MARIA HARTININGSIH

by 3senyuman

 

Sejarah besar dunia tak lain adalah berupa kemajuan dan perkembangan mengenai kesadaran dan kebebasan.

(Friedrich Hegel, filsuf Jerman)

Di banyak negeri, sering wartawan dinobatkan sebagai pahlawan hak azasi, karena tulisan-tulisannya dinilai memperjuangkan hak-hak azasi manusia, entah di bidang politik, sosial, ekonomi, dan yang lain. Indonesia juga memiliki jurnalis-jurnalis semacam itu. Salah satunya adalah Maria Hartiningsih.

Saya mengenalnya 30 tahun lalu, awal tahun 80-an, ketika sama-sama kuliah di Sekolah Tinggi Publistik (STP) Jakarta. Saat itu ia sudah bekerja, di Sucofindo kalau tak salah. Orangnya cenderung pendiam, nada bicaranya pelan. Satu hal yang saya ingat, ia terlihat respek terhadap rekan-rekan mahasiswa yang sudah jadi wartawan atau  menulis di media massa, apapun jenis tulisan itu.

Tahun 1985, Maria bergabung dengan Harian Kompas. Tapi saya baru teringat dia lagi ketika awal tahun 90-an, membaca laporan pengalaman bersama Myrna Ratna, rekannya wartawan Kompas, menjadi sukarelawan di pusat pelayanan kemanusiaan pimpinan Bunda Theresa, di Calcutta, India. Laporan pengalaman itu ditulis bersambung di Kompas.  Bagi saya, sungguh, tulisan itu sangat menggetarkan.

Bagaimana tidak? Maria dan Myrna menggambarkan tempat pelayanan itu amat kotor dan berbau. Orang-orang telantar yang sudah membusuk dipungut dari pinggir-pinggir jalan, dibersihkan dan dirawat, agar dia layak meninggal sebagai manusia, mungkin untuk terakhir kali, sebelum ajal menjemput. Maria dan Myrna  harus ikut merawat mereka, membersihkan belatung, memandikan, dan menyuapi mereka.

Saya harus jujur, sampai kini, hingga 30 tahun karir kewartawann saya, tulisan itulah salah satu liputan jurnalistik yang paling menggetarkan dan terus terkenang. Tulisan itu menjadi bagian dari kesadaran saya, betapa realitas kemiskinan itu begitu mengerikan. Tulisan itu juga meletakkan pemaknaan dalam diri saya, siapa sesungguhnya Bunda Theresa. Kenapa dia harus ditempatkan dalam jajaran orang besar (dan suci) dalam sejarah kehidupan manusia.

Setelah itu Maria banyak menulis tema-teman kewanitaan, soal emansipasi, gender, hak azasi, pemberdayaan perempuan, dan yang sejenis. Saya menilai, tulisannya sangat khas dan berkarakter. Ia tidak sekedar membeberkan data atau fakta, tapi juga dengan standing point yang  jelas, berpihak pada kebenaran dan yang lemah. Sehingga, dengan membaca tulisannya, orang memiliki pemahaman dan mungkin juga sikap. Development journalism, jurnalistik yang membangun pengertian.

Dengan tulisan-tulisan jurnalistik yang mengandung nature development mengenai tema-tema gender seperti itu, saya beberapa kali terpikir, mestinya kementerian yang mengurusi pemberdayaan wanita pantas memberinya penghargaan. Benar, Maria akhirnya mendapat penghargaan, tapi bukan dari kementerian itu.

Tahun 2003, Maria memperoleh Yap Thiam Hien Award, penghargaan di bidang hak azasi manusia. Maria dinilai sebagai jurnalis yang sangat konsisten memperjuangkan ide-ide kemanusiaan dan hak-hak manusia yang azasi lewat tulisan-tulisannya. Bukan hanya dalam hal yang bersangkut-paut dengan soal jender, tetapi terutama mengenai manusia-manusia yang lemah, terpinggirkan, atau jadi korban kerasnya kehidupan. Maria adalah wartawan Indonesia pertama yang menerima penghargaan itu.

Setelah reformasi jurnalisme di Indonesia mengalami perkembangan luar biasa,  tapi juga sekaligus mengalami degradasi. Sejak SIUPP ditiadakan, siapa saja bisa menerbitkan suratkabar, tabloid, dan majalah. Siapa saja bisa jadi wartawan. Akibatnya, banyak media tanpa visi yang jelas. Seperti juga banyak wartawan tanpa kompetensi yang jelas.

Saya kira, di situlah letak pentingnya kita memberi catatan kepada wartawan yang berkarakter seperti Maria Hartiningsih. Bahwa jadi jurnalis bukan sekedar menulis berita berdasarkan fakta-fakta, tapi juga mestinya membangun pemaknaan bagi pembaca. Membangun  wawasan atas kebenaran, terutama sikap membela kaum  lemah dan yang terkalahkan.

Tontonan dalam televisi memuaskan mata dan telinga sejenak, namun  kemudian menghilang tanpa bekas. Tulisan dalam buku, suratkabar, atau majalah, akan mengisi ruang dan waktu, membekas dalam kepala dan hati yang membaca. Saya percaya, tulisan-tulisan Maria telah membekas, membangun pola pikir, dan mengisi hati banyak orang. Seperti dikatakan Friedrich Hegel, saya percaya, tulisan-tulisan itu telah menyumbang sesuatu untuk kesadaran dan kemerdekaan (kebebasan) manusia,  yang sering menjadi korban kerasnya kehidupan yang diciptakan sesama.

Nestor Rico Tambunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: