati. Mereka  bergunj­ing,  bercumbu,  dan  tiada  sungkan  begadang  sepanjang   malam.  Mereka lupa waktu, lupa makan, lupa sekolah,  dan  sembahyang.  Untuk sang lelaki idaman, tiada  segan-segan  mereka meninggalkan segala-galanya, termasuk kekasih yang  telah ada!

Diana  Runtu,  umpama,  sejak  memiliki  pemancar,  selalu  getol  di  udara. Suatu malam,  gadis  manis  ini  berkenalan dengan seorang pemuda bernama Inu. Dan, “Entah  mengapa,” kata Diana, “dari pertama kali mendengar  suar­anya  perasaan saya sudah selangit ‘wah’, udah  terbayang  kalau  pojokan (teman bercumbu, pen.) saya pasti  ganteng, apalagi dia bilang kalau masih sawahan (sekolah,        pen.)…walah…walah.”1

Diana benar-benar terpesona. Akibatnya, meski saat  itu  ia telah memiliki seorang kekasih, acara perkenalan dengan  Inu  dilanjutkannya juga menjadi jalur asmara. Setiap  malam, seusai TVRI, Diana bersama si  Inu  selalu  saling menyapa  “Yang”.

Kartini  mungkin  keheran-heranan  melihat  gejala  alam  ini. Apalagi, jika makhluk yang dicintai  di  udara  adalah  seorang  lelaki tak  dikenal,  keheran-heranannya  tentu semakin mendalam. “Cinta, apakah yang kami  ketahui  tentang  perkara  cinta  itu? Betapa  kami  akan  mungkin  sayang akan seorang laki-laki dan seorang laki-laki kasih akan  kami,  kalau kami tiada berkenalan  …,”  tulisnya kepada nona Zeehandelaar, Jepara, 25 Mei 1899.

Kartini  agaknya  benar. Namun,  apalah   artinya  keluhan  itu?  Sekali lagi, jaman memang  sudah  berubah.  Pertemuan,  cinta, dan perpisahan dapat saja  berlangsung di  udara  walau tanpa bertatap  muka.  Interaksi  dengan dunia  luar menjelang akhir abad 20 ini telah  dipermudah dengan pemancar radio.

Marshall  McLuhan dalam Understanding  Media,  The Extension  of  Man,  mengingatkan,  setiap  medium  dapat  menjadi  perpanjangan  indera manusia.2  Televisi  adalah perpanjangan  mata dan telinga. Dan, sudah  tentu,  kini, pemancar radio telah menjadi perpanjangan telinga, seka­ligus mulut kita.

Karena  itu, ide-ide Kartini  sekarang  menghadapi tantangan  yang  berat. Konsekuensi sosial dan personal  pemancar  radio, tanpa sadar, mengakibatkan para  Kartini  muda  itu  telah memingit diri sendiri di  kamar  masing-masing.  Pemancar  radio telah mengubah jadual  dan  pola kehidupan  mereka. Malam menjadi siang dan siang  menjadi  malam.

Dulu, ketika Kartini menjalani pingitan di bilikn­ya  yang  tiada begitu lapang,  hatinya  sangat  tersayat  karena ia merasa dipaksa. Padahal, ia ingin sekali  bebas dan sekali lagi bebas dari kungkungan adat itu. Ia  ingin  menimba  ilmu  sebanyak-banyak dan  sedalam-dalamnya.  Ia sadar, masih banyak yang belum diketahui untuk  memajukan  diri dan seluruh bumi putera, khususnya kaum perempuan.

Untung, untuk melepaskan rasa sepi selama dikaran­tina orang  tuanya, ia menemukan jalan yang  baik.  Dan,  sekali  lagi, untung saat itu belum ada  pemancar  radio. Kartini memilih surat sebagai medium untuk mengungkapkan kegelisahan, cinta, kesunyian, dan jalan pikirannya.

Surat-surat  Kartini menunjukkan, ia sangat  tegas menentang  adat  meski mengetahui adat  itu  tak  gampang  diubah.  Kepada Nona Zeehandelaar, 23 Agustus  1900,  ia  juga menulis, “Selama ini, hanya satu jalan terbuka  bagi gadis  bumi putera akan menempuh hidup: kawin.” Dan,  hal ini  jelas  disadarinya  betul, namun,  ia  tidaklah  mau  pasrah begitu saja.

Sikap ini diperlihatkannya dalam surat  terdahulu, 25  Mei  1899, “Ingin benar hati saya  berkenalan  dengan  ‘seorang  gadis modern’, gadis yang berani  yang  sanggup  tegak sendiri, gadis yang saya sukai dengan jantung  hati  saya, anak  gadis  yang melalui  jalan  hidupnya  dengan  langkah  yang  tangkas,  dengan riang  suka  hati,  tetap gembira  dan asyik, yang berdaya upaya bukan hanya  untuk        keselamatan bahagia dirinya sendiri saja, melainkan  juga untuk masyarakat yang luas besar itu, yang ikhtiarnya pun akan membawakan bahagia kepada banyak sesamanya manusia.”

Kartini  menulis dan mengirimkan surat itu  secara pribadi  kepada Nona Zeehandelaar di negeri Bunga  Tulip,  Belanda. Namun, kartini-kartini muda tentu dapat membaca goresan  penanya  di  masa kini dan  di  masa mendatang.  Mereka, mudah-mudahan dapat memahami bagaimana seharusnya seorang perempuan mesti bersikap dan bertindak.

Kalau  mereka  masih memilih jalan  hidup  seperti sekarang, kita tentu segera kehilangan gadis-gadis modern  yang  gesit dan tangkas seperti yang diharapkan  Kartini. Bagaimana mungkin ditemukan gadis-gadis seperti itu  jika ternyata  mereka  lebih banyak mengurung diri  di  kamar, masuk sekolah dengan mata merah, pekerjaan rumah terbeng­ kalai,  kepala pusing penuh soal asmara, bercumbu  dengan   laki-laki tak dikenal, dan setiap malam begadang, ngebrik  di udara ?

Barangkali,  sekali lagi, andai saja  Raden  Ajeng  itu tahu ulah gila para kartini muda yang memiliki peman­car radio kini, tentu ia akan kecewa atau malah  keheran-heranan.  Kok, para gadis modern itu dikuasai  teknologi.  Mbok, ya mereka dong yang seharusnya menguasai.

Tapi,  yah,  sebagai mana Kartini  dahulu  melawan adat,  perilaku para kartini muda kini pun  adalah  suatu  perlawanan.  Teknologi, secanggih apa pun, hanya  sekedar  alat.  Dan  setiap alat di mana pun dan  kapan  pun  akan melahirkan  penyimpangan-penyimpangan.  Bedanya, dahulu Kartini menggunakan surat, kini anak cucunya  menggunakan  pemancar radio.

Kasihan Kartini, jaman memang telah berubah.

  1. Seluruh hal tentang Kartini dan kutipan surat-suratnya berasal dari karya R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, terj., Armijn Pane, Balai Pustaka, Jakarta, 1990. 1.
  2. Diana Runtu, “Akibat Jalur Asmara,” Idola, 1-15 Oktob¬er 1988. 2.
  3. Marshall McLuhan, Understanding Media, The Extension of Man, A Mentor Book, New York, USA, 1964, h. 23.

One Comment to “BRIKER DARI JEPARA”

  1. KAMI BANGGA DENGAN JEPARA YANG MELAHIRKAN KARTINI,,, SMG PENERUS DI JEPARA MAKIN BERJAYA ,,, SALAM AHMAD JOGJAKARTA 087860801594

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: