MADONNA

by 3senyuman

DARI Lokal Orari Kemayoran, ia melangkah perlahan. Lalu, dengan gerak yang seolah hendak memamerkan kejenjangan lehernya, ia berdiri di depan saya. Sejenak saya terpesona. Ada sesuatu yang terasa bergeletar di dada. Ada sesuatu yang terasa bergelora di sana. Sesuatu yang indah. Indah.

Ya, Sejak pertama kali saya mengenal geraknya itu, dulu, ia memang telah menitipkan suatu perasaan tersen¬diri di batin saya. Suatu perasaan yang selalu saya biarkan sebagai mana harusnya. Perasaan yang mungkin ada dan mungkin juga tiada.

“Mau ngapain ke sini?” sapanya mengejutkan, “mau mengedaftar ikut ujian?”

Saya menggeleng.

“Lantas?”

“Ng, cuma mau ketemu sama pak Tumenggung, ketua lokal.”

“Oh, kayaknya lagi nggak ada, tuh,” jelasnya, “dan kamu, ng…., kok, udah lama nggak ke kibek? Lagi krodit, ya? Kenapa nggak kirim QSL aja? Benar-benar terlalu, deh. Padahal, papi nanyain kamu terus, lho. Eh, kok manteng kayak sinyal?”
Saya tersenyum, hanya sesaat. Lalu, dengan segera saya melangkah tanpa mengucap sepatah kata pun.

“Eh, kenapa?”

Saya terus melangkah. Maaf, batin saya. Apa boleh buat. Ini bukan untuk pertama kali. Sejak dulu. Sejak dulu. Jika ia bertutur seperti itu, saya memang segera akan pergi meninggalkannya.

Sejak dulu. Sejak dulu. Tutur katanya yang selalu disertai dengan aneka ragam istilah yang digunakan di udara itu sungguh menjengkelkan. Ada sesuatu yang menje¬mukan di sana. Sesuatu yang mencemaskan. Sesuatu yang sejak dulu telah melahirkan perasaan tersendiri di batin saya : dia adalah penggemar pemancar yang melihat dunia hanya dari satu sudut.

Gadis itu— sebut saja Madonna —— memang satu dari sekian ribu pemilik pemancar yang alamnya lekat hanya pada satu perspektif. Dalam persepsinya, dunia bagaikan sebuah organisasi pemancar radio raksasa dan setiap penghuni adalah anggota. Tak aneh kalau semua manusia dianggapnya memahami istilah kibek, krodit, QSL, sinyal, dan sebagainya dan sebagainya.

Karena itu, tak aneh pula kalau berbincang-bincang dengan keluarga atau tetangga atau para sahabat dan sebagainya dan sebagainya, istilah-istilah tersebut digunakan Madonna tanpa merasa jengah. Ia tidak memahami sama sekali bahwa istilah-istilah itu sebaiknya hanya untuk di udara.

Namun, yang agak parah, jika dunia dan penghuninya sudah pula dipersamakan dengan hal-hal yang berhubungan dengan teknis penggunaan pemancar radio. Orang sedang marah, umpama, sering dianalogikan dengan kata SWR-nya lagi tinggi. Orang kurus, kadang kala, dipersamakan dengan jenis antena Yagi. Dan, saya yang diam ketika mendengar Madonna berceloteh tadi, yah lumrah saja kalau disebutnya manteng kayak sinyal. Bahkan, dulu, ketika pertama kali ia menyalami saya, dengan serius Madonna berkata, “Lho, tanganmu, kok bergetar kayak power?”

Saya ingat itu. Saya ingat itu. Sekali, dua kali, ucapan semacam itu memang tak apa-apa. Seorang, dua orang ataupun sepuluh Madonna berucap seperti itu, masih dapat dianggap lumrah. Namun, kalau hampir setiap kali, di mana-mana, dan hampir setiap pemilik pemancar bertutur begitu, hal ini tentu melahirkan masalah.

Bayangkan, andai Anda seorang penggemar pemancar radio, bersua dengan seorang ahli kimia lantas ia mengko¬munikasikan pikiran dan perasaan dengan istilah-istilah dari dunianya, hal ini tentu menjemukan. Apalagi sean¬dainya Anda diandai-andaikannya seperti CO2NH3 atau barang kali sejenis sisa asam atau senyawa-senyawaan lain, Anda akan tiba pada suatu titik ambang kesabaran : diam, frustasi atau segera pergi meninggalkannya. Kecewa.

Begitu juga yang terjadi bila Anda sebagai pengge¬mar pemancar radio mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan menggunakan istilah-istilah di udara, orang lain dapat frustasi atau segera pergi meninggalkan Anda. Apalagi, bila setiap orang pun, lalu dianggap memiliki perasaan yang sama dengan perasaan Anda. Pada titik ini, meminjam istilah ahli jiwa Sigmund Freud, terjadi proyeksi.1

Kerap kali, penggemar pemancar radio bertutur terus dan bertutur terus tentang suka dukanya selama beravonturir di udara, menceritakan dunia di atas sana. Kalau cerita tentang dirinya sedih, ia berpikir bahwa orang lain pun akan sedih. Kalau ceritanya gembira, ia berpikir orang lain pun akan gembira. Padahal, menyedih¬kan, orang lain yang mendengarkan ceritanya tahu pun belum tentu mengenai pemancar radio.

Karena itu, penggemar pemancar yang melihat dunia hanya dari sudutnya boleh disebut picik. Ia tidak memili¬ki pandangan luas. Mata batinnya tak dilayangkan ke segala arah menjelajah cakrawala. Ia kurang mempunyai pengalaman. Ia tak dapat bertutur tentang dunia lukisan, dunia sastera, alam tari, dan dunia-dunia lain.

Sebab itu, dunianya tak bervariasi. Segala sesuatu hanya diungkapkan dari sudut pandang sendiri. Ia tak dapat membeda-bedakan situasi. Tidak dapat menangkap detail. Dunianya tanpa diferensiasi. Semua sama mirip ikan berenang di air : di mana-mana hanya melihat air dan air. Alamnya sangatlah epilepticus .Coraknya terbatas, tak mampu mengabstraksi isi dari hal-hal yang lahiriah dan kurang sanggup memberi bentuk kepada hidup yang membutuhkan ekspresi. Tidak ada intuisi dan ia tak mu¬ngkin ikut merasakan serta tak mungkin ikut mengalami apa yang dirasakan dan dialami orang lain.2

Persis Madonna. Ia tak memiliki empati. Ia tak mengerti perasaan saya. Meski telah berulangkali saya tunjukan sikap tak senang kepada dirinya setiap kali menggunakan “satu sudut” dalam setiap bertutur kata, ia masih tetap dengan gaya dunianya.

Karena itu perlu saya tegaskan, alam kehidupan Madonna memang sungguh dangkal, kasar, binal, dan primi¬tif. Kulit jiwanya sangat tebal, statis, tidak bergerak, tidak sensitif, visceus, dan hanya melekat pada lingkun¬gan sendiri.3 Nah, itu saja. Terus-terang, saya tiada sanggup melanjutkan kata-kata. Bagaimanapun, sebelum meninggalkan Lokal Orari Kemayoran malam itu, masih sempat ia melang¬kah perlahan. Lalu, masih dengan gerak yang seolah hendak memamerkan kejenjangan lehernya, ia berdiri di depan saya.Sejenak saya terpesona. Mamma Mia. Mamma Mia. Ada sesuatu yang terasa bergeletar di dada. Ada sesuatu yang terasa bergelora di sana. Sesuatu yang indah. Indah. Tapi,…“Kamu, ng…, kapan ke kibek? Lagi krodit, ya? Kalau gitu kirim QSL aja. Benar-benar terlalu, deh. Papi nanyain kamu terus, lho. Eh, kok manteng kayak sinyal?”

  1. Calvin S. Hall, Sigmund Freud, Suatu Pengantar ke Dalam Ilmu Jiwa, Sigmund Freud, terj., S. Tasrif, PT Pembangunan, Jakarta, 1980, h. 121-123.
  2. M.A.W. Brouwer, Psikologi Fenomenologis, PT Gramedia, Jakarta, 1983, h. 17-18.
  3. Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: