MANTERA-MANTERA

by 3senyuman

CIRI sebuah kata selalu dinyatakan dengan  kebeba­sannya  bergerak dari setiap ujaran. Meja, sakit,  dunia, atau kata apa saja, kecuali kata depan dan kata  sambung, lazimnya dapat berdiri sendiri. Namun, prinsipnya, setiap kata  pun mempunyai kebebasan yang seluas-luasnya  ketika  ia digunakan sebagai alat untuk melancarkan agresi  mela­lui  pemancar. Kata apa saja, dalam hal melukai  perasaan dan  hati sesama, sangat bebas digunakan di udara.  Mulai  dari  kata  anjing, bangsat, sapi, jahanam,  sampai  kata keparat,  semuanya  kerap  terdengar  dari  frekuensi  ke frekuensi.

Agresi  melalui pemancar itu, sebagai mana  agresi  fisik,  jelas berusaha melukai, menyakiti atau  merugikan  lawan. Efeknya sungguh memukau. Sasaran dapat sakit hati dan terhina tanpa mengetahui manusia yang mengumpatinya.

Pada kultur-kultur yang menekankan rasa  salah,   guilt,  agresi  terhadap manusia lain  sangat  dihindari. Mengumpati sesama, apalagi memukul dan membunuh, dianggap   perilaku haram yang dapat dikenai hukuman. Sedangkan pada  kultur yang menekankan rasa malu, shame, agresi  terhadap sesama cenderung dinilai positif dan, kadang kala,  malah dihormati.1

Para pemilik pemancar radio, sebagaimana  layaknya orang  Indonesia, agaknya masih sangat  menganut  kultur kedua. Rasa malu mendapat penekanan yang terkadang berle­bih-lebihan  dalam perilaku. Setiap melakukan  ketidakbenaran, rasa malu yang timbul masih lebih besar dari pada rasa bersalah. Apalagi, malu masih sering berasosiasi dengan rasa terhina. Untuk menutupi itu, kesalahan  tidak diakui. Sebaliknya, menyerang dan mengumpati lawan menja­ di pilihan utama.

Cara paling tepat menghentikan orang mempermalukan kita  ialah memang dengan jalan  mempermalukannya.  Nenek moyang  dan para tetua mungkin makhluk yang paling ber­tanggung jawab mengenai soal ini. Mereka yang  menga­jarkan, sebelum diserang sebaiknya menyerang lebih dahu­lu. Benar atau salah urusan belakang.Sebab itu, bangsat, anjing,  keparat, dan sejumlah kata tak pantas  merupakan        menu kesehari-harian di udara.

Ide mengumpati sesama, di dalam masyarakat mana­ pun, adalah  suatu  kenyataan yang  berawal  dari  magi.  Dengan  magi,  manusia berusaha menyakiti,  melukai,  dan merugikan  lawan. Manusia berusaha  memaksakan  kejadian-kejadian  pada sesama manusia yang dianggap musuhnya. Ia  mau mengontrol lingkungan  dan  sesama  manusia  sesuai kehendak.  Ia menganggap diri sendiri sebagai yang  maha­ kuasa.

Tuhan,  di masa itu, ketika magi  menguasai  bumi, memang  belum  mewahyukan Diri. Agama-agama  masih  belum ada. Sebab itu, berbekal ‘kemahakuasaan’ dirinya, seorang Zulu  yang  hendak  membeli lembu  jantan,  dengan  hanya mengunyah sepotong kayu, mampu melunakkan hati  penjualn­ya.  Ahli sihir di Osia, India, dengan menjatuhkan  segu­lung  benang di atas tubuh musuh, mampu  menghisap  darah korban melalui ujung benang.2

Semua perilaku itu, tentu ada bacaannya,  mantera. Dengan  mantera, manusia mau menciptakan  dan  memaksakan kenyataan melalui kata-kata. Ia mau mewujudkan maksudnya, merugikan  sesama,  dengan  merangkai  kata-kata  menjadi  bahasa yang berdaya gaib.

Bahasa   manusia,  prinsipnya,  memang  mempunyai kekuatan semacam itu. Bahasa adalah jalan bagi  pemikiran  untuk menjadi kenyataan. Dengan sepatah kata saja,  manu­sia dapat tersenyum, tertawa, dan tergelak. Manusia dapat juga  merengut, mencibir, dan mengerang. Bahasa,  bahkan dapat membuat manusia ketakutan dan merasa hancur  lebur  dengan serangkai kata kutukan.

Karena itu, bahasa memiliki daya, memiliki  energi  yang sangat kuat untuk merubah kehidupan manusia. Cobalah  pada  diri  sendiri. Ucapkan kata  sedih berulang  kali dengan teratur maka kesedihan segera muncul. Ucapkan kata lelah  dengan  kecepatan terendah maka  kelelahan  segera  menguasai tubuh.

Manusia  hidup  berdasarkan  cap  dan  label  yang dibuat oleh diri sendiri dan juga oleh orang lain. Dengan bahasa mantera, di alam magi, manusia hendak menciptakan cap dan label negatif untuk lawannya. Sasaran hendak di sakiti, dilukai, dan dirugikan. Karena itu,  benar  kata kolomnis Amerika termashur Dough Hooper, 1992, “Kata-kata adalah  ekspresi  pemikiran  dan  pemikiran  menciptakan. Dengan  demikian maka kata-kata yang digunakan seseorang  secara teratur dan konsisten punya efek langsung terhadap kehidupan seseorang.”3

Mantera-mantera dengan nada, kecepatan, irama, dan kualitas  suara  tertentu diciptakan untuk mempengaruhi manusia lain. Para dukun dan tukang sihir berperan  besar  di alam magi. Mereka mengatur repetisi, kecepatan, irama, dan  kualitas kata-kata tertentu. Karena itu,  pada  man­tera, makna kata-kata menjadi relatif tidak berpengaruh.

Fenomena  ini  bukan  hal  aneh.  Kata-kata  untuk  mengumpati  sesama,  sebagai pelepas perasaan tertekan,  dapat  menggunakan kata apa saja. Lagi pula, makna  kata-kata sendiri sebagai alat komunikasi memang kurang  ber­peran dalam percakapan.

Albert Mehrabian, seorang pakar psikologi komunikasi,  memperlihatkan  bahwa  pengaruh  suatu  pernyataan sekitar  7  persen melalui kata-kata, 38  persen  melalui suara,  dan 55 persen melalui nonverbal. Fakta ini didukung studi Profesor Birdwhistell. Ia  menemukan,  dalam komunikasi tatap muka, kata-kata hanya digunakan  sekitar 35  persen. Selebihnya, 65 persen,  komunikasi  dilakukan        secara nonverbal.4

Karena itu, kata-kata agresi, apalagi melalui pemancar, sangat tergantung kepada suara. Kata apa  saja yang ada dalam kosa kata boleh dipilih. Nada,  kecepatan,  irama, dan kualitas suara, sebagaimana pembacaan mantera, akan menentukan daya lukanya terhadap lawan bicara.

Kenyataan  ini menunjukkan, pemancar radio  sangat  berperan  dalam  membentuk dunia yang cenderung  terdiri  dari  suara-suara dari pada dunia kata-kata. Kekuatan itu ditopang  oleh kemampuan, ia dapat  melontarkan  berbagai umpatan bermil-mil dari stasiun yang satu ke stasiun yang lain. Dunia menjadi penuh dengan umpat mengumpat.

Efeknya,  hari demi hari, minggu  silih  berganti, dalam  bulan-bulan  yang berjalan,  terjadi  sosialisasi. Setiap  pemilik pemancar akan saling meneguhkan perilaku di antara mereka. Mereka saling belajar-mengajar mengenai perkataan kasar. Yang buruk-buruk memperkaya dan  menjadi  terbiasa dalam hidup di udara.

Tanpa  sadar,  melalui  pemancar,  manusia  telah menciptakan  suatu  realitas sosial  yang  tidak  steril. Lingkungan semacam  itu dapat menciptakan situasi-situasi “panas”. Komunikasi menjadi tegang, penuh  perang  kata-kata.  Konflik  adalah  keseharian  yang  biasa.  Seluruh frekuensi  crowded . Puncak konflik umumnya mengadu  daya pemancar. Terjadi  perlombaan. Setiap  pemilik  pemancar berusaha  memperbesar daya. Karena yang berdaya  besar  adalah  yang  berjaya.  Pemilik pemancar berdaya kecil silahkan minggir. Tidak jelas siapa yang menguasai siapa. Anarki di mana-mana.

Mudah-mudahan  hal ini tidak menjurus  ke  praktek  para dukun dan tukang sihir di masa magi menguasai  manu­sia. Hanya dengan membaca mantera, sasaran gila atau mati tanpa pernah mengetahui siapa pembunuhnya.

  1. Lickona,  Moral  Development  and  Behavior,   Theory,  Research  and Social   Issues, Holt, Rinehart  and  Win­ston, New York, 1976, h. 89.
  2. J. van Baal, Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi  Budaya  (Hingga Dekade 1970), Jilid 1.,  PT  Gramedia, Jakarta, 1987, h. 88.
  3. Dough  Hooper,  Anda Adalah Apa  Yang  Anda  Pikirkan,  terj., Anton Adiwiyoto,  Mitra Utama, Jakarta, 1992, h. 176-177.
  4. Allan Pease, Bahasa Tubuh, Arcan, Jakarta, 1988, h. 1-2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: