MIKROELEKTRONIK

by 3senyuman

EMPAT puluh tahun silam, hampir setiap orang mampu merakit radio dalam beberapa jam. Yang  dibutuhkan  pun  hanya  beberapa komponen sederhana: sebuah  kristal  atau  tabung hampa, batere, dan sebuah kumparan.

Bila semua unsur itu dihubungkan dengan sejumlah kawat dibantu sebuah diagram rangkaian, jadilah radio. Tentu saja setelah semua, sebagai satu kesatuan, dipasang pada sebuah kerangka kayu dengan sekrup.

Sederhana sekali. Kesederhanaan ini melahirkan konsekuensi, siapa pun yang merakit radio, paling  tidak, sudah mengetahui beberapa prinsip penerimaan radio seper­ti deteksi, cuning, dan amplifikasi.

Pada tahun lima puluhan itu, memang, tidak seorang  pun  mampu  menyaksikan sejumlah elektron  mengalir  dari  filamen panas tabung hampa. Juga, tidak seorang pun mampu  menangkap gelombang elektromagnet bergerak dan beresonan­si pada sebuah kumparan variabel. Namun, berurusan dengan obyek-obyek  yang  tak dapat dipegang itu, setiap orang yang kurang berorientasi kepada hal-hal teknis pun  masih mampu memahami mekanisme yang terjadi.

Karena  itu, mereparasi radio rusak dapat  disebut  permainan kanak-kanak. Entah karena batere habis,  hubun­gan  antarunsur yang kendur atau mungkin karena  sebagian   komponen  yang rewel. Semua masih berkisar  pada  masalah  mencari  letak kerusakan dan memperbaikinya dengan  lang­sung.

Namun,  sejak  itu,  teknik  radio  telah  semakin berkembang  pesat.  Bagi David Sarnoff  sekalipun,  orang  pertama  yang “mengkotakkan” radio, sebuah  radio  modern  mungkin  sudah begitu jauh di luar jangkauan idenya  pada  tahun  1916.1  Walau prinsip-prinsip radio  masih  tetap,  perangkat komunikasi itu telah banyak mengalami  peruba­han.  Daya  tangkap, ketepatan  frekuensi,  dan  kualitas        suaranya tidak lagi dapat dibandingkan dengan masa  empat puluh  tahun silam. Sejalan dengan  pertumbuhan  stasiun-stasiun  pemancar  yang lebih modern, penggunaan  FM dan bahkan FM stereo telah  semakin  dikembangkan,  disusul  penggunaan  remote control dalam pencarian dan  pemilihan frekuensi.

Sayangnya,  seiring  dengan kemajuan  itu,  timbul beberapa  pengaruh negatif. Sejarah  telah  menunjukkan, pertumbuhan  dan perkembangan radio telah  didukung  oleh  serangkaian   penemuan.  Setelah  Marconi   mengembangkan  pemancar kumparan latu pada tahun 1897, secara berurutan, Pupin,  Fessenden, Fleming, De Forest, dan Amstrong  men­yumbangkan  temuan mereka: kumparan terbebani,  radiofon, tabung dua elemen, tabung tiga elemen, untaian  regenera­tif,2  sampai akhirnya di tahun 1948,  ketika  transistor mulai diperkenalkan oleh Bardeen, Brattain, dan  Shockley  di Amerika, dimulailah era teknik radio yang lebih rumit dan renik.3

Bila transistor yang kemudian dipasarkan di  tahun limapuluhan menggantikan lampu tabung, penemuan berikutn­ya rangkaian cetak menggantikan transistor. Lalu,  teknik  radio semakin renik setelah muncul rangkaian terpadu yang berwujud sekumpulan komponen dalam sebuah  chip  silikon yang  amat kecil. Akibatnya, sebuah radio modern menjadi kian luarbiasa rumit. Komponennya yang renik dalam chip silikon menjadikannya sulit untuk dipahami. Pelahan-lahan orang  tidak  mampu lagi membuat radio  sendiri,  apalagi harus memperbaiki kerusakannya.

Gejala ini umumnya, terjadi hampir di  segala bidang  kehidupan  yang mengoperasikan alat elektronik. Dulu, pemanggang roti besi yang rusak mudah diperbaiki,  tapi  tidak untuk oven yang menggunakan gelombang  mikro. Choke  mobil biasa dapat diatur dengan mata  dan  tangan, tapi  choke mobil dengan sistem  elektronik  dapat  saja  menjadi  lepas  kontrol. Dulu,  kanak-kanak  masih  dapat menikmati  bandul  jam dinding di rumah nenek  yang ber­goyang-goyang, kini mereka tak akan pernah dapat memahami mekanisme digital Seiko yang menghiasi dinding, termasuk jenis yang setiap hari melilit  di  pergelangan  tangan mereka. Dulu, kanak-kanak masih dapat menatap baling-baling  pesawat terbang Dakota milik Garuda, kini  mereka tak dapat  menangkap mekanisme yang  sama  pada  pesawat  Jumbo Jet.

Jelas sudah, sifat langsung hubungan antara  manu­sia dengan benda pada masa lalu, yang mempercepat pemaha­man mereka mengenai mekanisme suatu benda secara alamiah, pelahan-lahan telah menghilang. Malah, sebagian besar  di  antara  mereka,  dengan  begitu  saja  memasrahkan  diri,  membiarkan   wilayah-wilayah  kehidupan  mereka dijajah  mikroelektronik yang bernama kemajuan.

Hal  ini  tampaknya akan terus  berlangsung  tanpa dapat  dicegah.  Penunjang utamanya,  setiap  orang  akan  menghadapi kesulitan dalam mengikuti perubahan dari suatu penemuan  ke  penemuan lain. Hanya dalam  waktu  singkat, sesuatu  yang baru dapat saja segera menjadi  kuno.Usia sesuatu semakin relatif “sementara”.Sejarah  telah  mencatat,  tabung  hampa  udara  dikembangkan  para  ahli  selama  33 tahun, 1882-1951, radio  disempurnakan  mereka selama  15  tahun,  1947-1950, disusul penemuan  batere matahari  dalam  waktu 2 tahun, 1953-1955. Karena itu,  mungkin benar kata para ilmuwan, kalau laju  percepatan itu  berlangsung  terus, pada tahun  2500  nanti, sebuah penemuan dasar dapat diubah menjadi alat siap pakai hanya dalam satu kedipan mata per satu mikrodetik.4

Sebab  itu, para penggemar, pemilik, dan pengguna pemancar dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa  pemahaman  mereka  terhadap pesawat pemancar akan  terus  digerogoti  oleh  penemuan-penemuan yang tidak tertentukan  batasnya. Dan,  kesulitan  yang  telah dapat  mereka  rasakan  kini  adalah  ketidakberdayaan dalam merakit pemancar  sendiri, apalagi  memperbaiki  kerusakan-kerusakan yang  ada. Di­perkirakan, pada tahun 1985, hanya sekitar sepuluh persen dari  mereka  yang  mampu menguasai  seluk  beluk  teknik radio.  Jika  pemilik pemancar radio resmi saat itu  ada 55.000,  berarti 49.500 di antara mereka  termasuk buta elektronik.5  Kalau pada tahun 1993 ada sekitar 104.527,6berarti  angka buta elektronik itu dari tahun  ke  tahun  kian meningkat menjadi sekitar 94.074 orang. Akibatnya, ketergantungan  diri mereka pada para tangan-tangan pen­guasa elektronik semakin nyata.

Kunci persoalan ini, tentu, hanya dapat  ditemukan pada diri mereka sendiri. Paling tidak,  orientasi-orien­tasi para penggemar, pemilik, dan pengguna  pemancar  sebagian  besar memang bukan pada  penguasaan  teknologi,  tapi hanya sebatas user. Mereka hanya mau menjadi  komsu­men, bukan produsen.

Perilaku semacam ini, tanpa sadar, menenggelamkan kehidupan mereka ke dalam dunia yang semakin tidak terpa­hami. Pemancar yang dekat semakin menjadi  asing. Radio yang berdendang semakin menjadi ajaib. Melalui mikroelek­tronik juga, mereka menjadi semakin tidak mengerti dengan dunia mereka

  1. Melvin  L. De Fleur dan Sandra J. Ball-Rokeach,  Theo­ries  of  Mass Communication, Longman Inc., New  York, 1982, h. 79-80.
  2. Henry  Margenau,  et. al., Ilmuwan, terj.,  J.  Drost, Tira  Pustaka Jakarta, Jakarta, (tanpa tahun), h. 146-147.
  3. Egon Larsen, Kisah Penemuan dari Masa ke Masa,  Pener­bit Djambatan, Jakarta, 1979, h. 61.
  4. Margenau, et. all., Op. cit., h. 148.
  5. Mohammad  Fauzy, “Penonjolan Kegiatan Non  Amatir  Tak Perlu  Dirisaukan”,  Sinar Harapan Minggu, 22  Desember 1985.
  6. “Presiden Minta ORARI Tingkatkan Perannya”, Kompas,  9 Juli 1993.

Mohammad Fauzy

One Comment to “MIKROELEKTRONIK”

  1. jadi inget masalalu ,pemancar fm adalah mainku pas waktu masih sekolah di bangku smp.hampir tiap pulang sekolah,merakit fm radio.harga jual bisa mencapi 500 rbu,tergantung frevekuensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: