INTERLUDE BUAT DINAR

by 3senyuman

NAMA  saya  George. Kalau kamu  lupa,  saya  ingin  mengingatkan. Waktu itu, kamu sedang menghidupkan pesawat pemancar.  Meniup-niup mikrofon. Saya langsung  masuk  ke  frekuensimu.  Kamu saya panggil-panggil dan saya ingat, kamu tidak menggubris kedatangan saya. Masih saja meniup-niup mikrofon.

Saya  jengkel,  untung baru selesai  sholat.  Saya geregetan. Ya, Tuhan, gadis macam apa pula ini?

Saya  panggil-panggil  lagi kamu. Lagi  dan  lagi. Sampai  entah  mengapa, tiba-tiba  saja  kamu  menanggapi  panggilan saya.

“Hai,” sapamu singkat, “Siapa?”

“George, ini George. Roger,” cepat saya  menjawab, “di situ siapa?”

Kamu juga menyebutkan nama. Dinar. Namamu  Dinar. Dan,  kita  lantas semakin asyik berbicara.  Senang  hati   saya. Pam di dam di dam.

Sekitar seperempat jam kemudian, kamu mohon diri, “George, kita  berhenti dulu, ya. Aku  belum  mandi  dan  perut lagi keroncongan. Habis makan, ketemu di sini lagi, ya?. Roger….”

Saya, walau masih belum puas mengobrol dengan kamu, hanya bisa bilang, “Ya. Saya tunggu kamu.”

Saya  betul-betul menunggu. Lama betul.  menjelang dua jam, akhirnya, kamu muncul. Kita contact lagi. mengo­brol lagi. Senang lagi.

Saya  sungguh  senang mendengar suara  kamu.  Saya senang  tutur katamu. Pelahan-lahan bercerita, tertawa-tawa mengolok, dan setengah mendesah ketika ngedumel.

Kita bercerita ke sana-sini. Ada perasaan aneh yang tidak saya mengerti ketika saya mendengar penuturan­ mu. Apalagi, ketika kamu mengatakan telah memiliki  seor­ang pacar. Dada saya menjadi deg deg.

Namun,  saya tidak peduli. Apakah  ceritamu  benar atau  bohong, yang jelas saya terpesona ketika  mendengar kamu masih kuliah dan sambil bekerja. Kamu mengaku  kerja di  Pasar Raya. Terus terang saya suka. Saya suka caramu berterus terang. Meski hanya sebagai  penjaga  pakaian  anak-anak di sana, kamu katakan juga !

Jangan  heran.  Sungguh, itu  perasaan  saya  yang  sesungguhnya. Saya suka dengan seorang gadis yang percaya diri.  Lebih  suka lagi kalau kamu sedang  mempermainkan  kukumu.  Tik. Tik. Tik. Dan, mungkin tanpa  kamu  sadari, saya  kadang kala, menjadi terdiam bila  mendengar  suara   itu. Suara yang mengundang saya untuk melamunkan jemarimu yang lentik.

Waktu hampir dini hari, ketika kamu mulai  kehabi­san cerita, tentu kamu masih ingat ketika saya  bertanya,  “Dinar,  kamu  cewek, kan? Kalau saya boleh  nanya,  kamu ‘kan punya cowok. Kalau dia tahu kamu lagi ngebrik  begi­ni, apa dia nggak cemburu?”

“Cemburu? Wah, jangan coba-coba. Kalau nggak suka, berarti dia nggak percaya sama saya. Karena, kalau  habis  ngebrik  dan kenal sama cowok lain, termasuk kenal  kamu,   saya selalu cerita, kok sama dia. Jadi saya sudah  bilang  duluan.”

“Jadi  dia  tahu saya ngebrik dengan  kamu  setiap malam?”

“Roger, gitu.”

Lagi  dan lagi saya jadi suka dengan caramu.  Saya suka dengan caramu berterus-terang kepada pacarmu. Meski ada perasaan perih dan iri dengan keterusteranganmu  itu. Alangkah bahagianya pria yang mendapatkan dirimu.

Tapi, saya tidak peduli. Pokoknya, sampai pagi pun  saya  mau mojok sama gadis macam kamu. Sekali lagi  perlu  saya katakan, saya suka dengan cara kamu berterus terang. Akhirnya,  kita benar-benar mojok. Akhirnya, saya  tambah berani.

Kita semakin akrab. Saya berukur dapat  bertemu gadis sepeÐerti kamu. Tapi, saya juga kecewa, mengapa  saya  hanya  mengenal  suaramu? Kita hanya  dapat  saling  mem­bayangkan,  rambutmu  lurus, rambutku  keriting.  Kulitmu putih, Kulitku coklat. Tinggimu sekitar 160 Cm,  tinggiku sekitar 170 Cm. Tubuhmu kurus, tubuhku sangat kurus.

Karena itu, saya jadi ingin ketemu kamu. Tapi, jawabmu selalu mengecewakan, “Aku jelek, George. Nanti, kamu menyesal kalau tahu yang  sebenarnya.”  Dan,  kamu  selalu bilang, “Jangan. Nanti saja. Belum waktunya.”

Akhirnya, saya hanya dapat membayangkan. Hanya dapat  membayangkan. Saya jadi mengarang-ngarang  tentang  dirimu menurut khayalan saya.

Dinar,  minggu  lalu, hari Valentine.  Hari  kasih  sayang. Saya ingin merayakannya bersama kamu. Saya  telah  menyiapkan  kado untukmu. Tapi, semuanya  tidak  mungkin.  Dan sampai kini, rasa-rasanya tetap tidak mungkin.

Kamu  masih ingat, di saat kita  saling  bercanda,  ketika  mulai coba-coba merayu. Jam empat dini hari  saat  itu,  ketika  kamu  tidak mau  berpisah,  tiba-tiba saja  pesawat pemancarmu mati. Saya kebingungan. Apa yang telah  terjadi?

Saya memanggil-manggil namamu. Saya tunggu kamu. Saya  memanggil-manggil lagi. Tidak on the air. Sampai seperempat jam kemudian, sebuah sinyal hadir di  frekuen­si. Saya senang sekali. Saya pikir kamu. Ternyata tidak. Malah, yang  terdengar sebuah  suara  keras,  membentak-bentak, menyebut namamu.

“Eh,  jangan macam-macam lagi, ya!  Jangan  ganggu pembantu  kami. Setiap malam diajak  ngebrik. Sama-sama tidak  tahu diri. Dia namanya Jajah saja  mengaku  Dinar.  Kamu mengaku George. Aslinya siapa?

Dengar, nggak?

Saya majikannya! Jangan macam-macam!

Pemancar saya bukan untuk pacaran…”

Saya  terpana. Saya biarkan orang itu  menggerutu. Sesuka  hatinya. Saya tidak percaya. Sungguh, saya  tidak   percaya pada apa yang dikatakannya. Sejuta tanya berputar  di benak saya.

Tapi,  saya diam saja. Mendengarkan  tidak,  tidak mendengarkan  juga  tidak.  Saya  tetap  terpana.  Sampai  akhirnya ia berhenti sendiri.

Sungguh,  Dinar. Terus-terang,  saya  tidak  peduli  dengan  omongan orang itu. Tapi, mengapa sejak  itu  saya tidak pernah mendengar suaramu lagi? Kamu kemana? Mengapa perpisahan kita harus seperti itu?

Kalau  kamu memang bukan pembantu, hadirlah.  Saya ingin  kamu  membantah fitnah itu. Namun, kalaupun kamu seorang  pembantu,  apa salahnya? Saya siap menerimamu. Tidak  apa-apa. Yang penting, kamu  muncul. Perdengarkan suaramu, Dinar.

Saya kangen. Saya sudah mencari-cari kamu di semua frekuensi,  tapi  kamu tidak pernah  aya  temui.  Kenapa harus begini? Kamu seharusnya tidak perlu begini.

Tapi,  sudahlah.  Yang perlu  kamu  ketahui,  saya   sangat mengerti dengan keadaan dan perasaanmu. Bagi saya,    kamu tetap Dinar sebagai mana yang saya bayangkan.  Dinar  yang  kurus, berambut lurus, berkulit putih,  dan  tinggi 160  Cm.  Kamu tetap Dinar yang bekerja  di  Pasar  Raya, Dinar yang masih kuliah. Dinar yang tetap saya sukai. Ya, saya tetap suka dengan caramu berterus terang, Dinar. (Mohammad Fauzy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: