M O J O K

by 3senyuman

POJOK ialah tempat yang jauh. Suatu tempat yang tidak mudah dilihati, didatangi atau dihubungi. Karena itu, bila seseorang memojok berarti ia menuju atau berada di tempat yang jauh. Tidak mudah dilihati, didatangi atau dihubungi.

Perilaku itu mungkin terjadi karena ia merasa terancam, mungkin juga karena ia terganggu atau terdesak sesuatu. Ia ingin menyembunyikan diri, menghindari tem¬pat-tempat yang mudah bertemu atau ditemui orang.

Di udara, perilaku semacam ini di kenal dengan istilah mojok. Mojok mempunyai ciri tersendiri. Mojok di udara dijalani oleh seorang pria bersama dengan seorang wanita. Mereka berkomunikasi pada frekuensi-frekuensi terpencil. Pada frekuensi-frekuensi yang sulit ditemui orang. Dengan pemancar radio, mereka mojok sepanjang pagi dan sore, sepanjang siang dan malam.

Tidak segala persoalan dibahas dalam mojok-memojok. Mojok lebih banyak berhubungan dengan soal asmara. Juga, tidak sembarang orang dapat melibatkan diri. Soal asmara soal privacy. Karena itu, mojok lebih bersifat pribadi. Tidak seorang pun dapat diterima ngebrik di frekuensi.

Namun, meski begitu, di balik cumbu-rayu, gelak tawa, dan cerita cinta, gaya konsultasi mereka yang muncul sesekali ketika berkomunikasi, paling tidak, telah menimbulkan pesona tersendiri. Dalam proses ini, yang satu melemparkan persoalan, yang satu lagi berusaha mendengar dan memberikan nasihat, sharing.

Mojok dengan gaya konsultasi, dengan saling bertanya jawab, dengan saling melempar problema dan saling memberi nasihat itu, tanpa sadar telah melibatkan suatu proses psikologis di antara mereka. Mendengar dan saling berusaha memahami keluhan akan mampu melapangkan dada masing-masing. Persoalan yang tadinya ditanggung sendiri, kini terasa ditanggung bersama.

Maka, berlangsunglah suatu proses pencucian pikiran dan perasaan yang sebelumnya mendekam dalam bentuk persoalan-persoalan. Melalui proses katarsis ini, pasangan dibiarkan berbicara sebanyak, seluas, dan sebebas mungkin. Segala pikiran dan perasaannya diungkapkan dengan lepas.

Di darat, proses ini telah lama diterapkan Hotline Service. Coba telepon 771810 atau 733399. Lembaga sosial yang bekerja sama dengan PT Daya-Varia Laboratoria ini siap menampung kesusahan dan keluhan-keluhan siapa pun. Setiap pekan, lebih dari 90 orang mempercayakan rahasia hatinya kepada Hotline Sevice. Dengan cara tersebut, stres, rasa bersalah, upaya bunuh diri, dan gangguan-gangguan psikologis lain dapat ditanggulangi. Karena itu, fungsi mojok dapat menjadi semacam Hotline Service. Apalagi, karakteristik pemancar radio memungkinkan komunikasi tanpa tatap muka, maka unek-unek pun dapat dilepas sepuas-puasnya di udara.

Dalam hal ini, mendengarkan dengan baik, yaitu sabar, tenang, dan penuh pengertian merupakan teknik utama yang dapat membantu memahami pikiran dan perasaan lawan bicara. Pengetahuan ini, kemudian, dapat digunakan untuk menanggulangi persoalan-persoalan dirinya. Namun, kenyataan memperlihatkan, tidak semua orang dapat menjadi pendengar yang baik. Sebaliknya, setiap orang cenderung untuk menyatakan pikiran dan perasaannya. Dan, yang paling buruk, setiap orang pun cenderung untuk mengajukan interupsi sebelum orang lain selesai berbi¬cara.

Perilaku semacam ini berbahaya bagi lawan bicara yang menghadapi persoalan berat. Bila ia sedang melepaskan unek-unek, dan belum apa-apa, ia telah dikomentari atau bahkan telah dikritik maka proses katarsis mengalami hambatan. Terutama, bila komentar atau kritik tersebut cenderung menyalahkannya.

Harry Stack Sullivan, 1953, mengungkapkan, jika seseorang diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan dirinya, ia akan bersikap menghormati dan menerima dirinya. Bila orang lain selalu meremehkan, menyalahkan, dan menolaknya, ia akan cenderung membenci diri.1

Penilaian diri sendiri, pada satu titik, memang sangat tergantung pada penilaian orang lain. Sebab itu, tak jarang kritik menyebabkan seseorang yang menghadapi persoalan merasa bersalah atau semakin bersalah. Persoalan dirinya menjadi kian rumit. Padahal, ia sedang mengharapkan pendapat yang dapat menolong menghadapi persoalan tersebut.

Namun, yang lebih menyulitkan, jika penilaian yang negatif tentang dirinya sendiri telah tersosialisasi. Perilakunya kemungkinan dapat terganggu. Orang yang selalu dianggap bodoh, salah, dan teledor akan merasa dirinya selalu bodoh, salah, dan teledor. Dan, situasi dirinya kian menjadi bertambah runyam karena pada saat bersamaan, proses katarsis mengalami hambatan. Persoalan yang ada belum selesai, sudah pula ditambah persoalan baru. Tak heran kemungkinan stres pun kian besar.

Mojok mempunyai ciri tersendiri. Yang berkomunikasi adalah seorang pria bersama dengan seorang wanita. Studi Eakins dan Eakins, 1976; Wood, 1966; dan Swacker, 1975, menunjukkan, pria adalah makhluk yang paling suka banyak berbicara dibandingkan dengan wanita. Sebaliknya, menurut Thorne, 1981, belum ada satu pun studi yang memperlihatkan bahwa wanita lebih suka banyak berbicara ari pada pria sebagaimana yang dianggap selama ini.2

Karena itu, kesabaran, ketenangan, dan pengertian ketika menjadi pendengar lebih dapat dilakukan wanita dari pada pria yang juga, — menurut studi Zimmerman dan West, 1975; Thorne dan Henley, 1975;— lebih sering menginterupsi pembicaraan dari pada wanita.3 Sebab itu, pendengar pria memang perlu mengembangkan sifat sabar, tenang, dan penuh pengertian ketika berkomunikasi dengan lawan jenis. Ketika mojok, pengembangan empatinya terha¬dap sesama sangat menentukan.

Empati merupakan suatu proses partisipasi dengan pengalaman orang lain. Jika pendengar dengan sadar mem¬biarkan imajinasinya dibimbing ke dalam diri lawan bi¬cara, ia akan mengalami seolah-olah dirinya sendiri adalah lawan bicara.4 Hal ini sangat penting. Dengan empati, pelahan-lahan ia dapat masuk dan menyelinap ke alam pengalaman lawan bicara. Ia dapat menjelajah alam pikiran dan perasaan orang lain. Karena itu, empati dapat digunakan pendengar untuk memahami dan merasakan perbe¬daan pikiran dan perasaan lawan bicara dengan pikiran dan perasaannya sendiri.

Pemahaman mengenai perbedaan ini sangat efektif untuk menanggulangi persoalan lawan bicara. Persoalan yang menurutnya berat, jangan disepelekan dan yang menur¬utnya sepele, jangan pula diberat-beratkan. Persoalan dirinya dapat ditanggulangi secara proporsional, sesuai alam pikiran dan perasaannya. Bukan sesuai dengan pikiran dan perasaan pendengar.

Pengalaman setiap orang, sama halnya dengan mojok, berada di suatu tempat yang jauh, tidak mudah dilihati, didatangi atau dihubungi. Hanya dengan sedikit empati, apa pun yang dialami dan siapa pun pendengarnya, ia telah mendapat kehormatan untuk hidup sejenak di dalam negeri yang hampir tiada dapat dicapai, yaitu pengalaman orang lain.

  1. Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, Remadja Karya CV, Bandung, 1986, h. 126-127.
  2. Judy Cornelia Pearson, Gender and Communication, Wm. C. Brown Publisher, Dubuque, Iowa, 1985, h. 195.
  3. Ibid., h. 197.
  4. Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, peny., Komunika¬si Antarbudaya, Remaja Rosdakarya CV, Bandung, 1990, h. 92-97.

Mohammad Fauzy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: