COPY DARAT

by 3senyuman

ADAKAH garis pemisah antara pertemuan di udara dengan pertemuan di darat? Mengapa seseorang hanya ter¬tarik pada suara, sementara yang lain masih berusaha bertemu muka?

Seorang isteri pernah berkisah tentang perilaku suaminya di udara yang lebih senang ngebrik dengan sejum¬lah perempuan dari pada dengan sesama jenisnya. Malah, tanpa ijin, suaminya sering mengajak perempuan-perempuan itu makan bersama. Terus terang, katanya, ia cemburu. Suaminya punya waktu untuk perempuan lain, tapi tidak untuk dia. “Saya,” jelasnya, “memang tidak menuduh yang bukan-bukan kepada suami tapi rasanya janggal apa yang dilakukannya. Saya jadi ingat, betapa dia mengejar-ngejar ketika saya masih kuliah sampai ditingkat tiga! Saya bukan menyesal, tetapi sekedar mengingatkan betapa pen¬gorbanan saya demi cinta….”Ungkapan nyonya MM itu jelas mengingatkan, ada sebuah segi penting dalam hidup yang harus diperhatikan orang. Untuk suami atau isteri yang kecanduan ngebrik, inilah dia: kalau seseorang memanjakan diri dengan kegiatan menyenangkan tanpa disiplin pribadi, ia akan mencapai suatu titik ketika kegiatan itu tidak lagi menyenangkan. Untuk orang lain ataupun untuk diri sendiri.

Menerobos batas udara, melangkah ke darat merupa¬kan awal dari segala ketidakdisiplinan pribadi. Dalam sebuah perkawinan, tidak ada alasan yang paling baik dari seorang isteri untuk gegetun, kecuali bila suaminya mulai terlibat daya asmara dengan perempuan lain. Akibat paling tragis, bercerai.

Pengalaman nyonya EW mungkin sama dengan yang dikeluhkan nyonya MM. Ia sering panas dingin dengan perilaku suaminya yang juga suka ngebrik dengan lawan jenis. Hanya, cuma dengan satu perempuan. Panggilannya Lulu.

Mereka sering copy darat, bertemu muka, makan, dan nonton bersama. Hubungan mereka, akhirnya, menjadi intim sehingga nyonya EW perlu mengingatkan. Tapi, gagal. Suaminya tidak mengacuhkan. Diam-diam ia terus copy darat dengan Lulu.

Nyonya EW memperingatkan lagi. Tetap gagal. Akhirnya ia minta cerai dan mengikuti jejak suami, ngebrik dan juga menjalin daya asmara dengan lelaki lain.

Ada kondisi-kondisi yang perlu dipertimbangkan ketika ketidakdisiplinan pribadi menjadi sebuah penyele¬wengan melalui pemancar radio. Tidak ada seorang pun membeli pemancar bertujuan untuk menceraikan pasangan hidupnya. Ketidakdisiplinan, mudah diduga, justeru muncul setelah mengudara dan mengenal para perempuan bagi suami dan mengenal lelaki bagi para isteri.

Anggapan selama ini — ketika suami atau isteri mulai bercengkrama dengan perempuan atau lelaki lain —— semua kejadian itu hanya di udara. Biarkan sajalah.

Ternyata keliru. Keliru. Kalau orang memang hendak menyepelekan sesuatu, seharusnya ia tidak mengurangi kewaspadaan. Justeru karena hanya di udara, semua apat berlangsung melalui suara. Dan suaralah, ternyata, pemicu utama. Melalui suara, suami atau isteri bisa terlibat daya asmara seperti layaknya pandangan pertama pada mata.

Sebagaimana interaksi melalui pemancar berawal mula, melalui suara, mereka dapat saling berkomunikasi dan menarik kesimpulan-kesimpulan mengenai lawan bicara. Suara adalah rangsang yang menggetarkan gendang telinga dengan segala efeknya.

Sejumlah studi telah menunjukkan beragam efek suara. Perempuan yang “bersuara nafas” sering dianggap cantik, kecil mungil, feminin, dan berpikiran dangkal. Sedangkan lelaki dianggap muda dan artistik. Suara perem¬puan yang lemah melahirkan persepsi kekanak-kanakan, humoris, dan lebih sensitif. Yang bervokal keras mengun¬dang persepsi lebih muda, lebih feminin, lebih emosional, dan kurang intelek. Tapi, pada lelaki, kekerasan vokal melahirkan persepsi lebih tua, kurang mau mengalah, dan menyulitkan.1

Ragam suara perempuan dan lelaki memang dapat melahirkan beragam persepsi pada lawan jenisnya. Ia mengawali kebencian atau daya asmara di antara mereka. Bercanda, tertawa, merayu dan bahkan yang lebih panas dari itu dapat menciptakan daya asmara atau mengusik rasa susila. Berbisik, tersedak, mendesah dapat menimbulkan rasa simpatik atau perasaan jijik. Selebihnya adalah dorongan naluri. Bila daya asmara telah datang menjelma melalui suara, naluri akan segera mendorongnya menjadi sempurna.

Naluri-naluri merupakan pengganti rohaniah dari segala keperluan jasmaniah. Karena itu jumlahnya ada sebanyak keperluan jasmaniah manusia.2 Tubuh yang luka menimbulkan naluri ingin mengetahui obatnya, perut yang lapar menimbulkan naluri ingin makan, leher yang haus menimbulkan naluri ingin minum, daerah-daerah erogen menimbulkan naluri seksual, dan naluri-naluri lain.

Semua naluri itu dapat disebut naluri kehidupan karena perlu dipuaskan untuk mempertahankan hidup dan berkembang biak. Ingin mengetahui sesuatu, ingin memakan sesuatu, dan ingin meminum sesuatu bertujuan mempertahan¬kan hidup. Ingin melakukan hubungan seksual dengan seseorang bertujuan memperkembangbiakkan diri.

Karena itu, bila suami atau isteri mulai bercengk¬rama dengan perempuan atau lelaki lain, dorongan naluri-naluri ini sangat menguat bila suami atau isteri belum atau tidak memenuhinya secara jasmaniah. Naluri-naluri itu memiliki energi yang selalu mencari penyaluran dengan segala cara. Jika tidak, ia tertekan dan semakin kuat dorongannya.

Di udara, tentu, dorongan naluri-naluri itu tidak dapat disalurkan, dijelmakan secara jasmaniah. Ia tidak dapat disalurkan dengan kata-kata belaka. Naluri ingin tahu lawan bicara tak mungkin dijelmakan secara sempurna hanya dengan menyebutkan ciri-ciri rambut, mata, atau tinggi badan. Pemenuhan seutuhnya hanya dapat dilakukan dengan copy darat. Begitu juga dengan naluri-naluri seksual, secara sempurna, pemenuhannya hanya dapat dilakukan dengan bersetubuh, setelah melalui proses copy darat.

Itulah tujuan akhir dari setiap naluri. Selalu berusaha memenuhi dorongan, mau menyalurkan semua energi sehingga tak ada lagi rasa tertekan. Ia mencari kesempur¬naan secara jasmaniah. Sebab itu, pertemuan di darat menjadi cita-cita utama. Yang lelaki ingin bertemu yang perempuan, yang perempuan ingin bertemu yang lelaki.

Semua mengalir begitu saja. Terperangkap daya asmara. Lantas, adakah masih garis pemisah antara pertemuan di udara dengan pertemuan di darat? Gadis pemisah itu ada kalau apa yang dulu dirasa menyenangkan, kini berakhir dengan sebuah kegetiran.

  1. Judy Cornelia Pearson, Gender and Communication, Wm. C. Brown Publisher, Dubuque, Iowa, 1985, h. 257-258.
  2. Calvin S. Hall, Sigmund Freud, Suatu Pengantar ke Dalam Ilmu Jiwa Sigmund Freud, terj., S. Tasrif, PT Pembangunan, Jakarta, 1980, h. 80

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: