KOMUNIKASI-ILMU KOMUNIKASI

by 3senyuman

Definisi, Ruang Lingkup, Disiplin

Dalam pengertian  awam (umum) semua gejala interaksi yang melibatkan lambang-lambang (bahkan bermakna atau pun tidak) adalah komunikasi. Siapa pun, bahkan apa pun, yang terlibat itu adalah komunikasi. Dengan demikian, karakter komunikasi ibarat darah kehidupan, bahkan melintasinya: berada di mana pun, dilakukan siapa (apa) pun, dan dimensi apa pun. Orang berdoa kepada Tuhan adalah komunikasi.  Pelatih lumba-lumba melatih lumba-lumba adalah komunikasi. Si Neng Geulis bersimpuh di atas tanah merah, meratapi Mas Jokomono yang baru saja mati tertembak polisi karena demonstrasi adalah komunikasi. Dan… banyak lagi!

Keluasan itu memang tak terhingga (sebuah isyarat kebesaran Tuhan juga), sehingga tak mungkin terjangkau oleh kita, terutama saya. Seraya mengundang anda untuk mendiskusikan lebih lanjut paparan saya tentang komunikasi, saya pun akan berusaha membatasi diri pada disiplin ilmu sesuai dengan kemampuan saya yang terbatas: ilmuwan (bukan usahawan, rohaniawan, negarawan, dan wan-wan… yang lain!). Jadi, saya akan fokus ke bahasan ilmiah; Ilmu Komunikasi.

Ilmu sering disebut sebuah disiplin. Demikian juga Ilmu Komunikasi. Suatu kajian yang tidak berdisiplin maka tidaklah dapat dikatakan sebagai ilmu. Ilmu selalu membatasi diri dalam hal objek kajian. Dia fokus, obedience, tidak chaos. Maka, selalu muncul definisi. Definisi adalah batasan pengertian. Definisi adalah “pagar” ruang lingkup ilmu. Definisi adalah objek (materia maupun forma) ilmu. Jadi, meskipun Ilmu Komunikasi sering disebut sebagai ilmu yang “multydiscipliner approach”, tetap saja dia punya definisi, punya batasan, punya ruang lingkup! Sehingga, dia menjadi sebuah disiplin yang mandiri. Pendekantan multidisiplin tidak bisa ditafsirkan sebagai “tidak punya disiplin” atau “tak jelas disiplinnya” atau “boleh ngawur ke sana-kemari” melainkan terletak pada pijakannya saja.  Dia berpijak pada banyak disiplin/ilmu lain dalam epistemologi-nya.

Harapan saya, dengan batasan yang jelas, kita dapat memahami Ilmu Komunikasi sebagai ilmu yang mandiri sekaligus mendisiplinkan diri untuk tidak ngawur ke sana-ke mari. Sehingga, tidak mengaburkan Ilmu Komunikasi sebagai sebuah ilmu. Secara objektif pun kita dapat menghindarkan diri dari hal-hal yang sesungguhnya terbukti tidak dikaji fakultas/jurusan komunikasi di perguruan tinggi di mana pun.

Definisi Komunikasi dan Ilmu Komunikasi

Ada 126 definisi komunikasi yang dapat dikumpulkan oleh Frank Ex. Dance (1976) kemudian dikelompokkannya menjadi 15 ketegori komponen konseptual pokok. Dari semua (15) komponen pokok itu hanya beda titik tekan saja, kesemuanya mengisyaratkan komunikasi antar manusia.

Untuk keperluan diskusi kita ini –dari sudut (disiplin) ilmu tentunya–  komunikasi dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari manusia satu kepada manusia lain. Atau, proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari pihak satu kepada pihak lain (dengan catatan, dua pihak itu manusia). Jadi, ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari manusia satu kepada manusia lain.

Bila definisi itu diformulasikan ke dalam definition by negation menjadi sebagai berikut: Komunikasi sebuah proses peyampaian lambang-lambang yang bermakna bukan penyampain kado, kue, dan rumah; kecuali kado, kue, dan rumah itu dianggap sebagai lambang yang bermakna (lain). Dari manusia, bukan dari Tuhan, tumbuhan, atau hewan. Kepada manusia lain; bukan kepada kura-kura, eceng gondok, atau rumput yang bergoyang. Dari manusia kepada manusia.

Dengan demikian (dari sudut disiplin ilmu), pelatih lumba-lumba melatih lumba-lumba, bukanlah komunikasi. Seorang gadis jomblo berdoa di malam sunyi-sepi, seorang diri, meminta jodoh kepada Tuhan; bukanlah komunikasi. Si Neng Geulis yang bersimpuh di atas kuburan, meratapi dan “bicara pada” kekasihnya yang mati tertembak polisi ketika demonstrasi, bukan pula komunikasi. Apabila kita memasukkan hal tersebut ke dalam komunikasi, berarti kita tidak disiplin!  Dus, kita tidak lagi bicara ilmu.

Kenyataannya, di fakultas atau jurusan (ilmu) komunikasi di seluruh perguruan tinggi di dunia ini tidak pernah dikaji/diajarkan hal-hal tersebut. Di UIN atau di Al-Azhar sekalipun, dalam hal disiplin ilmu komunikasi, tidak diajarkan “doa-doa yang efektif”.  Dari Masrik sampai ke Maghrib, dari ujung dunia satu ke ujung dunia lain, dalam hal kajian ilmu komunikasi, tidak pernah dijarkan/dikaji “cara melatih lumba-lumba” atau cara bicara kepada khewan! Dari Chicago School sampai Frankfurter Skule, tidak ada dikaji/dipelajari cara “meratap di kuburan” atau cara bicara kepada orang meninggal/makhluk ghaib. Ada pun orang yang hanya bersandar pada Tuhan (taqwa), dalam perilaku komunikasinya berpengaruh, ya! Dia lebih santun, rendah hati, berahlak ketika berkomunikasi dengan orang lain. Jadi, bukan berarti, karena Psikologi, Sosiologi, dan Antropologi sebagai salahtiga (multydiscipliner approach) dari Ilmu Komunikasi lantas objek kajiannya juga merupakan objek kajian Ilmu Komunikasi. Bukan karena di tiap Fakultas/Jurusan Ilmu Komunikasi ada Matakuliah Agama, kemudian objek kajian agama menjadi objek kajian ilmu komunikasi pula! Cermati pula, Ilmu Komunikasi merupakan bagian dari ilmu-ilmu sosial. Ingat, sosial : masalah interaksi manusia dengan manusia lain. Ilmu-ilmu sosial mengkaji (objek formanya) manusia dalam rangka hubungannya dengan manusia lain. Demikian juga Ilmu komunikasi sebagai bagian dari ilmu sosial mengkaji (objek materianya) manusia dalam rangka hubungannya dengan manusia lain. Jadi bukan hubungannya dengan mahkluk lain atau Tuhan. Lalu bagaimana dengan istilah “komunikasi transendental” yang marak akhir-akhir ini? Apakah masuk ke dalam Ilmu Komunikasi? Takarlah dengan definisi dan disiplin Ilmu Komunikasi. Wallahualam bishawab!

Aa Bambang A.S.

8 Comments to “KOMUNIKASI-ILMU KOMUNIKASI”

  1. Makasih ilmunya ^ ^

  2. Sama-sama. Semoga bermanfaat dan berkah bagi kita. Aamien!

  3. pak bambang, saya murid bapak kelas 21a.. saya nggak ngerti tujuan komunikasi antar budaya memberikan kesempatan untuk mampu mempersepsikan dan memahami diri sendiri. maksudnya gimana ya pak? trimaksih ya pak..

  4. Maksudnya, dengan mempelajari komunikasi antar budaya, orang bisa melakukan introspeksi dan bercermin posisi dia dalam situasi sosial budaya yang demikian konpleks. Looking glass self, namanya. Semakin orang bergaul. semakin luas cakrawala, semakin tajam melihat diri sendiri. Oke Elisabeth? Sukses selalu, ya!

    AaBAS

  5. makashi banyak ya, Pak.. ^^

  6. pak bambang..pengen nyari tugas niy!!!!

    hehehehehehehhehe!!!mm..di mna ya???

  7. Ya. Yang rajin yaa biar ilmunya lengkap, gak sepotong-sepotong. Kalau sepotong sepotong berbahaya; bisa jadi penipu seperti penguasa!

  8. waaaaa….aq msh gak ngerti,mengenai gimana komunikasi it sebagai suatu disiplin ilmu????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: