ANDI “KICK” NOYA

by 3senyuman

Nestor Dengan ilmu kehidupan jadi nikmat, dengan seni kehidupan halus dan indah, dengan agama hidup terarah dan bermakna.

(Prof. Mukti Ali, ulama/ilmuwan Indonesia)

Berbahagialah orang yang sukses meraih mimpi, berhasil mencapai posisi puncak dalam profesi yang ia cintai. Hanya sedikit orang yang bisa menemukan lentera jiwa seperti itu. Barangkali, Andy Noya salah satunya.

Andi Flores Noya berasal dari keluarga sederhana. Ia lahir di Surabaya, 6 November 1960, sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Bapaknya seorang tukang servis mesin tik. Ibunya mengurus rumah tangga sambil nyambi jadi tukang jahit. Karena ekonomi keluarga  yang pas-pasan, orangtuanya menyuruh Andy  masuk STM, dengan harapan setelah lulus bisa langsung bekerja. Tapi hati Andy terpaut pada dunia jurnalistik. Ia ngotot masuk Sekolah Tinggi Publistik (STP), di Jakarta.

Ketika itulah, awal tahun 80-an, saya mengenalnya. Sebagaimana umumnya mahasiswa saat itu, penampilannya tampak rada slebor, dengan kaos oblong, celana jins sobek, dan sepatu butut. Citi khasnya, rambut kribo yang menggelembung lebat. Kelebihannya, sejak di tingkat awal ia sudah menulis di media massa. Hanya beberapa gelintir mahasiswa baru yang mampu melakukan itu.

Andy memulai karir jurnalistik sebagai reporter buku Apa & Siapa terbitan Majalah TEMPO. Ketika itu, 1984, ia masih duduk di tingkat III. Dalam tugas ini Andi belajar mewawancarai tokoh-tokoh. Ia berhasil menembus beberapa narasumber yang terkenal sulit, seperti taipan Lim Soei Liong.

Dari proyek buku TEMPO, Andi bergabung dengan Harian Bisnis Indonesia. Ia dikenal sebagai wartawan yang tekun dan dipercaya jadi redaktur berita kota. Setelah dua tahun, dia pindah ke majalah MATRA, menjadi Redaktur Pelaksana. Sebagai wartawan majalah pria untuk kalangan atas, ia mulai terbiasa bergaul dengan kalangan jetset. Penampilannya pun mulai rapi. Salah satu tulisannya yang saya ingat, ketika membuat liputan investigasi  tentang prostitusi di kalangan artis. Ia memperoleh sejumlah nama selebriti, lengkap dengan tarifnya. Tentu saja, tulisan itu membuat heboh.

Tahun 1992, Andy pindah ke Media Indonesia. Di harian milik Surya Paloh ini Andy meniti karir hingga meraih posisi puncak, dan konon bergaji sangat besar. Namun, setelah beberapa tahun, Andy tertarik dengan jurnalistik elektronik. Ia keluar dari Media, bergabung dengan RCTI, memimpin bagian pemberitaan. Tapi hanya 7 bulan, ia kembali bergabung dengan Media grup, karena  Surya Paloh mendirikan Metro TV. Di stasiun TV berita ini, Andy kembali mencapai posisi teratas, sebagai Pemimpin Redaksi.

Menjadi pemimpin redaksi di suratkabar dan stasiun televisi, saya kira adalah impian semua jurnalis. Andy menunjukkan diri sebagai jurnalis sejati yang berhasil meraih mimpi. Tapi, bukan hanya cerita sukses itu yang membuat saya respek dan ingin membuat catatan khusus tentangnya.

Sejak beberapa tahun lalu Andy muncul di Metro TV sebagai anchor sebuah acara talk show yang diberi tajuk berdasar namanya: “Kick Andy”. Di acara ini Andy mendatangkan dan mewawancarai berbagai ragam tamu. Dari pengusaha, pejabat, hingga orang-orang biasa, yang umumnya memiliki keunikan dan sisi menarik. Suatu ketika ia mengundang seorang ibu, yang ketika konflik Maluku bolak-balik masuk hutan mengantar bantuan, dan kemudian membawa puluhan anak yatim yang kehilangan sanak kerabat, dari dua pihak yang bertikai, dan mengasuhnya dalam kerukunan di Jakarta. Kali lain, ia mengundang orang-orang cacat, yang dalam keterbatasannya, berusaha mengisi kehidupan dengan perjuangan gigih. Contohnya, seorang bapak buta, yang setiap hari berjalan sampai puluhan kilometer berjualan kerupuk. Sendirian, tanpa penuntun…  dan ia tidak tersesat.

Dari tamu-tamu “Kick Andy” kita sering mendapat ilmu atau wawasan baru. Tak jarang, penonton di studio, atau kita di rumah, ikut tertawa, terpaku haru, bahkan meneteskan air mata. Ini tak lepas dari cara dan gaya bertanya Andy. Ia terlihat pintar mengajukan pertanyaan. Pertanyaannya sering menukik, tajam dan terus terang, tapi tidak membuat marah atau tersinggung. Andy terlihat menguasai seni bertanya, sehingga penonton mendapat jawaban yang natural. Ia sendiri kadang ikut tertawa ngakak, tapi juga tak malu menunjukkan ekspresi  terharu. Terlihat ia tidak hanya berbicara dengan pikiran, tapi juga dengan hati dan perasaan. Karena itu, sehabis menonton “Kick Andy” kita seperti memperoleh sesuatu. Jurnalistik (televisi) yang mencerahkan.

Di sinilah, Andy dan “Kick Andy” pantas dicatat. Sekarang, dunia jurnalistik negeri kita, baik cetak, maupun elektronik, mengalami erosi hebat dan menyedihkan. Sejak tidak ada SIUP, setiap orang bisa membuat koran, tabloid, atau majalah. Sekarang siapa saja bisa menjadi wartawan. Hasilnya, banyak media asal-asalan. Kondisi ini membuat dunia jurnalistik menjadi buruk. Kode Etik Jurnalistik pun seperti dilupakan.

Media televisi pun dilanda “kehancuran” yang sama.  Persaingan antara stasiun televisi sangat ketat karena rebutan porsi iklan. Apa saja dilakukan untuk meningkatkan rating.   Akibatnya muncul acara-acara murahan. Dari pagi hingga subuh lagi, stasiun televisi dipenuhi puluhan acara infotainment, yang mengabarkan perceraian para selebriti dan orang terkenal. Penonton dijejali reality show yang membeberkan perselingkuhan dan konflik rumah tangga. Juga talk show yang membeberkan urusan tempat tidur. Sinetron dan acara-acara hiburan lain juga sama, sekedar mempermainkan emosi, dan mengabaikan logika dan moral.

Jurnalistik televisi seperti kehilangan nilai. Persoalan pribadi menjadi komoditi unggulan. Ini gawat, sebab masyarakat setiap hari digiring untuk melihat sesuatu yang dangkal. Kalau begini terus, kita menjadi bangsa yang bebal.

Karena itu, acara seperti “Kick Andy” seperti memberi sedikit arti. Di acara ini kita masih bisa menemukan sisi manusiawi jurnalistik. Ada warna kecerdasan, tapi juga mengandung perasaan dan hati nurani. Ada akal dan pengetahuan, tapi juga muatan moral.

Cukup mengejutan, tahun 2008, Andy keluar dari Media Indonesia dan Metro TV, perusahaan yang sudah diabdinya selama 16 tahun. Agaknya, ia ingin mencari langkah lain. Selain mengelola usaha sendiri, antara lain majalah Rolling Stone,  ia terlihat sibuk mengurus   kegiatan sosial. Antara lain meluncurkan Program 1.000 Kaki Palsu, lewat Kick Andy Foundation. Sejak  diluncurkan, program ini konon telah membagikan kepada sekitar 700 penyandang cacat kaki di seluruh Indonesia. Agak melegakan, karena ia tetap dipercaya mengasuh “Kick Andy”.

Berbahagialah orang seperti Andy. Ia berhasil meraih puncak dalam dunia yang ia cintai. Lebih bahagia, karena dalam sukses itu, sebagai jurnalis ia  tak lupa dengan nilai jurnalistik yang mungkin telah dilupakan atau disisihkan oleh sebagian besar orang, yaitu mencerahkan kehidupan. Seperti dikatakan Prof. Mukti Ali, dengan ilmu kehidupan jadi nikmat, dengan seni kehidupan halus dan indah, dengan agama hidup terarah dan bermakna. Andy Noya menunjukkan “lentera jiwa” itu.

Nestor Rico Tambunan

One Comment to “ANDI “KICK” NOYA”

  1. Andy Noya memang seorang genius dalam penerapan jurnalis elektronik dengan ‘Kick Andy’nya. Banyak sisi kehidupan lain yang dia tampilkan, membuat kita kadang terperangah; “Hah?! Masya sih ada orang seperti itu?” – Menonton Kick Andy sama saja memberi vitamin untuk pencerahan kehidupan kita. Viva Andy “Kick Andy” Noya.

    Sepertinya, ke-genius-an Andy sepertinya tidak ditularkan kepada adik-adiknya di Metro TV. Begitu menyebalkan ketika kita lihat ‘adik-adik’ Andy itu bertanya kepada narasumber; bertanya hanya untuk kepuasan pembawa acaranya. Mereka tidak peduli dengan jutaan pemirsa yang belum puas mendapat jawaban dari narasumber, sudah kepotong dengan pertanyaan lain dari ‘adik-adik’ Andy ini. Bahkan kadang, mereka cenderung beramsumsi, dan lebih hebat lagi menjadi ‘hakim’ bagi narasumbernya. Atau, mereka kurang menyadari, lama kelamaan Metro TV akan menjelma jadi televisi provokator. Pengulangan berita yang terlalu dipaksakan dengan gambar yang sama. Bukan menambahkan berita baru pada peristiwa sebelumnya. Moga saja Metro TV tidak disalib televisi lain yang mulai melirik segmen news.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: