BERBURU JANDA DI UDARA

by 3senyuman
Berburu ke gurun Sahara
Dapat unta belang kaki
Berburu janda di udara
Risikonya tanggung sendiri

PENGGEMAR pemancar dan para janda tentu tak  boleh marah. Pantun di atas tak hanya lahir begitu saja. Ceri­tanya  begini  : Zaldi, tentu bukan nama  asli,  mendadak bingung. Entah mengapa, para gadis yang selama ini menja­di  sahabatnya berkomunikasi mulai menjauhkan  diri. Tak mau  lagi bercanda, tak mau lagi bertegur sapa, dan  tak  mau lagi bersua di udara. Dan,  Zaldi  yang selalu tampak dandy  itu  lantas  semakin  bingung ketika hampir seluruh mahasiswi di kam­pusnya, juga  ikut-ikutan menghindar, tak  mau  bergaul. Zaldi benar-benar jadi jengkel.

Akhirnya, ia pun kian menjadi jengkel ketika semua  teka-teki itu mulai tersingkap. Betapa tidak,  “Habisnya,  kamu perek, sih. Mainannya janda melulu,” ujar Prasetyo  ini,  seorang  sahabat dekatnya di udara,  setelah Zaldi mendesaknya untuk berterus terang. Dengan catatan,  perek di sini berarti pemuda eksperimen.

Sebuah  vonis  yang berat. Tapi, apa  boleh  buat. Zaldi yang tampak alim itu memang begitu. Selama setahun terakhir  ini, ia memang suka sekali memburu  janda-janda di udara. Hanya dengan modal sebuah pemancar plus sedikit bakat  Cassanova, ia beravonturir dari frekuensi ke  fre­kuensi. Pagi sore,  siang malam, ia memburu janda; berke­nalan, bercengkrama, berjanji, lantas bertemu dan indehoi di bumi.

Semua itu  tentu ada  motifnya. Setelah  making love, biasanya, Zaldi yang berusia dua puluh empat  tahun  ke  atas itu mendapat ‘santunan’ kemeja, celana,  sepatu,  dan malah, kadang-kadang ia ditraktir makan dan  menginap di hotel berbintang tiga. Nikmat.

Memang.  Buktinya, setelah kisah cinta tanpa  rasa  itu  sampai  ke  kuping Yono—juga tentu bukan nama asli—tak pelak lagi, ia pun lantas ingin  tahu  lebih jauh. Dengan segera pemuda berusia dua puluh tujuh  tahun   itu  on the air. Sesudah kasak-kusuk dengan sesama  rekan  di  udara, ia pun mendapat rekomendasi. Yono mendapatkan cara-cara  menghubungi  para janda  itu  dengan  sedikit  petunjuk  yang  tentu  tak pantas diungkapkan di  sini. Maklum, bisa-bisa tulisan ini malah menjadi Teknik Ber­buru Janda di Udara. Yang penting, kasusnya sajalah: Yono pun mengenal para janda.

Berbeda dengan Zaldi, dalam arti, bukan karena  ia  memiliki  kelainan.  Yono  tak  berkeinginan  mendapatkan kemeja, celana, sepatu, atau pun ditraktir di hotel-hotel  berbintang  tiga. Ia bukan fakir miskin atau  anak  yatim piatu. Menurut Yono, ia hanya iseng-iseng saja. Toh,  tak  ada salahnya karena para janda itu juga  mengiseng-isengi  dirinya.  Sama-sama. Akibatnya, gara-gara keisengan  itu­  lah,  kini,  Yono berkenalan dengan  seorang  raja,  raja  singa.

Auman sang Raja tentu  sangat  mencemaskan  hati  Yono,  sama seperti ketika Zaldi mencemaskan  nama  baik. Tapi, itu tentu belum seberapa. Yang paling  mencemaskan, ulah  mereka itu menunjukkan: kehadiran  pemancar  radio sebagai  alat  komunikasi sudah pula  mengguncang  nilai-nilai hubungan antar manusia, antara pria dengan wanita.

Memburu  janda di udara karena iseng seperti Yono maupun  karena  ingin  mendapat  imbalan  seperti  Zaldi, paling  tidak, menunjukkan perendahan  martabat  manusia.   Para janda dianggap sebagai obyek permainan  semata-mata. Janda  dianggap  bak primadona nan cantik,  suka  mencari   lelaki,  bagi-bagi rejeki, dan mirip mesin cinta pelepas sepi.

Di  sini, harkat wanita sebagai manusia, justeru dari jenis yang melahirkan pria ke dunia, telah diabai­kan. Dan, terhadap wanita, goresan  semacam  ini  telah berlangsung sejak berabad-abad. Ia selalu dianggap seba­gai makhluk  yang lebih rendah  derajatnya  dibandingkan  dengan pria.

Konon, sang filsuf Plato pernah berkata, wanita adalah keturunan kaum pria. Setiap pria pengecut, pada kelahirannya yang berikut, akan menjadi  wanita. Malah,  Aristoteles  yang bijaksana pun ikut mencela, jika  wanita mempunyai jiwa, jiwa mereka tidaklah sepenuh milik pria.

Begitu juga Proudhon, Schopenhauer, dan Nietzsche. Wanita, antara lain dianggap bentuk pengurangan kaum pria di  dunia. Pria dianggap makhluk transenden,  mengatasi segalanya,  karena  itu pria lebih mulia. Di sisi lain, wanita dianggap  pula sebagai makhluk yang  kalau  masih muda seorang  pecinta, setelah tua pengaku  dosa.1   Dan  kini, rupanya, penggemar pemancar radio coba pula  menam­bahkan, kalau sudah janda, ia patut diburu. Edan.

Tapi, lebih edan lagi adalah, para janda yang  mau   diburu  itu.  Penggemar pemancar seperti Zaldi  dan  Yono juga  dijadikan  semacam obyek, mirip permen  karet  yang   dapat dikunyah-kunyah di waktu senggang sebagai pelampias  kebutuhan biologis. Hal ini tentu melepaskan harkat  kaum pria yang menurut proses penciptaan adalah awal mula dari seorang wanita, berasal dari tulang iganya. Apalagi, jika  sampai  para  janda tersebut  menganggap  mereka  sebagai  makhluk eksperimen untuk dikecap dalam aroma making love,  bisa dibayar, dan bisa diiseng-isengkan juga.

Maka,  lengkaplah  sudah,  hubungan  mereka—yang  memburu  dan diburu—semata-mata hanya berdasarkan  pada  body  dan body. Tubuh berhubungan, jiwa terlepas.  Saling  obyek-obyekan.  Hanya jasmaniah, tidak  rohaniah. Karena itu,  yang ada hanya kenelangsaan. Hubungan  yang  saling  mengobyekkan itu, sebagai mana pernah dikemukakan  filsuf  Sartre, secara tak langsung melemparkan manusia ke  dalam kesepian.  Hal  ini akan sangat  mencolok  jika  hubungan mereka hanya berdasarkan ‘jual-beli’ ekonomis belaka.2

Tapi,  yang paling jelas, memburu janda  di  udara karena  iseng seperti Yono maupun karena  ingin  mendapat  imbalan seperti Zaldi, telah mencerminkan bahwa  perilaku  manusia,  bagaimanapun,  sangat  dipengaruhi  lingkungan.  Pemancar radio telah memberikan kemungkinan – kemungkinan yang jauh lebih luas bagi hubungan antarmanusia. Hubungan   antara  pria  dengan wanita, karena  itu,  menjadi  lebih  terbuka.  Pemancar  radio telah  menguak  dinding-dinding gedung  yang  megah,  meneroboskan  daya  pengaruhnya  ke seluruh penjuru kota, mengawali pertemuan-pertemuan,  dan memudahkan  komunikasi-komunikasi di antara mereka.  Per­buruan telah dimulai. Sebagaimana halnya  kesehari-harian kita, bukankah perburuan pun sudah menjadi hal yang biasa dalam segala bidang kehidupan ?

Sang  pujangga  Ronggowarsito,  1802-1873,  seabad yang lalu sudah melukiskannya:

Mengalami jaman edan
Kita sulit menentukan sikap
Turut edan tidak tahan
Kalau tidak turut edan
Kita tidak kebagian
Menderita kelaparan
Tapi dengan bimbingan Tuhan
Betapa pun mereka yang lupa
Lebih bahagia yang ingat serta waspada
  1. TH.  Sumartana, “Pasal Perempuan”, Tempo, Jakarta,  27 April 1985.
  2. S.  Poespowardoyo dan K. Bertens, eds., Sekitar  Manu­sia, PT Gramedia, Jakarta, 1983, h 51-53.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: