ARTI ILMU DAN ILMU KOMUNIKASI

by 3senyuman

Para Ilmuwan sepakat bahwa inti ilmu adalah teori. Tanpa teori tidak ada ilmu. Jadi, teori, bisa dikatakan adalah ilmu itu sendiri. Secara sederhana, teori adalah hubungan dua konsep atau lebih yang telah teruji kebenarannya. Hubungan dua konsep atau lebih tentu abstrak. Teruji tentu saja konkrit. Jadi teori mempunyai dua dimensi abstrak dan konkrit. Ketika disimpulkan, dia menjadi abstrak. Ketika diteliti dia menjadi konkrit. Abstraks merupakan hasil generalisasi, sehingga bersipat universal, berlaku umum: kapan saja dan dimana saja. Konkrit adalah realitas yang masih dapat diindra, dia merupakan pengalaman empirik, empirisme.

Konsep adalah suatu  istilah yang mewakili beberapa atau sekelompok fenomena. Contoh: fenomena gigi gemeretak, mata merah dan melotot, tangan mengepal dikonsepkan menjadi: marah. Jadi, konsep dalam ilmu berbeda dengan konsep dalam pengertian sehari-hari yang bermakna draft. Pebahasan mendalam tentang hal tersebut akan ditemui  pada tulisan mendatang.

Ilmu atau science (Inggris) atau wissenschaft (Jerman) tentu merupakan pengetahun (knowledge, Inggris; skunde, Jerman). Namun, merupakan pengetahuan yang logis, teratur dan disiplin. Disiplin karena dia selalu mempunyai ruang lingkup, tidak ngawur kesana-kemari. Oleh karena itu pula, pengetahuan ini juga objektif. Objektif berkaitan dengan empirisme dan objek kajian ilmu itu sendiri. Yakni, apa yang dikajinya di dunia empiris itu. Objektif juga berkaitan dengan terlepas dari kepentingan. Penyimpulan seorang ilmuwan selalu diarahkan ke objektivitas. Objektif berarti apa adanya, sesuai dengan yang ada di alam, di dunia empiris. Untuk menguji secara objektif dari yang abtrak tadi di dunia empiris, diperlukan metode. Metode adalah prosedur, cara, teknik pengujian. Tanpa prosedur, cara, dan teknik  yang benar dan teratur, ilmu akan hilang keilmuannya. Dia tidak lagi universal, tidak lagi objektif, tidak lagi disiplin.

Hasil ilmu akhirnya dikodifikasikan/disusun secara sistematis: teratur, konprehensif, dan rinci dalam sebuah karya ilmiah.

Ciri Ilmu

Berdasarkan penjelasan tadi, dapat disimpulkan ilmu bercirikan:

  1. Pengetahuan, yakni sekumpulan persepsi atau gambaran orang terhadap sesuatu. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia tentang sesuatu, di sini belum ada batasan.Contoh: pengetahuan agama, pengetahuan kemasyarakatan, pengetahuan kesenaian dsb.
  2. Objektif, apa adanya tidak berkecenderungan, tidak memihak. Ilmu konsen terhadap objek kajiannya, bukan orang yang berkepentingan, bukan orang yang membayar penelitian.
  3. Universal, berarti berlaku di mana saja, kapan saja, dan boleh diuji oleh siapa saja, asal sesuai dengan metode dan prosedur yang baku dan benar. Hukum grafitasi, contohnya.
  4. Metodis, berarti berdasarkan metode tertentu. Setiap disiplin ilmu mempunyai prosedur, cara, dan teknik tertentu dalam penelitiannya guna mengembangkan dan dan memverifikasi teori yang sudah ada.
  5. Logis/Rasionalisme; ilmu menjunjung suprenmasi akal. Semua proses dan kesimpulan selalu berdasarkan pertimbangan logika. Hal-hal yang tidak rasional tidak menjadi pertimbangan ilmu.
  6. Empirisme. Ilmu selain rasional juga dapat diuji secara empiris. Bila pengetahuan yang logis itu tidak dapat diuji secara empiris, maka dia belum termasuk ilmu.
  7. Sistematis. Ilmu disusun secara teratur, konprhensif dan rinci; dari awal hingga akhir

Apakah Ilmu Komunikasi memang suatu Ilmu?

Kemudian, apakah komunikasi yang dikaji di universitas betul sebuah ilmu? Atau dia hanya suatu kajian pengetahuan saja? Untuk membuktikannya, anda tinggal mensubstitusikan definisi komunikasi yang sudah anda pelajari.

Komunikasi adalah proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari manusia satu kepada manusia lain. Jadi, ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari manusia satu kepada manusia lain.

Komunikasi adalah pengetahuan, bukan sekedar keterampilan, dia diketahui bahkan dipahami sebagai proses penyampai lambang-lambang yang bermakna dari manusia satu kepada manusia lain.

Ilmu Komunikasi jelas objektif, dia melakukan proses, prosedur, dan penyimpulan. Pengujian berdasarkan benar-salah, bukan berdasarkan seharusnya. Berdasarkan data-data,  bukan berdasarkan tahayul dan keinginan. Dia akan selalu konsentrasi ke objek kajiannya yakni proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari manusia satu kepada manusia lain; bukan kepada orang yang menyuruh menelitinya. Sehingga, hasilnya bisa digunakan oleh siapa saja.

Karena objektif, tidak berdasarkan kepentingan subjek tertentu, maka ilmu komunikasi juga bersipat universal. Dia berlaku di mana saja (Inggris, Indonesia, Baduy, atau lainnya), kapan saja (sekarang, besok, atau lusa), dan bisa diuji oleh seiapa saja (Ilmu komunikasi bukan milik sarjana komunikasi saja. Orang disiplin ilmu lain silakan mengujinya dengan metode yang baku dan benar. Dia berbeda dengan pengalaman yang sipatnya personal dan tidak bisa diuji oleh siapa saja dan berlaku di mana saja. Dia berlainan dengan ideologi yang digenggam erat penganutnya!

Ilmu Komunikasi juga mempunyai metode tertentu dalam mengkaji proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari pihak satu kepada pihak lain. Metode ini umumnya sama untuk semu ilmu. Hanya titik tekan yang berbeda. Misal Antropologi menekankan kepada metode kualitatif. Sedangkan Fisika menekankan ke metode kuantitatif. Ilmu Komunikasi menggunakan keduanya. Jadi di Ilmu Komunikasi bersipat metodis.

Ilmu Komunikasi jelas merupakan pengetahuan yang berdasarkan logika oleh karena itu dia logis. Tidak ada yang dipelajari dalam proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari manusia satu kepada manusia lain yang tidak logis. Bahkan dari makna “proses” saja sudah menggambarkan urutan peristiwa yang logis.

Karena komunikasi juga dikaji berdasarkan metode tertentu di dunia empiris, maka diapun dapat diuji secara empiris. Dia bukan logika semata –apalagi khayalan–melainkan diverifikasi di dunia empiris. Dia memenuhi syarat ilmu empirisme.

Berdasarkan pengujian menggunakan ciri-ciri ilmu tersebut, Ilmu komunikasi teruji sebagai sebuah ilmu.

Pembuktian Ilmu Komunikasi Berdasarkan Definisi Ilmu

Ada cara lain menguji apakah Ilmu komunikasi benar sebagai sebuah ilmu, yakni dengan mensubstitusikan defisi Ilmu komunikasi ke dalam definisi Ilmu. Hatta mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang teratur perihal hukum sebab-akibat. Hukum adalah teori yang sudah mapan, berlaku kapan saja, di mana saja, dan boleh diuji siapa saja.

Sebenarnya teori atau hukum hasil ciptaan Tuhan. Hanya saja dia ditemukan oleh orang-orang yang berpikir. Hukum Newton, bukan berarti Newton yang menciptakan, tapi Newton menemukan hukum Tuhan itu. Karena dia penemunya dikatakan sebagai Hukum Newton. Pancasila, Sukarno penemunya, bukan penciptanya. Karena penciptanya jelas Tuhan. Karena Sukarno penemunya, dia disebut penggali Pancasila (Sukarno sendiri mengakuainya, dia bukan pencipta tapi penggali; The Digger)

Pengetahuan yang teratur (telah dijelaskan) perihal hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat mengisyaratkan sesuatu peristiwa  dipastikan ada penyebabnya: jika begini maka begitu, jika X maka Y dan seterusnya. Besi jika dipanaskan memuai, jika volume diperbesar, maka tekanan kecil dsb.

Ilmu Komunikasi jelas mengandung hukum sebab akibat. Misal, jika komunikator berkredibilitas tinggi maka komunikan akan bersikap setuju terhadap IS-nya. Bahkan, proses komunikasi pun merupakan rangkaian sebab akibat. Komunikator berpikir dan merasa mengakibatkan perumusan IS, IS disampaikan mengakibatkan diterima komunikan. Karena IS diterima komunikan mengakibatkan komunian berpikir dan merasa (efek), yang pada gilirannya dia menyampaikan feedback (IS juga).

Dengan demikian, Ilmu Komunikasi memang betul merupakan sebuah disiplin Ilmu.

IS adalah isi sampaian (content of sending). Penulis sengaja menghindari istilah tunggal: pesan (message). Karena yang disampaikan komunikator tidak hanya pesan (indikasi komunikator punya otoritas lebih tinggi; dus, komunikasi jadi linear, implikasi modelnya pun, model-model linear!), melainkan juga pernyataan (statement) dan pertanyaan (question). Mengenai hal ini, akan kita diskusikan lebih lanjut dalam bahasan materi berikutnya, insya ALLAAH!

Objek Materia dan Objek Forma

Setiap Ilmu dipastikan mempunyai objectiva materiale dan objectiva formale. Objek materia adalah materi yang dikaji oleh ilmu tersebut. Sedangkan objek forma adalah dari sudut mana materi tersebut dikaji. Ilmu Sosial berobjek materia manusia sama dengan ilmu kedokteran (Ilmu Alam). Namun Ilmu Sosial berobjek forma manusia dalam hubungannya dengan manusia lain. Sedangkan kedokteran berobjek forma manusia sebagai organisme.

Dua dari ilmu sosial adalah Sosiologi dan Ilmu Komunikasi. Dua ilmu ini karena satu rumpun, maka berobjek materia sama yakni manusia dalam rangka hubungannya dengan manusia lain. Namun, keduanya berbeda dalam objek forma. Sosiologi berobjek forma: interaksi sosial, proses sosial, stratifikasi sosial, dan lembaga-lembaga sosial; sedangkan Ilmu komunikasi berobjek forma proses penyampain lambang-lambang yang bermakna dari manusia satu kepada manusia lain.

Dapatlah disimpulkan bahwa:

  1. Objek materia ilmu-ilmu dalam satu rumpun yang sama adalah sama, namun berbeda dalam objek formanya.
  2. Objek forma menandakan ruang lingkup dan definisi dari ilmu yang bersangkutan (coba perhatikan definisi Ilmu Kjomunikasi dengan Objek formanya).

Berdasarkan pembahasan objek materia dan objek forma pun ternyata ilmu komunikasi memenuhi syarat sebagai sebuah ilmu; karena dia mempunyai kedua objek ini, yang merupakan keharusan dimiliki oleh sebuah disiplin ilmu.

Ilmu Teoritika dan Ilmu Prakatika

Ilmu Teoritika disebut juga Ilmu Murni, yakni ilmu yang mengkaji prinsip-prinsip dasar dari objek formanya. Ilmu ini berkembang berdasarkan penelitian yang ditujukan untuk pengujian-teori-teori ilmu itu sendiri. Sedangkan Ilmu Praktika disebut juga ilmu terapan adalah ilmu yang melahirkan fungsi-fungsi, prosedur-prosedur, teknik-teknik ilmiah dalam menanggulangi kehidupan manusia sehari-hari. Ilmu ini berkembang berdasarkan ilmu induknya (Ilmu Teoritika) dan berdasarkan percobaan dan pembuktian di lapangan. Dari ilmu praktika inilah lahir apa yang dinamakan teknologi. Jadi teknologi adalah penerapan ilmu praktika guna memudahkan hidup dan kehidupan manusia.

Dari satu ilmu Teoritika bisa disusun beberapa ilmu praktika. Misal,  Ilmu Sosiologi (Ilmu Murni) melahirkan Ilmu Pemasyarakatan, Ilmu Kesejateraan Sosial, dst. Dari Ilmu Politik dapat disusun Politik Pemerintahan, Ilmu Diplomasi dsb. Dari Ilmu Ekonomi dapat disusun Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Koprasi dsb.

Ilmu Komunikasi pun melahirkan ilmu-ilmu praktikanya. Jadi Ilmu Komunikasi adalah ilmu Murni. Teori-teorinya menanungi atau dipakai sebagai landasan ilmu praktikanya. Dia antara ilmu praktika ilmu komunikasi adalah Jurnalistik, Public RealtionsExplanatory and Public Information (Ilmu Penerangan), Komunikasi Bisnis dsb.

Karena Ilmu komunikasi sebagai sebuah disiplin ilmu yang teruji dan terbukti mandiri serta melahirkan ilmu-ilmu praktika seperti yang disebutkan tadi, maka Ilmu Komunikasi layak diakaji di sebuah Fakultas. Jurusan (Departement) dalam sebuah fakultas (Faculty) adalah lembaga yang mengkaji dan mengembangkan serta mengajarkan ilmu praktika dari ilmu induk yang dikembangkan fakultas yakni Ilmu teoritika. Ilmu Komunikasi dikaji dan dikembangkan oleh Fakultas Ilmu Komunikasi, sedangkan ilmu-ilmu praktikanya dikaji, dikembangkan, dan diajarkan oleh jurusan masing-masing.

Namun demikian, titik tekan Universitas (dia berwatak univers) adalah pengembangan ilmu. Maka, jurusan pun tidak diarahkan ke pengetahuan teknis dan keterampilan melain ke pengembangan ilmu pula. Hanya saja, pengujian dan pengkajian ilmu komunikasi dari sudut ilmu parktika tersebut. Pengetahuan teknis dan keterampilan boleh saja diajarkan, tapi hanya untuk peneganalan saja. Sedangkan pengetahuan teknis dan keterampailan bisa didapatkan di pelatihan ketika seorang lulusan siap bekerja.

Bobot kandungan ilmu terapan dengan pengetahuan teknis dan keterampilan lebih banyak bisa dijumpai pada institusi yang bernama akademi (Sekarang program Diploma: D1, D2, D3, D4 ) dan program spesialisasi. Itupun masih tetap saja ada bobot Ilmu Teoritikanya (namun) yang di arahkan ke profesionalisme dalam bidang pekerjaan. Lembaga yang sepenuhnya mengajarkan pengetahuan teknis dan keterampilan adalah kursus. Dengan demikian, istilah sarjana siap pakai adalah istilah awam yang keliru dan menyesatkan. Lulusan kursuslah yang siap pakai! —Wallahu`alam bishawab!

Aa Bambang AS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: